
"Tidak kok Nak, malahan uang yang suka kamu berikan buat Ibu sama Bapak sudah cukup kok Nak. Malahan suka ada sisanya, dan Ibu selalu menabungkan uang tersebut," ucap Pak Aji sambil menatap putri semata wayangnya.
"Terus kenapa Bapak meski harus kerja dong? Harusnya Bapak diem saja di rumah." Aleena sambil memegang tangan pak Aji.
"Habisnya, Bapak tidak biasa diem dirumah terus Nak. Kamu tahu sendiri, Bapak selalu bekerja. Jadi ketika ada yang nawarin Bapak bekerja sebagai petani, ya Bapak terima tawaran itu. Lumayankan, dari pada diem di rumah terus."
"Pak, harusnya masa tua Bapak itu menikmati dan duduk santai di rumah tanpa harus bekerja keras pak! Disini ada Aleena, saatnya Aleena membalas semua jasa yang telah Bapak dan Ibu berikan kepada Aleena selama ini. Walapun Aleena tidak mungkin bisa membalas Jasa Bapak, Ibu yang begitu besar. Yang penting Aleena bisa membahagiakan Bapak sama Ibu dimasa tua," ucap Aleena sambil tersenyum terhadap Bapaknya.
Pak Aji pun tersenyum terhadap anak mata sewayangnya. Ada perasaan bahagia, bagaimana bisa anaknya sampai bisa berpikir sedewasa itu.
"Ternyata kamu sekarang sudah dewasa ya Nak. Terima kasih Nak, sudah mau menjadi tulang punggung untuk Bapak dan Ibu," ucap pak Aji sambil tersenyum terhadap Aleena.
__ADS_1
"lya pak. Lagian, itu sudah kewajiban Aleena sebagai seorang anak. Maafkan Aleena ya Pak, belum bisa membahagiakan Bapak sama Ibu. Dan Aleena juga belum bisa membalas semua jasa yang telah Bapak dan Ibu lakukan buat Aleena dan Angel."
"Jangan berbicara seperti itu Nak. Lagian, apa yang selalu kamu berikan buat Bapak sama Ibu sudah cukup kok. Oya, gimana Angel sekarang disana?" tanya Bu Sofi.
"Angel bilang katanya mau melamar pekerjaan Bu sekarang. Padahal Juna sudah ngasih tawaran untuk bekerja di perusahaannya. Tetapi Angel menolak dan bilang pingin mandiri tanpa bantuan kita. Ya sudah, Aleena nurutin saja kemauan Angel Bu," jawab Aleena sambil menatap Ibunya.
"Ya sudah biarkan saja, jika keinginan adikmu seperti itu. Lagi pula Angel sudah dewasa, pasti bisa menjaga diri dan bisa membedakan mana yang benar dan yang salah," ucap Bu Sofi sambil tersenyum.
"Iya Bu."
"A-apa?" Pak Jai merasa terkejut dengan perkataan istrinya.
__ADS_1
"Kenapa Pak? Pasti sangat tidak percaya dan tidak yakinkan, kalau menantu kita memberikan hadiah untuk Bapak," tanya Bu Sofi sambil menatap suaminya.
"Iya Bu. Lagian, kenapa harus repot-repot Nak membeli lahan sawah. Lagian, Bapak dengan hidup sederhana dan apa adanya juga sudah bersyukur kok," ucap Pak Aji sambil menatap menantunya.
"Sudahlah pak, jangan banyak menolak! Lagian, saya melakukan hal seperti ini demi masa tua Bapak dan Ibu hanya diam saja di rumah. Dan biarkan orang lain yang bekerja di lahan sawah Bapak nanti," Juna sambil berjalan menghampiri Bapak mertuanya.
"Ya ampun Nak, engkau begitu baik sekali. Apa yang harus Bapak lakukan untuk membalas semua kebaikanmu? Bapak cuma hanya bisa berdoa saja, semoga rezekimu semakin berlimpah dan perusahaanmu semakin berjaya dan berkembang pesat," ucap pak Aji.
"Lagi pula, saya tidak butuh balasan apa-apa dari Bapak kok. Dengan Bapak mendoakan saya, Juna sangat berterima kasih kepada Bapak atas doanya. Juna ini kan, menantu Bapak. Anggaplah, Juna sebagai anak Bapak juga."
"Pasti Nak, bakal menganggap kamu sebagai anak Bapak juga kok." jawab pak Aji.
__ADS_1
"Berarti kalau Juna sekarang sudah di anggap sebagai anak Bapak, bukan suami Aleena lagi dong. Tetapi sebagai kakak Aleena, iya kan?" ucap Aleena.
"Aleena .... " ucap pak Aji, bu Sofi dan Juna bersamaan sambil menatap Aleena dengan tatapan yang mematikan.