
"Gimana Tuan, tidak pedih lagi kan?" Tanya Aleena saat sudah selesai meniup mata Veri.
"Sekarang sudah tidak pedih lagi kok Aleena. Terima kasih Aleena, sudah meniupi mata saya." Ucap Ariff.
"Syukurlah kalau begitu Tuan. Iya sama sama Tuan," jawab Aleena sambil tersenyum.
Kemudian lampu merah pun berganti menjadi lampu hijau, pertanda kalau mobil bisa di jalankan lagi. Dan Veri tersenyum penuh arti, saat melihat seseorang lebih dulu menjalankan mobilnya.
kayaknya bentar lagi bakal ada perang dingin di antara mereka. Saya yakin Juna pasti bakal salah paham dan mengira kalau saya sama Aleena berciuman. Tapi baguslah, ini baru rencana awal Juna prakasa. Saya tidak akan membuat kamu bahagia bersama Aleena. Saya akan melakukan cara, agar kamu dan Aleena tidak bisa bersatu selamanya batin Veri sambil tersenyum penuh arti.
"Oya Tuan, kenapa tadi Tuan ada di taman?" Tanya Aleena.
"Tadi mau nganterin si Amoy ke bandara, eh tiba tiba di minta berhenti di taman. Katanya dia bilang, 'kakak tidak jadi di anterin sama kakak biarkan kekasih Amoy saja yang nganterin ke bandara'. Kan ngeselin banget ya, punya adik. Malahan harus nemenin dia lagi di taman, menunggu kekasihnya c gemoy itu." Gerutu Veri merasa dengan adiknya.
"Sudah yang sabar Tuan. Lagian begitulah kalau punya adik, pasti bakal meminta untuk menemani. Karena baginya, kitalah satu satunya orang yang pasti tulus dalam keadaan apapun setelah orang tua kita."
"Lagian apa yang kamu ucapkan, benar juga Aleena." Veri sambil tersenyum.
**Aleena dan Veri pun, kini sudah sampai di rumah kediaman Juna. Dengan segera Aleena pun, keluar dari mobil Veri.
"Terima kasih Tuan, sudah mengantar saya sampai rumah." Ucap Aleena.
__ADS_1
"Iya sama sama Na. Ya sudah kalau begitu, saya pamit pulang dulu ya Aleena."
"Loh tidak mau masuk dulu Tuan?" Tanya Aleena.
"Tidak Aleena, terima kasih sudah menawariku masuk. Lagian hari ini saya ada rapat." jawab Veri.
"Oh. Ya sudah tidak apa apa Tuan. Hati hati di jalannya Tuan."
"Iya Na, terima kasih. Saya pamit dulu ya."
"Iya silahkan Tuan." Jawab Aleena.
Kemudian dengan segera Veri pun menjalankan mobilnya, dan pergi meninggalkan Aleena. Setelah mobil Veri sudah jauh, dengan segera Aleena pun masuk ke dalam rumah.
Kemudian Aleena pun, tidak memperdulikan ke beradaan Juna. Aleena tetap memilih terus berjalan menuju kamar.
"Aleena, kamu dari mana saja?" Tanya Juna yang kini berjalan menghampiri Aleena.
Namun Aleena pun tidak menjawab perkataan Juna, dan lebih memilih terus berjalan menuju kamar.
"Aleena, kamu kenapa tidak menjawab perkataanku." Juna sambil mencengkram tangan Aleena untuk menahan, agar Aleena tidak pergi.
__ADS_1
"Aww, sakit sekali tanganku. Lepasin tanganku Juna!" Bentak Aleena. Kemudian Juna pun dengan segera melepaskan tangannya yang mencengkram lengan tangan Aleena. "Saya tadi sudah di taman." Jawab Aleena.
"Jangan bohong kamu, Aleena. Lalu kenapa kamu bisa bersama Veri?" Tanya Juna.
"Secara kebetulan tadi juga Tuan Veri ada disana. Sudahlah Juna, saya lagi tidak ingin berdebat dengan kamu."
"Kamu bohongkan Aleena."
"Ya ampun, kamu itu tidak percaya sekali ya. Kalau tidak percaya tanya saja sama Tuan Veri langsung." Ucap Aleena sambil menatap sinis Juna.
"Lalu apa yang sudah kamu lakukan dengan Veri, Aleena!" Geram Juna merasa kesal dan marah saat mengingat kejadian tadi antara Aleena dan Veri.
"Maksud kamu apa? Perasaan saya sama Tuan Veri tidak melakukan apa apa kok."
"Kamu jangan bohong Aleena. Saya tahu apa yang sudah Veri lakukan terhadapmu. Kamu murahan banget sih Aleena, mau-mau nya kamu berciuman dengan si pria bajingan itu Aleena."
Plakkkk.... satu tamparan mengenai pipi kanan Juna.
"Kamu bilang apa barusan hah? Siapa yang murahan hah? Saya masih punya harga diri. Lagian apa yang kamu katakan itu tidak benar, saya tidak melakukan apa yang kamu ucapkan." Aleena sambil menatap tajam Juna.
Kini suasana pun menjadi mencengkam saat Aleena dan Juna salin menatap tajam satu sama lainnya.
__ADS_1
Bersambung....