
Siang menjelang sore. Kini mereka masih menikmati indahnya pemandangan yang berada di bukit puncak Bogor. Mereka menikmati indahnya pemandangan dengan penuh tawa, canda dan pastinya saling menjahili satu sama lainnya sehingga suasana menjadi rame.
"Gimana kamu suka kan, Aleena?" Tanya Veri yang kini sedang duduk berdua disebuah Villa bersama Aleena.
"Iya Tuan, suka sekali. Apalagi suasana adem dan sangat indah sekali pemandangannya." Ucap Aleena sambil menatap Veri.
"Ya sudah kalau emang kamu suka, nanti saya akan selalu ajak kamu kesini." Ucap Veri.
"Tapi tidak sering juga kali, kan bosen kalau tiap hari kesini mulu. Kalau bisa dua minggu sekali kesininya Tuan." Protes Aleena.
"Baiklah jika maunya begitu. Tapi kalau saya ajak kamu main ke negara lain tiap hari gimana, Pasti maukan?" Tanya Veri.
"Tentu saja Tuan mau hehehe. Tapi mustahil Tuan, mana ada satu hari langsung meluncur ke negara tujuan dan terus bergantian ke negara lain dalam satu hari. Kan sangat tidak mungkin Tuan!" Ucap Aleena.
"Emang iya apa yang kamu katakan Aleena, itu sangat mustahil. Lagian saya cuma bercanda kok." Veri sambil tersenyum.
"Ih Tuan tidak lucu tahu, sangat menyebalkan sekali." Gerutu Aleena sambil mencubit pinggang Veri.
__ADS_1
"Aww, sakit Na. Kamu benar benar ya jadi orang, barbar banget ya." Veri sambil menatap Aleena.
"Yaela Tuan, masa cuma mencubit pinggang doang disebut barbar sih. Mana ada yang kayak gitu. Tidak ada Tuan." Gerutu Aleena.
Ehmzz.... "Lagi ngapain sih, kayaknya rame dan asyik banget ya." Ucap Vir yang tiba tiba datang menghampiri Veri dan Aleena.
"Biasa lagi ngobrol Vir, sama wanita barbar nih." Ucap Veri.
"Ih Tuan, fitnah sekali. Saya bukan wanita barbar Tuan. Tapi saya ini wanita galak yang akan memangsa siapa saja yang menyakitiku." Canda Aleena sekilas menatap Juna dan kawan kawannya berjalan menuju Villa.
"Sama saja kali itu namanya wanita barbar." Gerutu Veri.
"Bisanya cuma ngadu yang ini orang. Tapi kalau mereka menjawab iya, maka kamu harus siap siap hukumannya harus mau dicium sama saya." Ucap Veri sambil menatap Aleena.
"Iss hukuman apaan itu Tuan, mana ada hukumannya kayak begitu. Tuan benar benar ngaco ya." Gerutu Aleena sambil melangkah pergi.
"Eh Aleena, kamu mau kemana? Licik sekali dirimu menghindari hukumanku hah?" Teriak Veri.
__ADS_1
"Saya mau ketoilet dulu Tuan." Jawab Aleena.
Ck, ada ada saja itu orang. Ternyata lucu dan menggemaskan sekali Aleena Santika ucap Veri sambil tersenyum dan menggelengkan kepala sambil menatap Aleena pergi dari villa.
Tanpa tidak disengaja, ketika Aleena berjalan meninggalkan villa tiba tiba saja terjatuh karena jalanan licin yang diakibatkan karena hujan lebat kemarin.
Aahhh.... teriak Aleena saat berjalan, tiba tiba licin dan terjatuh. Namun seseorang datang menyelamatkan Aleena, sehingga Aleena dengan selamat tidak terjatuh ke bawah tanah.
Deg. Hati Aleena pun tiba tiba berdencang begitu cepat. Aleena pun tidak tahu, ada apa dengan dirinya sehingga membuat perasaannya begitu tak menentu dengan seseorang yang kini menolongnya. Kini mata hitam mereka saling bertemu dan menatap satu sama lainnya.
Ehmz.... suara deheman Riki, menyadarkan lamunan Aleena dan seseorang yang menolong Aleena.
"Eh maaf, dan terima kasih sudah menolong saya." Ucap Aleena sambil berdiri dan pergi dari pria yang menolongnya dengan berjalan terburu buru.
Lalu seseorang tersebut hanya tersenyum, sambil menatap kepergian Aleena.
Disisi lain pun, ada dua orang pria merasakan terbakar panasnya api cemburu.
__ADS_1
Bersambung.