
"Hei Aleena .... " ucap seseorang berjalan menghampiri Aleena, yang kini sedang duduk sendiri di meja makan.
"Eh Tuan Veri?" Aleena merasa terkejut, saat mengetahui orang ya kini menghampirinya dan duduk disampingnya.
"Kenapa Na, kok terkejut begitu sih?" tanya Veri sambil menatap Aleena, "Oya Na jangan panggil Tuan, panggil saja Veri sekarang. Lagian sekarang kamu bukan bawahanku lagi," ucapan Veri sambi tersenyum.
"Tidak kenapa-napa kok. Baiklah Tuan, eh Veri," jawab Aleena dengan tersenyum miring.
"Oya Na, kamu sendirian saja disini nih?" tanya Veri sambil menatap Aleena.
"Tidak kok, bareng sama Juna kesini nya," jawab Aleena datar.
"Oh. Oya tumben banget sama si Juna kesininya. Sudah akur kah, sekarang dengan si Juna?" tanya Veri sambil menatap Aleena yang kini sedang asyik dengan handphonenya.
"Emangnya salah ya, bila kesini sama suami sendiri? Iya apa yang di katakan kamu itu emang benar, saya sama Juna sudah akur sekarang. Saya sama Juna, tidak kayak dulu lagi yang suka saling balas dendam dan saling membenci," ucap Aleena menatap Veri kemudian kembali lagi asyik dengan handphonenya.
__ADS_1
"Oh, baguslah kalau gitu," ucap Veri.
Dari hati Veri sebenarnya ada rasa sakit hati saat Aleena, berbicara seperti itu. Sebenarnya ada rasa tidak rela Aleena dan Juna kini sudah saling memaafkan, serta sudah menerima satu sama lainnya.
"Heem," jawab Aleena dengan datar tanpa menatap Veri.
"Aleena, kamu itu kenapa sih sekarang jadi berubah? Apa saya pernah berbuat salah terhadapmu?" tanya Veri sambil menatap Aleena yang masih asyik dengan handphone nya.
Aleena pun tidak menjawab perkataan Veri, lalu menatap Veri sebentar kemudian kembali lagi dengan handphone nya.
"Sudahlah sekarang kamu pikir saja sendiri, apa salahmu dan apakah kamu sudah menyakitiku!" jawab Aleena.
"Aleena, saya benar-benar tidak mengerti. Apa salahku padamu? Memangnya, saya telah menyakitimu hah? Perasaan saya belum pernah menyakitimu Aleena," ucap Veri sambil menatap Aleena.
"Ck, kenapa sih kamu tidak pernah berkata jujur sama saya? Apa salahku padamu? Kenapa kamu tega melakukan ini semunya terhadapku. Apakah saya dimatamu begitu rendah hah?" tanya Aleena sambil menatap tajam Veri.
__ADS_1
"Aleena, saya sungguh tidak mengerti. Maksud kamu apa berbicara begitu?" tanya Veri pura-pura tidak tahu.
"Ya ampun, kenapa sih kamu masih berpura-pura tidak tahu hah? Kenapa kamu tega sekali melakukan ini sama saya. Kenapa kamu malah hampir ingin memperkosaku ketika saya pingsan hah? Kenapa kamu lakukan ini sama saya, kenapa Veri ....," Aleena tiba-tiba meneteskan airmatanya yang membasahi pipinya.
"Aleena, maafkan saya. Lagian, saya tidak bermaksud seperti itu. Saya benar-benar hilaf Aleena." ucap Veri sambil memegang kedua tangan Aleena.
"Lepaskan tanganku Veri. Saya tidak mau mendengar apapun alasanmu. Lebih baik, kamu pergi dari sini!" Aleena sambil menghempaskan tangan Veri dengan kasar.
"Aleena, saya mohon sama kamu. Saya benar-benar minta maaf, lagian-"
"Saya bilang sekali lagi sama kamu, stop! Saya tidak mau mendengar alasanmu Veri. Saya benar-benar kecewa dan tidak menyangka kenapa kamu lakukan itu hiks hiks. Kenapa sih, orang yang selalu membantu saya dan selalu ada buat saya, tega melakukan ini hah? Padahal kamu itu, sudah anggap seperti kakakku sendiri," ucap Aleena memotong pembicaraan Veri dan sambil menatap Veri.
"Kamu bilang, kalau saya sudah di anggap seperti kakakmu? Kamu itu salah Aleena, harusnya kamu itu jadikan saya sebagai suamimu, bukan si Juna brengsek itu Aleena!"
Bersambung...
__ADS_1