
"Maaf sayang, aku bukan maksud membunuhmu! Habisnya aku merasa gemas kepadamu. Lagi pula, aku ingin menjelaskan siapa wanita itu tapi kamu malah terus memotong pembicaraan terus," ucap Juna sambil menatap istrinya.
"Emangnya mau jelasin apa? Aku sudah tahu kok kalau dia-"
"Dia adalah orang yang akan membantu Bapak dalam pembelian lahan!" ucap Juna dengan segera memotong pembicaraan istrinya.
"Aku enggak percaya!"
"Ya ampun, ini orang benar-benar ya menggemaskan sekali," gerutu Juna sambil mencubit pipi istrinya.
"Aww, Juna .... sakit tahu!" pekik Aleena merasa kesal terhadap suaminya.
"Habisnya kamu membuat aku gemas tahu! Ayo, ikut aku!" Juna sambil menarik tangan Aleena berjalan menuju keluar dari kamarnya.
"Eh, mau kemana?" tanya Aleena saat dirinya ditarik dengan paksa.
"Jangan banyak bicara, ayo ikut aku!"
Aleena pun terpaksa, mengikuti langkah Juna saat dirinya terus di tarik oleh suaminya.
"Kamu mau ngapain bawa aku kesini?" bisik Aleena terhadap suaminya saat sudah berada di ballroom lalu menatap orangtuanya yang sedang mengobrol dengan Imel sang notaris.
"Aku sengaja bawa kamu kesini, biar kamu enggak salah paham!" ucap Juna dengan keras.
"Jangan keras-keras kalau bicara Juna ..." Aleena sambil mencubit pinggang Juna.
"Aww, sakit tahu!" ringis Juna sambil mengusap punggungnya.
"Eh kalian berdua ada disini ternyata," ucap bu Sofi saat menyadari kehadiran Juna dan Aleena. "Sini Nak duduk disini," bu Sofi sambil menepuk kursinya untuk di duduki oleh putrinya.
Lalu Aleena pun berjalan menghampiri Ibunya dan Juna pun berjalan mengikuti istrinya dan duduk di samping istrinya.
"Nak, kamu sudah tahu kan siapa dia?" tanya bu Sofi sambil menata putrinya yang kini berada di sampingnya.
"Iya Aleena tahu kok, kalau dia selingkuhan Juna kan?" ucap Aleena sambil memalingkan wajahnya dengan malas.
__ADS_1
"Iss ini anak bicara sembarangan saja ya! Jadi kamu mau ya, kalau si Juna punya istri lagi dan kamu pingin di madu begitu?" bu Sofi merasa marah dengan perkataan putrinya.
"Ya ampun Ibu, siapa lagi yang mau ih. Amit-amit aku mau di madu. Lagi pula Aleena menjawab begitu karena kesal saja," ucap Aleena sambil menatap sinis Imel.
"Kamu cemburu ya?" goda Juna kepada Aleena sambil merangkul pundak istrinya.
"Iih ... apaan sih, siapa lagi yang cemburu? Ini orang so tahu banget ya," gerutu Aleena mencoba melepaskan tangan suaminya yang merangkul pundaknya. Namun sayang tenaganya tidak sebanding dengan Juna, sehingga Juna pun tetap merangkul pundak istrinya.
"Bilang saja cemburu Neng, so munafik ah bilang enggak cemburu," ucap bu Sofi mencoba menggoda putrinya.
"Ih apaan sih, Ibu kok malah membela Juna bukannya membela putrinya sendiri! Asal Ibu tahu ya, kalau Juna sudah selingkuh membawa wanita lain kesini. Tidak tahu malu banget ya dia datang-datang sebagai pelakor," gerutu Aleena sambil menatap sebal Imel.
Imel yang di tatap oleh Aleena pun hanya tersenyum dan menggelengkan kepala melihat kelakuan Aleena.
