
"Aleena...." panggil Reni sambil memeluk Aleena. "Maafkan aku Na. Gara gara aku memaksamu untuk ikut ke Club, kamu jadi begini." Ucap Reni sambil mengeluarkan airmatanya karena merasa bersalah.
"Kenapa ini bisa terjadi Aleena? Dan bagaimana bisa, Juna melakukan hal seperti itu." Geram Veri merasa marah dan tidak terima, orang yang kini dicintainya harus kehilangan kesuciannya.
"Saya juga tidak tahu Tuan, kenapa ini bisa terjadi. Saya hanya ingat ketika itu kepalaku pusing, dan setelah itu saya tidak tahu apa yang terjadi hiks hiks." Ucap Aleena sambil mencoba mengingat ingat kembali.
"Kurang ajar Juna Prakasa! Kenapa kamu melakukan hal seperti ini, lihat saja pembalasanku." Veri sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Sudahlah Tuan, Ren, ayo kita masuk ke dalam. Tidak enak sama orang lain, kalau mereka dengar." Ajak Aleena sambil menguraikan pelukannya.
Kemudian mereka pun masuk ke dalam rumah.
"Apa rencanamu Aleena, untuk membalas dendam terhadap si pria brengsek itu." Tanya Veri sambil menatap Aleena yang kini berada di ballroom.
"Entahlah Tuan, saya juga tidak tahu. Mungkin yang pasti saya akan meminta pertanggung jawaban terhadap Tuan Juna!" Ucap Aleena.
Uhuk.... uhuk....
"Tuan, baik baik sajakan?" Tanya Reni, saat Veri tiba tiba batuk begitu saja.
"Iya saya baik baik saja kok. Tidak tahu kenapa, tiba tiba tenggorokanku merasa gatal." Ucap Veri sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Ada ada saja, Tuan ini." Gerutu Reni.
"Oya Aleena, maksud kamu tadi mau meminta Juna untuk menikahi kamu iya, begitu?" Tanya Veri.
__ADS_1
"Iya Tuan. Karena dia sudah mengambil kesucianku, maka Tuan Juna harus bertanggung jawab! Lagian...." ucapan Aleena sengaja di gantung lalu menundukan kepalanya.
"Lagian kenapa Aleena?" Tanya Veri sambil menatap Aleena.
"Iya maksudnya, lagian mana ada orang yang akan mau menerima saya yang tidak suci lagi Tuan." Jawab Aleena dengan raut wajah yang sangat kecewa.
Kemudian Veri pun menatap sejenak Aleena. Ada rasa kasihan terhadap Aleena, dan rasa marah kepada sahabatnya yang tega kini merebut kesucian Aleena.
"Aleena, saya mau kok menerima kamu apa adanya." Ucap Veri sambil memegang kedua tangan Aleena.
Deg. Aleena pun merasa tersentuh dengan ucapan Veri. Bagaimana bisa, Veri menerima dirinya yang tidak suci lagi. Apalagi Veri seorang Ceo, yang seharusnya pantas memiliki wanita yang masih suci.
"Kenapa Kamu diam saja, Aleena." Tanya Veri kepada Aleena.
"Eh, iya Tuan. Maaf Tuan, saya tidak bisa." Ucap Aleena sambil melepaskan tangan Veri yang memegang tangannya.
"Tapi saya tidak bisa Tuan. Juna yang melakukan hal ini, jadi dia yang harus bertanggung jawab bukan Tuan. Enak sekali Tuan Juna, kalau dia tidak menikahi saya. Dia yang merebut kesucianku, jadi saya tidak akan membiarkan Tuan Juna pergi tanpa pertanggung jawaban." Aleena sambil menatap Veri.
"Baiklah, jika memang itu terbaik buat kamu. Saya hanya bisa mendukung keputusanmu, Aleena." Veri sambil tersenyum dengan terpaksa.
Sebenarnya Veri tidak rela jika Aleena harus menikah dengan Juna. Apalagi Veri sudah dari dulu menyukai Aleena, tapi belum berani mengatakan perasaannya. Ada rasa penyesalan, kenapa tidak dari dulu mengatakannya. Dan ada rasa benci dan dendam terhadap Juna, sahabat Veri sejak kecil.
Tok.... tok.... tok.... suara mengetuk pintu.
"Siapa itu, Aleena?" Tanya Reni sambil menatap Aleena.
__ADS_1
"Mana saya tahu Ren, coba kamu buka pintunya sana Ren." Perintah Aleena.
"Baiklah, saya buka pintunya dulu ya Na." Reni sambil berjalan menuju pintu.
Saat berjalan menghampiri pintu, betapa terkejutnya Reni saat tahu siapa yang datang.
"Siapa Ren?" Tanya Aleena, sambil berteriak.
Kemudian Reni pun tidak menjawab perkataan Aleena. Reni tidak tahu harus menjawab apa, karena yang pasti orang yang ada dihadapannya adalah orang yang sudah merebut kesucian Aleena.
"Minggir, saya masuk!" Ucap Juna, sambil mendobrak tubuh Reni untuk masuk ke dalam.
"Iss menyebalkan sekali dia itu, main masuk saja." Gerutu Reni sambil menatap Juna yang kini tiba tiba masuk ke dalam rumah.
"Hei Aleena, apa ka-" ucapan Juna terputus saat menatap Aleena yang kini sedang bersama Veri.
Kemudian, Aleena pun merasa terkejut saat seseorang menyebut namanya. Bagaimana bisa Juna mengetahui tempat tinggalnya Aleena, padahal selama ini Aleena belum pernah mengajak Juna ke rumahnya.
"Tuan Juna?" Ucap Aleena merasa terkejut.
Pok.... pok.... pok.... Veri pun bertepuk tangan.
"Kebetulan sekali, dia datang kesini. Tanganku sudah gatal nih, pingin memukul seseorang yang kini sudah merebut kesucianmu, Aleena." Ucap Veri sambil beranjak dari sofa. Kemudian berjalan menghampiri Juna.
Bersambung....
__ADS_1
***jangan lupa tinggalkan jejak ya kak. dan terima kasih yang sudah mampir🙏.