
"Oh, jadi dia seorang notaris yang akan menyelesaikan dalam pembelian lahan sawah ya Nak Juna?" tanya pak Aji kepada menantunya, saat Juna menjelaskan siapa wanita yang berdiri disampingnya.
"Iya benar Pak. Soalnya saya harus segera pulang sekarang karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan, dan maaf Juna tidak bisa menemani Bapak," ucap Juna sambil menatap mertuanya lalu tersenyum.
"Iya tidak apa-apa kok Nak Juna, Bapak ngerti kok. Bapak ucapkan terima kasih banyak kepadamu Nak, dan maaf Bapak tidak bisa membalas atas semua kebaikanmu Nak," pak Aji merasa tidak enak hati.
"Jangan bicara seperti itu pak, kayak sama siapa saja. Saya kan menantu Bapak, jadi enggak ada salahnya dong Pak bila saya memberikan hadiah untuk Bapak. Maaf ya Pak, Juna hanya bisa memberikan lahan sebanyak itu dan tidak bisa memberikan lebih dari itu," ucap Juna sambil menatap mertuanya.
"Ya ampun Nak, kenapa berbicara seperti itu. Kamu memberikan lahan sawah seluas 100.000 hektar itu luas banget. Bapak saja kaget pas awal kamu berbicara seperti itu. Bapak tidak menyangka punya menatu yang baik banget, selain itu tampan juga pintar dan kaya," puji pak Aji.
"Ah Bapak bisa saja kalau bicara. Makasih atas pujiannya pak. Enggak menyesalkan punya menantu seperti saya?" tanya Juna sambil menatap mertuanya.
"Tentu saja tidak Nak, ngapain harus menyesal? Justru Bapak bersyukur punya menantu sepertimu," ucap Pak Aji.
"Thanks pak. Oya pak, Juna ke kamar dulu ya mau nyamperin dulu Aleena kayaknya dia salah paham deh pak."
"Iya silahkan Nak," jawab pak Aji.
Dengan segera Juna pun beranjak dari kursi ruang tamu meninggalkan pak Aji dan Imel sang Notaris lalu berjalan menuju kamar dimana istrinya berada.
__ADS_1
'Sebenarnya, siapa sih wanita itu? Tega sekali si Juna membawa wanita lain ke rumahku, benar-benar brengsek Juna! Lihat saja kalau dia itu istri siri mu, aku akan menceraikanmu Juna!' hiks ... hiks... guman Aleena terisak menangis lalu mengambil tisu yang berada di depannya dan mengusap ingusnya lalu di buang ke sembarangan arah.
'Kalau di lihat-lihat aku sama wanita itu cantikan aku, terus aku ini pintar juga cerdas. Lalu kenapa si Juna malah mencari istri lain lagi! Sebenarnya si Juna maunya apa sih, dan mau cari istri kayak gimana lagi? Benar-benar ya, si Juna brengsek! Aku benci kamu Juna, aarggh .... teriak Aleena beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju jendela yang berada dikamar.
Seseorang pun masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu. Kebetulan Aleena tidak mengunci pintu kamarnya. Kemudian berjalan menghampiri istrinya yang kini sedang berada di pintu jendela kamar.
"Kamu sedang apa sayang?" tanya Juna lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Aleena.
__ADS_1
"Lepaskan tanganmu itu, Juna!" Aleena mencoba melepaskan tangan Juna yang melingkar dipinggangnya.
"Aku tidak akan melepaskannya. Lagian kamu itu kenapa sih? Kamu cemburu ya, dengan wanita tadi?" tanya Juna kemudian menarik pinggang istrinya, sehingga kini mereka saling berhadapan. Dan jaraknya begitu sangat dekat.
"Ka-kata siapa? Aku enggak cemburu kok. Mana mungkin aku cemburu sama dia, lagi pula aku sama dia jauh berbeda, cantik aku lagi." Aleena menyombongkan diri.
"Jangan bohong, aku tahu kamu habis menangiskan? Lihat tisunya berserakan sekali dimana-mana, kamu itu jorok ya. Asal kamu tahu ya, wanita itu-"
"Aku sudah tahu kok, kalau wanita itu selingkuhan kamu kan? Kamu benar-benar brengsek ya Juna, aku benci kamu," Aleena memotong pembicaraan suaminya dan memukul dada bidang suaminya.
"Aleena, kamu itu sudah salah paham! Wanita itu bukan seperti apa yang kamu pikirkan, dia-" ucapan Juna terputus saat Aleena memotong pembicaraannya.
"Sudahlah Juna, aku tidak mau mendengarkan penjelasan kamu lagi! Aku tahu kalau dia-"
Ucapan Aleena pun tergantung di udara\, saat tiba-tiba benda kenyal mencium bibir mungil Aleena. Juna pun terus ******* bibir istrinya dengan lembut\, kemudian Juna pun mengigit bibir bawah istrinya sehingga Aleena membuka mulutnya dengan segera lidah Juna pun masuk ke dalamnya dan kini mereka saling menukar saliv*anya satu sama lain. Setelah merasa cukup puas dan Aleena merasa kehilangan nafas\, dengan segera Juna pun melepaskan pungutannya. Lalu mengusap bib*r istrinya yang berantakan dan bengkak karena ulahnya.
"Kamu benar-benar gila ya Juna! Kamu mau membunuhku ya hah!" bentak Aleena sambil menatap Juna.
bersambung ...
__ADS_1