'Ini orang kenapa ya, kelihatannya biasa saja ya? padahal aku sudah sindir dia. Ini orang benar-benar ya tidak tahu malu' gumam Aleena di dalam hati sambil menatap tidak suka Imel.
"Ya ampun Nak, kamu sudah salah sangka sama Imel loh," ucap Pak Aji sambil menatap putrinya.
"Bapak kenal dia?" tanya Aleena kepada pak Aji.
"Apakah benar Bu, apa yang dikatakan oleh Bapak?" tanya Aleena kepada Ibunya.
"Iya benar Nak! Imel akan membantu Bapak dalam pembelian lahan. Lagi pula, kalian kan akan pulang sekarang ke Jakarta bukan?" ucap bu Sofi.
"Oh jadi begitu ya Bu," Aleena sambil tertunduk karena malu. "Maaf ya Mbak, aku sudah menuduh Mbak yang tidak-tidak," Aleena meminta maaf dan merasa tidak enak hati.
"Iya tidak apa-apa kok," jawab Imel sambil tersenyum.
"Sekarang sudah tahu kan, siapa dia?" tanya Juna sambil menatap istrinya.
"Iya sudah tahu kok. Lagian, aku tadi cuma pura-pura saja menuduh dia selingkuhan kamu."
"Bohong!"
"Iss, emang benar aku bohong hahha ..." tawa Aleena.
__ADS_1
"Enggak lucu tahu!"
"Sudah, kalian jangan berantem mulu! Oya, jam berangkat kalian akan berangkat ke Jakarta?"
"Sekarang Bu," jawab Juna sambil menatap Ibu mertuanya. "Maaf ya Bu, Juna tidak bisa lama-lama tinggal disini. Soalnya di kantor ada rapat penting dengan para pengusaha Bu, Pak."
"Iya tidak apa-apa kok Nak, Ibu sama Bapak mengerti kok." bu Sofi sambil tersenyum terhadap menantunya.
"Terima kasih ya Bu, Pak, sudah mengertiin saya."
"Iya Nak."
"Ibu sama Bapak enggak usah khawatir, ada Imel yang akan membantu dalam membeli lahan sawah." ucap Juna.
"Iya Nak. Terima kasih atas semuanya ya Nak," ucap pak Aji.
"Iya sama-sama Pak, Bu! Ya sudah, saya permisi pamit mau berangkat sekarang." ucap Juna.
"Iya silahkan Nak,"
"Maaf ya Bu, Pak, Aleena harus kembali ke Jakarta. Dan tidak bisa lama tinggal disini."
"Iya tidak apa-apa kok Nak, lagian itu sudah kewajiban seorang istri harus mengikuti suaminya." ucap bu Sofi.
"Iya Bu. Ibu sama Bapak, baik-baik disini ya, dan selalu jaga kesehatan." ucap Aleena.
"Iya pastinya Nak. Oya Ibu lagi menunggu seorang cucu nih, apakah sudah ada diperutmu?" tanya bu Sofi sambil mengusap perut Aleena yang masih datar.
"Doakan saja Bu, semoga secepatnya di kasih momongan Bu. Lagian, Juna juga lagi berusaha setiap hari selalu melakukannya. Semoga saja, mulai ada benih Junior di perut Aleena." ucap Juna sambil menatap bu Sofi.
"Baguslah kalau begitu. Jangan dikasih kendor, pepet terus hhaha," ucap Pak Aji lalu tertawa.
"Ih Bapak bicara apaan sih, Sudah ah Aleena pamit dulu ya Bu, Pak, mbak Imel." Aleena mencium punggung tanggannya. Begitu pun juga dengan juna sama, mencium tangan punggung orangtuanya.
Aleena dan Juna pun pergi dari kediaman rumah orangtuanya, lalu masuk ke dalam mobil. Setelah semuanya sudah siap, dengan segera Juna pun pergi menuju Jakarta.
__ADS_1
bersambung....