
Ketika Aleena masuk ke dalam kamar, Juna merasakan ada sesuatu yang telah membuat istrinya sedih. Karena bisa di lihat, saat Aleena berjalan begitu tanpa semangat dengan menundukan wajahnya.
"Sayang, apakah ada sesuatu yang terjadi kepadamu?" tanya Juna terhadap Aleena saat istrinya kini berada di atas ranjang di samping dirinya.
"Tidak ada kok," jawab Aleena berbohong.
"Kamu jangan berbohong sayang! Aku tahu kamu pasti habis berantem sama adikmu kan?" tanya Juna dengan mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya.
Deg.
"Eh, ka-kata siapa?" tanya Aleena merasa terkejut, karena Juna mengetahui.
"Tentu saja kata aku, sudah kata siapa lagi? Tadi aku kesana mau menghampirimu, tapi karena aku lihat kamu dengan adikkmu bertengkar jadi aku kembali lagi ke kamar," ucap Juna sambil menatap istrinya.
"Oh, begitu jadinya."
"Sekarang coba ceritakan sama aku, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Sudahlah Juna jangan bahas permasalahan tadi aku malas banget."
"Iss kamu ini ya. Lagian, enggak salah dong jika aku ingin tahu permasalahan kalian? Siapa tahu aku bisa membantu kalian damai lagi."
"Emm ... Sebenarnya ini masalah tentang Veri," ucap Aleena kemudian menyenderkan kepalanya ke pundak suaminya.
"Tentang Veri? Emangnya ada hubungan apa dengan Veri? Jangan bilang, kalau kamu mencintai Veri."
"Iss sembarangan saja kalau bicara. Siapa juga yang mencintai dia, ogah banget sama pria yang hampir ingin memperkosaku! Lagi pula, sampai sekarang aku masih benci sama dia." gerutu Aleena dengan perasaan kecewa dan sedikit marah saat menginggat kejadian waktu di hotel.
"Kamu masih ada rasa dendam ya sama dia?" tanya Juna sambil menangkupkan dan menegakan wajah istrinya untuk saling menatap satu sama lainnya.
__ADS_1
"Tiba-tiba Aleena pun mendekatkan badannya ke arah Juna, kemudian memeluk suaminya dan menangis.
"Loh, kenapa kamu menangis sayang? Maaf aku tidak bermaksud membahas itu," ucap Juna merasa bersalah kemudian mengusap lembut rambut istrinya.
"Aku menangis, bukan karena masalah tapi ... hiks ... hiks... " Aleena mengantung ucapannya kemudian menangis kembali.
"Tapi kenapa sayang?" Tanya Juna menguraikan pelukannya, kemudian menatap wajah istrinya.
"Angel hiks ... hiks ... " Aleena kembali menggantung ucapannya.
"Angel? Emangya ada apa dengan Angel?" tanya Juna sambil mengerutkan keningnya karena merasa penasaran lalu mengusap airmata istrinya yang membasahi pipinya.
"Angel mulai jatuh cinta sama Veri." Jawab Aleena.
"Loh kok bisa, adikmu kenal sama si Veri?"
"Dia kan kerja disana," jawab Aleena.
"Heem." Aleena sambil menganggukan kepala.
"Terus, kenapa kamu menangisi adikmu karena jatuh cinta sama Veri? Apakah kamu cemburu?" tanya Juna merasa curiga.
"Iss siapa lagi yang cemburu! Aku enggak setuju saja, adikku bila menjalin hubungan sama si pria brengsek itu. Lagi pula kamu tahu sendiri si Veri sekarang kayak gimana? Aku enggak mau kalau sampai adikku dimanfaatkan dan hanya jadi pelampiasan saja. Apalagi Veri menceritakan tentang kita ke Angel bahwa kita ... " ucapan Aleena tergantung di udara, karena begitu berat ingin menjelaskannya kepada suaminya.
"Jelaskan yang benar dong sayang jangan digantung begitu. Veri menceritakan apa kepada Angel?"
Dengan segera Aleena pun menceritakan apa yang dikatakan adiknya langsung, saat adiknya curhat dan keceplosan ketika Veri membicarakan kejelekan Juna.
"Kurang ajar kamu Veri! Kamu bilang, kalau aku pria yang telah merebut kesucian Aleena? Emang iya, tapi Aleena kehilangan keperawannya karena kita sudah menikah. Aku harus pelajaran sama si veri brengsek itu!" geram Juna merasa marah dan tidak terima tuduhan Veri dengan mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Tahan emosimu sayang, kamu jangan main hakim sendiri! Kita harus pakai akal sehat, kita lihat saja permainan si Veri kayak gimana? Dan kita harus bisa membuat si Angel untuk tidak bekerja lagi disana."
Kemudian Veri pun menarik nafasnya lalu mengeluarkannya dengan kasar dan berkata,"baiklah, aku setuju. Jangan sampai si Veri melakukan hal yang tidak-tidak terhadap adikmu!"
"Setuju." Jawab Aleena,"ya sudah, aku ngantuk nih pingin tidur."
"Ya sudah sini tidur dipelukanku." Juna sambil mendekap tubuh istrinya.
"Ih kamu ini apaan sih, aku pingin tidur diatas ranjang bukan dipelukanmu." Protes Aleena sambil berusaha melepaskan tangan kekar suaminya yang melingkar dipinggangnya.
"Tapi aku menginginkanmu sayang? gimana dong."
"Tapi aku ngantuk banget, please sekali-"
Cup. Juna langsung mencium bibir manis istrinya yang kini sudah menjadi candu baginya, sehingga ucapan Aleena tergantung di udara. Kemudian Juna pun ******* lembut bibir Aleena serta menjelajahi setiap inci bagian tubuh istrinya. Karena hasratnya semakin membara dan sudah tidak tahan lagi, dengan segera Juna pun membuka pakaian istrinya satu persatu sehingga kini keadaan polos. Lalu membuka baju miliknya, sehingga kini sama-sama keadaan polos. Dengan segera Juna pun menyalurkan hasratnya dengan menyatukan penyatuannya terhadap istrinya, dan kini mereka pun sedang menikmati indahnya surga dunia.
bersambung ...
*yuk mampir karyaku yang lagi netas nih, tentang rumah tangga nih. Kasih dukungan dan kritik dan sarannya ya kak ...
blurn:
Suamiku, jika kamu bahagia bersamanya. Maka Izinkanlah aku pergi. Aku sungguh tidak sanggup bertahan seperti ini terus! Kamu sekarang sudah berubah, tidak seperti dulu lagi. Kamu sekarang melupakan kewajibanmu,memberikah nafkah dan batin kepadaku. Jika di rumah, tidak ada lagi surga untukku. Maka izinkanlah aku pergi dari hidupmu,agar kamu tidak menanggung dosamu karena kelalaianmu!
Akankah Chandra melepaskan Tika,saat istrinya meminta untuk pergi dari kehidupan suaminya? Atau justru Chandra mempertahankan Tika, dan berubah menjadi suami yang bertanggung jawab?
Atau kah, Tika akan memilih bersama hidup dengan Andrew dan menceraikan Chandra?
Yuk mampir, ceritanya disini .
__ADS_1