Aku Tidak Jelek(Your'E So Preetty)

Aku Tidak Jelek(Your'E So Preetty)
48. Khawatir?


__ADS_3

Aleena pun kini sudah sampai di meja makan. Lalu menatap seluruh ruanganya, tetapi tidak menemukan keberadaan suaminya.


'Kemana lagi itu orang? Masa iya, sudah malam gini pergi keluar demi menemui mantan kekasihnya. Ck, sungguh lucu sekali' gerutu Aleena.


"Bi, Juna kemana ya? Kok saya tidak lihat keberadaan dia, dari tadi."


"Emangnya, Tuan Juna tidak kasih Nona ya?" Tanya Bi Sri.


"Tidak Bi, lagian tadi saya masih tidur Bi." Jawab Aleena.


"Oh gitu ya Non. Tuan lagi ada di ruangan kerja Non." ucap Bi Sri.


"Di ruang kerja? yang benar saja Bi. Bukannya Juna pergi keluar ya."


"Kata siapa Non, Tuan Juna pergi keluar? Tuan, ada di ruangan kerja kok."


Ehemz ... suara deheman seseorang datang menghampiri Aleena dan Bi Sri.


"Tuh Tuan Juna, Non. Baru saja datang." Ucap Bi Sri sambil menatap majikannya berjalan menuju meja makan.


"Emangnya ada apa Bi?" Tanya Juna.


Kemudian Aleena pun memberikan kode kepada bi Sri, dengan mengerlipkan matanya.


"Loh Non Aleena kenapa, kok matanya kerlilipan begitu?" Tanya Bi Sri.


Kemudian Juna pun menatap Aleena. Dan dengan terpaksa Aleena pun harus menjawab perkataan bi Sri.


"Ini Bi, mata saya kena debu nih. Pedih banget. Minta tiupin nih matanya Bi." Ucap Aleena berbohong.


"Oh, baiklah Non."


"Enggak usah Bi, biar saya saja yang niupin mata Aleena."


"Emangnya siapa yang menyuruhmu untuk meniup mataku? Saya nyuruh bi Sri untuk meniup mataku, bukan kamu."

__ADS_1


"Ck, galak benar punya istri." Gerutu Juna.


"Ya sudah, sini Non sama Bibi tiupin matanya." Ucap Bi Sri.


Kemudian bi Sri pun meniup mata Aleena.


"Gimana Non, sudah tidak pedih lagikan?" Tanya Bi Sri.


"Iya tidak kok Bi, terima kasih Bi."


"Iya sama-sama Non." Jawab bi Sri.


"Oya Bi, tadi Bibi belum menjawab perkataan saya. Emangnya tadi ada apa Bi?" Tanya Juna.


Kemudian Aleena pun, mengerlipkan matanya kembali kepada bi Sri.


"Non, matanya masih pedih ya?" Tanya bi Sri.


Kemudian Juna pun, menatap Aleena kembali.


bi Sri, tidak peka banget ya maksud saya apaan. Kan bisa gawat kalau bi Sri, menceritakan kalau saya nanyain Juna. Bisa kepede'an tuh orang batin Aleena merasa gemas dengan bi Sri.


"Kirain Bibi, mata Nona masih pedih! Oya Tuan, tadi Non Aleena nanyain Tuan." Ucap bi Sri.


"Emangnya benar ya Bi, kalau Aleena nanyain saya tadi?" Tanya Juna sambil menatap Aleena.


"Iya benar Tuan. Malahan Non Aleena berpikir-"


"Sudahlah Bi, jangan diperjelas yang tadi. Nanti Tuan Juna, malah jadi sombong dan kepede'an lagi. Sekarang Bibi kembali lagi bekerja." Ucap Aleena memotong pembicaraan bi Sri.


"Baiklah Non.Ya sudah kalau begitu Bibi permisi dulu."


"Iya Bi." Jawab Aleena.


"Ck, kenapa tidak jujur saja kalau kamu mengkhawatirkanku."

__ADS_1


"So kepede'an sekali dirimu hah, Saya cuma menanyakan saja. Lagian kan, kamu itu anak orang. kalau kamu mati gimana? Kan sungguh mengenaskan, mati karena belum makan malam hhaha." Tawa Aleena.


"Ucapanmu benar benar ngaco ya Aleena. Mana ada, orang mati karena belum makan malam. Sungguh, ngawur benar ini orang." Gerutu Juna sambil menatap sinis Aleena.


"Kan kalau masalah mati, tidak ada yang tahu kan? Siapa tahu, nanti kamu mati karena belum makan malamkan."


"Ih ini orang benar-benar kurang ajar ya. Mau mendoakan saya mati hah?" Juna sambil menatap tajam Aleena.


"Yaelah kamu ini, malah berprasangka buruk sama saya. Kan saya cuma bilang m-i-s-a-l alias misal!" Tegas Aleena.


"Perasaan tadi, kamu tidak berbicara begitu kok."


"Ih ya ampun, tadi saya berbicara begitu. Ini orang benar-benar lupa ya."


"Saya tidak lupa Aleena. Makanya saya protes, karena kamu bicara semaumu."


"Sudahlah Tuan Juna yang terhormat, kita disini mau makan. Bukannya saling berdebat nih. Capek tau enggak berantem mulu." Gerutu Aleena.


"Kamu pikir, saya tidak capek berantem hah? Sama, saya juga." Ucap Juna.


"Makannya kita stop berdebat! saatnya kita makan malam." Aleena sambil mengalaskan makanannya beserta menunya.


"Sekalian punya saya." Ucap Juna dengan datar.


"Iss, ambil saja sendiri. Bukannya punya tangan sendiri ya."


"Aleena ... saya ini suamimu. Jadi kamu wajib melayani hak sebagai seorang istri."


"Baiklah." Jawab Aleena sambil mengalaskan untuk suaminya.


Setelah beres mengalaskan makanan beserta menunya. Kini mereka pun, sedang menikmati makan malamnya tanpa ada yang berbicara diantara mereka.


Juna masih menyimpan rasa kesalnya terhadap Aleena, karena ucapan Aleena tadi. Sedangkan Aleena hanya biasa- biasa saja, tanpa merasa bersalah.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2