
Keesokan harinya.
Suasa makan sarapan pagi pun begitu terasa mencengkram saat diantara kedua wanita cantik saling diam, tanpa berbicara sama sekali di antara mereka.
Bukannya Aleena marah atau kesal terhadap Adiknya, tetapi Aleena sengaja mendiamkan Angel karena dari tadi adiknya menatap Aleena dengan jeleus.
"Angel ... " panggil Juna memberanikan diri.
"Iya, kenapa kak," jawab Angel sekilas menatap Juna lalu kembali makan lagi.
"Apakah benar, kalau kamu bekerja di PT. Alaska?" tanya Juna sambil menatap Angel.
"Iya. Emangnya kenapa?" tanya balik Angel terhadap Juna.
"Enggak apa-apa cuma nanya saja kok." Jawab Juna kemudian tersenyum terhadap Angel."Oya Angel, kak Juna cuma ingin ingatkan kamu supaya tidak terlalu mempercayai ucapan Veri."
"Loh emangnya kenapa kalau aku mempercayai dia? Lagi pula ya, Tuan Veri itu baik kok tidak seperti apa yang kalian pikirkan." Angel kemudian menatap kakakknya.
"Iya itu karena kamu belum kenal dekat siapa Veri sebenarnya," Aleena ikut menimpali.
__ADS_1
"Kenapa sih kak, kayaknya kakak enggak suka banget ya kalau nanti Tuan Veri jadi milikku? Salah ya, bila aku jatuh cinta sama orang yang telah membuatku nyaman dan selalu mengistimewakan aku," ucap Angel sambil menatap tidak suka Aleena.
"Enggak salah sih, tapi dia bukan pria yang baik untukmu Angel!" tegas Aleena.
"Alasan! Bilang saja, kalau kakak juga mencintai Tuan Veri dan terpaksa menikah dengan kak Juna, karena keperawanan kakak sudah di ambil sama dia kan? Apakah kak Juna pantes di sebut sebagai pria baik hem? Tidak kan, dia pria brengsek!" ucap Angel sambil menatap tajam Aleena.
"Jaga ucapanmu Angel! Apa yang di katakan kamu itu tidak benar, aku tidak seperti apa yang di katakan Veri." Juna balik membalas tatapan tajam terhadap Angel,"dan asal kamu tahu, kalau Veri-"
Ucapan Juna tergantung saat tiba-tiba Angel memotong pembicaraannya dam berkata,"sudahlah aku pusing mendengar ucapan kalian. Dan aku sudah tahu kalau kalian sengaja mengadu dombakan yang jelek-jelek tentang Tuan Veri supaya aku menjauhi dia kan? Dan asal kalian tahu ya, sampai kapan pun aku tidak akan menjauhi Tuan Veri. Aku akan melakukan cara supaya Tuan Veri bisa jadi milikku. Walaupun kalian tidak setuju, aku tidak peduli." Angel sambil beranjak dari tempat makannya dan pergi meninggalkan Aleena dan Juna.
"Angel ... kamu itu benar-benar gila ya hem, pria seperti dia tidak pantas kamu dapatkan!" Teriak Aleena sambil menatap punggung adiknya.
Angel pun tidak memperdulikan perkataan Aleena, Angel malah terus berjalan menuju keluar.
"Sabar sayang, tahan emosimu," Juna mencoba menenangkan istrinya.
"Aku enggak bisa sabar, kalau si Angel nekat seperti itu. Aku takut terjadi sesuatu nanti terhadap adikku."
"Terus apa yang harus kita lakukan dong? Adikmu kayaknya sudah benar-benar gila karena si Veri," ucap Juna sambil menatap istrinya.
__ADS_1
"Enak saja adikku di bilang gila, si Angel masih waras tahu!" gerutu Aleena.
"Ya ampun kamu sendiri bilang dia gila, makanya aku jawab kalau si Angel emang benar-benar sudah gila tuh."
"Iya tapi bukan gila dalam artian tidak waras, tapi-"
"Karena si Angel sudah di buta kan hatinya, dan menganggap kalau si Veri baik, tersegalanya dan apa yang di katakan kita salah dan di anggap mengadu dombakan dia!"
"Nah betul tuh, aku juga tidak tahu bagaimana caranya agar si Angel sadar kalau si Veri itu pria brengsek."
"Sudahlah sayang, kamu jangan banyak dipikirin tentang adikmu. Kita akan cari cara untuk menjauhkan adikkmu dengan si Veri, tetapi nanti ya sayang soalnya aku harus berangkat kerja nih sudah siang," ucap Juna sambil menatap istrinya.
"Iya silahkan Ju-"
"Sayang, panggil sayang! kamu sudah janji akan memanggilku sayang semalam."
"Iss ... iya sayang."
"Nah gitu dong, aku berangkat dulu ya," pamit Juna.
__ADS_1
"Heem," jawab Aleena.
Kemudian Juna pun mencium lembut pucuk rambut istrinya, lalu pergi meninggalkan Aleena dan berjalan menuju mobil miliknya.