
Kini Juna pun semakin bergairah, saat Olin menuntut ciumannya dan menggigit lembut leher Juna sehingga meninggalkan bekas memar di lehernya. Lalu dengan segera Juna pun, mendorong tubuh Olin sehingga tersungkur ke belakang. Karena Juna tidak mau sampai melampaui batas dengan Olin.
"Kamu itu, benar benar gila ya Juna. Kenapa kamu mendorongku." Geram Olin sambil menatap Juna.
"Lagian ini tidak boleh terjadi Olin, tidak boleh." Juna sambil mengelengkan kepala.
"Loh kenapa tidak boleh? Bukannya kamu juga menikmatinya."
"Karena kamu yang memancingku duluan Olin puspita. Sekarang juga, saya minta kamu keluar dari sini!" Perintah Juna sambil menunjuk jari tangannya ke arah pintu keluar.
"Kamu ini kenapa sih Juna, kenapa kamu malah mengusirku hah?" Olin sambil menatap tajam Juna.
"Saya bilang sekali lagi sama kamu, keluar dari sini!" Bentak Juna.
"Kamu itu benar benar ya Juna. Sekarang kamu sudah berubah, dan aku sangat kecewa sama kamu." Olin sambil mengambil tas nya dari meja kerja Juna, kemudian berjalan menuju pintu keluar dan pergi meninggalkan Juna sendiri.
Arrggh.... teriak Juna merasa kesal dengan perbuatannya barusan. 'apa yang sudah saya lakukan barusan! Kenapa saya sampai terbawa menikmatinya. Semoga saja, Aleena tidak mengetahui tentang kejadian ini. Bisa berabe masalahnya kalau Aleena, mengetahui semua ini.' Juna sambil menghembuskan napas kasarnya.
Kemudian Juna pun, kembali menuju kursi kerjanya untuk menanda tangani berkas berkas lagi. Kemudian, Juna pun menatap jam tangannya sebentarnya.
'Kemana Aleena? Sudah hampir setengah jam, dia belum kembali lagi kesini. Benar benar ya itu anak.' Gerutu Juna.
Tiba tiba Ben pun masuk ke dalam ruangan.
"Oya Ben, apakah kamu melihat Aleena?" Tanya Juna sambil menatap Ben.
"Aleena? emmz.... tadi kebetulan saya lihat, kalau Aleena berjalan menuju keluar dari perusahaan ini Tuan." Jawab Ben.
"Apa? Yang benar saja, Aleena pergi dari perusahaan ini tanpa izin dulu sama suami sendiri. Benar benar, itu anak semakin melunjak." Gerutu Juna. Kemudian mengambil handphone nya untuk menghubungi Aleena. Tapi sayangnya nomor handphone punya Aleena tidak aktip.
'Kemana itu lagi anak, kenapa nomor handphone nya tidak aktip segala lagi. Saya harus segera membereskannya ini dulu, kemudian mencari Aleena.' Juna bicara pada diri sendiri.
__ADS_1
.
.
Kini Aleena pun berada di sebuah taman sedang menikmati indahnya suasana taman, dan menghirup udara segar yang ada di taman dengan pepohonan yang hijau dan asri. Tiba tiba Aleena pun masih terpikirkan kejadian antara suaminya dan mantan kekasihnya.
'Kenapa dengan diriku ini? Kenapa harus dipikirin sih, tentang kejadian tadi Aleena. Lagian kenapa dengan hati ini, kok tiba tiba merasa sakit dan tidak terima ya. Berarti tadi pagi, yang di ucapkan Juna terhadapku bohong. Katanya aku orang yang sangat dia cintai dan sayangi. Tapi mana buktinya dia malah.... Ah tidak, ngapain harus di ingat- ingat lagi Aleeena. Kan aku jadi tambah benci sama suami sendiri' gerutu Aleena sambil melempar batu kecil ke sembarangan arah. Dan tiba tiba batu yang di lempar Aleena, tepat mengenai seseorang.
"Siapa yang melempar batu ini woy...." teriak seseorang merasa kesakitan.
'Waduh gimana ini? kenapa apes sekali bisa mengenai seseorang. Aku harus segera pergi dari sini.' Aleena sambil berjalan pelan layaknya seorang pencuri. Setelah itu, Aleena dengan segera berlari kencang.
Karena merasa terburu-buru, Aleena pun menabrak tubuh seseorang dengan tidak sengaja.
"Maaf Tuan, saya benar benar tidak sengaja." Ucap Aleena sambil membungkungkan badannya tanpa menatap seseorang tersebut.
"Iya tidak apa apa Aleena." Jawab seseorang tersebut.
Aleena pun merasa terkejut saat mendengar suara yang tidak asing baginya. Lalu menatap seseorang tersebut.
"Iya Aleena, ada apa hah?" Tanya Veri.
"Tidak ada apa Tuan hehe. Cuma mau minta maaf saja, saya tidak sengaja." Jawab Aleena cengengesan.
"Emangnya ada apaan hah, sampai jalan terburu buru begitu." Tanya Veri lagi.
"Tadi saya habis...." ucap Aleena langsung membisikan ke telinga Veri. "Begitu Tuan, ceritanya hehe."
"Kurang ajar banget ya, kamu jadi orang." Veri sambil memijit hidung mancung milik Aleena.
"Aww Tuan, sakit tahu." Gerutu Aleena sambil mengusap hidungnya.
__ADS_1
"Sorry Na hehe. Kamu kesini sama siapa Aleena?" Tanya Veri.
"Sendirian Tuan." Jawab Aleena.
"Loh kok sendirian, suami kamu kemana?" Tanya Veri.
"Dia lagi ke kantor dulu, katanya ada berkas berkas penting yang harus di tanda tangani. Jadi saya main saja sendiri kesini." Ucap Aleena.
"Oh, terus sekarang kamu mau kemana?" Tanya Veri.
"Mau pulang ke rumah."
"Ya sudah, ayo saya antar pulang Aleena."
"Boleh juga Tuan." Jawab Aleena.
Kemudian Veri dan Aleena pun berjalan menuju mobil milik Veri. Setelah keduanya berada di dalam mobil, dan sudah siap. Dengan segera Veri pun menjalankan mobilnya. Di dalam mobil seperti biasa mereka selalu bercanda dan Aleena selalu menanyakan tentang kemajuan di pt. Alaska group.
Mobil Veri pun, tiba tiba harus berhenti dijalan karena ada lampu merah.
"Aduh, kenapa mataku." Ringis Veri sambil mengucek matanya.
"Kenapa Tuan?" Tanya Aleena merasa panik.
"Ini mataku tiba tiba pedih, kayaknya ke masukan debu nih Na." Jawab Veri.
"Ya sudah, sini saya tiupin matanya Tuan."
Kemudian dengan segera Veri pun mendekatkan wajahnya ke wajah Aleena. Dan dengan segera Aleena pun, meniup mata Veri.
Tanpa mereka sadari ternyata ada seseorang yang memperhatikan mereka dari dalam mobil. Seseorang tersebut melihat Aleena bersama Veri seakan akan sedang berciuman. Lalu seseorang tersebut merasa marah dan kemudian mengepalkan ke dua tangannya.
__ADS_1
Bersambung....
*** jangan lupa\, tinggalkan jejak ya kak😊