
"Karena apa Aleena?" Tanya Veri sambil menguraikan pelukkannya.
"Karena Tuan Juna mengancamku, Tuan hiks hiks." Jawab Aleena sambil menangis.
"Apa, Tuan Juna mengancammu?" Tanya Veri merasa terkejut dan tidak percaya.
"Iya Tuan." Jawab Aleena sambil menganggukan kepala.
"Jadi ini alasan kamu mau menikah dengan si Juna brengsek itu, karena dia mengancammu begitu." Tanya Veri.
"Iya Tuan hiks hiks." Aleena sambil menangis.
"Emangnya, ancaman apa yang akan dilakukan oleh si pria brengsek itu Aleena." Ucap Veri sambil menatap Aleena.
Kemudian Aleena pun berjalan mengambil handphonenya dari meja, lalu memberikan handphone tersebut kepada Veri.
"Maksudnya, apa kamu memberikan handphone kepadaku?" Tanya Veri sambil mengerutkan keningnya merasa tidak mengerti.
"Tuan bisa lihat, ancaman Juna lewat chatting tersebut." Jawab Aleena.
Kemudian dengan segera Veri pun, membuka handphone Aleena dan merasa terkejut dengan ancaman Juna kepada Aleena.
Shitt.... umpat Veri merasa geram dengan ancaman Juna. "Dasar pria brengsek! Bajingan kamu Juna. Tega sekali kamu mengancam seperti itu." Gerutu Veri merasa tidak terima dan tidak rela jika Aleena menikah karena ancaman.
"Sudahlah Tuan, sekarang kita tidak bisa melakukan apa apa. Lagi pula, Tuan Juna bukanlah lawan yang mudah untuk Tuan hadapi." Ucap Aleena sambil menatap Veri.
Arrgh.... teriak Veri merasa kesal dan marah atas prilaku Juna.
__ADS_1
"Lagi pula, Tuan tidak usah khawatir dengan saya. Ketika saya menikah dengan Tuan Juna, saya akan diam diam melakukan balas dendam kepada Tuan Juna. Terhadap apa yang sudah dia lakukan terhadapku." Ucap Aleena sambil tersenyum penuh arti.
"Serius, Aleena?" Tanya Veri sambil menatap Aleena.
"Iya tentu saja saya serius Tuan. Sejak kapan saya berbohong terhadap Tuan." Ucap Aleena membalas tatapan Aleena.
"Baguslah kalau begitu Aleena. Kamu memang pintar Aleena." Ucap Veri sambil tersenyum.
Ehmz.... ehmzz.... "serius banget sih ngobrolnya. Sampai peluk satu sama lain lagi." Sindir Reni.
"Kata siapa, tidak kok." Ucap Aleena sambil menatap Reni.
"Aku getok nih kepalamu pakai palu, kalau kamu bohong nih." Gerutu Reni.
"Iss sadis bener nih orang. Lagian tadi aku khilap Ren," ucap Aleena.
"Kamu mau makan?" Tanya Aleena sambil menatap Reni.
"Bukan mau mandi! Tentu saja mau makan, kamu ini gimana sih Aleena." Gerutu Reni.
"Oke, aku masak dulu nih special buat kalian berdua." Ucap Aleena.
"Emangnya bisa masak ya?" Tanya Reni.
"Tentu saja bisa. Sudah kalian tunggu disini, biar aku masak dulu." Ucap Aleena sampai berlalu pergi ke dapur.
"Emangnya Aleena bisa masak ya?" Tanya Veri kepada Reni.
__ADS_1
"Entahlah Tuan, saya tidak tahu Tuan." Jawab Reni.
"Ya sudah kalau begitu, saya mau menyusul Aleena ke dapur untuk mastiin apakah Aleena benar bisa masakkah." Ucap Veri.
"Ya sudah sana Tuan." Jawab Aleena.
Kemudian Veri pun pergi ke dapur, untuk memastikan Aleena dan pingin tahu sehebat apa Aleena di dapur kalau lagi masak.
Ehmzz.... suara deheman Veri.
"Eh Tuan Veri." Ucap Aleena, saat tidak asing lagi dengan suara Veri.
"Emangnya, kamu bisa masak ya?" Tanya Veri sambil menatap Aleena yang kini sedang mengiris daun bawang.
"Tentu saja Tuan bisa. Setiap hari saya suka masak kok." Aleena sambil menatap Veri.
"Gitu ya, emangnya kamu mau masak apa Aleena?" Tanya Veri.
"Mau masak yang simple saja, nasi goreng pakai daging, telur terus juga pakai sambelnya Tuan." Ucap Aleena.
"Boleh juga tuh, kayaknya enak banget." Veri sambil menatap Aleena.
"Tentu saja Tuan. Ya sudah tuan tunggu saja di meja makan, tidak lama kok cara memasaknya." Ucap Aleena.
"Oke, baiklah. Saya tunggu masakanmu." Veri sambil pergi menuju meja makan.
"Baik Tuan." Ucap Aleena sambil memulai untuk membikin nasi gorengnya.
__ADS_1
Bersambung.