
"Ka-kak Aleena, lagi ngapain disini?" tanya Angel dengan gugup karena merasa terkejut, saat kakaknya ada di restoran.
"Tentu saja, aku lagi makan disini. Emangnya, kamu pikir kakak lagi ngapain disini hah?" tanya Aleena.
"Siapa tahu saja, kakak ikutin Angel disini." Jawab Angel.
"Enggak ada kerjaan banget ya, kakak ikutin kamu." Aleena sambil menatap sinis Veri.
"Terus kakak mau ngapain, nyamperin Angel ke sini?" tanya Angel.
"Tenti saja, kakak ingin menegurmu." jawab Aleena.
"Menegurku? Memangnya kakak pikir, aku anak kecil apa? Pakai ingin menegur segala. Memangnya, aku sudah melakukan kesalahan apa sama kakak?" tanya Angel sambil tersenyum sinis.
"Ya ampun Angel, kamu itu bodoh ya hah? Masa kamu tidak merasa bersalah sih?" tanya Aleena terhadap adiknya.
"Merasa bersalah? Memangnya, apa salah Angel sama kakak?" Angel bertanya lagi, karena tidak mengerti maksud kakanya itu, apaan.
"Punya adik kandung, benar-benar ya. Maksud kakak itu, kakak mau menegur, kamu itu apa-apaan sama Veri, pakai cium tangan segala, mana tadi merangkul pundakmu lagi, si pria brengsek ini." Aleena sambil menatap tidak suka Veri.
"Lho kenapa emangnya? Wajar dong kak, karena kita kan, sudah resmi jadian."
"A-apa? Maksudnya, kamu pacaran sama dia gitu?" tanya Aleena terhadap adiknya.
"Iya kak. Kenapa emangnya Kak?"
__ADS_1
"Kakak tidak setuju, kamu menjalin hubungan dengan dia." Aleena menatap tajam Angel.
"Kenapa kak Aleena tidak mengizinkanku berhubungan dengan Tuan Veri?" tanya Angel sambil menatap tajam Aleena.
"Karena dia bukan pria yang baik! Makannya kakak tidak menyetujuinya."
"Kak Aleena bilang, kalau dia bukan pria baik? Menurutku Tuan Veri, pria baik kok. Bilang saja, kalau kak Aleena enggak rela kan, bila Tuan Veri jadi milikku? Dan kakak pasti menyesalkan karena tidak memilih Tuan Veri, iya kan?"
"Angel, kamu itu kalau bicara jangan ngaco ya. Kakak tidak pernah menyimpan perasaan sama dia! Bagi kakak, dia dulu sudah ku anggap sebagai sahabat. Karena cinta kakak hanya untuk Juna, ya walaupun dulu sempat membenci Juna, tapi rasa cintaku tidak pernah pudar terhadap dia," ucap Aleena sambil menatap suaminya.
"Maaf sayang," lirih Juna, kemudian memeluk istrinya. Ada perasaan salah saat mengingat masa lalunya.
"Sudahlah itu kan, masa lalu. Sekarang saatnya fokus menuju masa depan bersama anak kita." ucap Aleena sambil tersenyum terhadap suaminya, dan mengusap perutnya.
"Iya sayang, aku hamil." Jawab Aleena.
"A-apa, hamil?" ucap Veri dan Angel merasa terkejut, dengan perkataan Aleena.
"Serius sayang, kamu benar-benar hamil?" tanya Juna merasa tidak percaya.
"Tentu saja seriuslah, aku benar-benar hamil kok," Aleena kemudian mengambil tespeck di tasnya, lalu memberikannya terhadap Juna.
Juna pun merasa terkejut, dan merasa tidak percaya. Juna pun langsung memeluk istrinya kemudian mencium bibir istrinya sekilas dan keningnya, merasa bersyukur dan berterima kasih terhadap istrinya.
"Kalo mau bermesraan sana di rumah tuh, jangan disini. Tidak tahu malu banget ya," gerutu Angel sambil menatap kesal Aleena dan Juna.
__ADS_1
"Jaga bicaramu Angel! Kamu jangan kurang ajar ya sama kakakmu. Kamu dengar barusan kalau kakakmu sedang hamil." ucap Juna sambil menatap tajam adik iparnya.
"Terus?" tanya Angel.
"Kenapa kamu berubah jadi begini Angel? Apakah Veri telah menghasutmu?" tanya Aleena sambil menatap tidak suka Veri.
"Kamu jangan salah paham Aleena, aku enggak pernah kok menghasut adikmu." ucap Veri sambil menatap Aleena.
"Bohong! Kalau kamu memang tidak menghasut adikku, kenapa bisa Angel berubah jadi gini?"
"Sudahlah sayang, jangan ladeni mereka. Biarkan sajalah mereka sesuka hatinya. Dan biar kan saja adikmu tahu rasa, siapa Veri yang sebenarnya." ucap Juna sambil menatap istrinya.
"Tapi-" ucapan Aleena terputus saat Juna memotong pembicaraanya.
"Sudahlah sayang, ayo kita pulang. Kamu jangan terlalu banyak pikiran, dan tidak boleh stress, apalagi karena dia." ucap Juna sambil menatap kesal Veri.
"Oke, baiklah." ucap Aleena, lalu menarik napasnya dan membuangnya dengan perlahan.
Aleena dan Juna pun dengan segera pergi meninggalkan Angel dan Veri berdua. Sebenarnya Aleena tidak rela bila adiknya harus menjalin hubungan dengan Veri, tapi adiknya tetap keras kepala. Aleena pun lebih memilih mengalah dari pada harus berdebat dengan adiknya.
'Aleena hamil? Bagaimana ini, pupus sudah harapanku untuk mendapatkan Aleena? benar-benar tidak percaya, secepat itukah Engkau kasih seorang bayi terhadap Aleena? Ini sungguh tidak adil' batin Veri sambil menatap Aleena yang kini sedang berjalan menuju parkiran mobil. Ada perasaan sakit hati dan kecewa yang kini Veri rasakan.
*****
Maaf ya kakak semuanya, saya lama buanget ya updatenya. Sebenarnya ini belum tamat kok, saya lagi hiatus saja sama novel ini karena bed mood😅. sekarang sudah baik nih moodnya dan akan saya lanjutin lagi novelnya.😊
__ADS_1