
"Juna Prakasa...." teriak Veri kepada Juna saat menghampirinya.
"Kenapa kamu berteriak memanggilku. Kita sudah dekat gini, masih saja memanggil dengan berteriak." Ucap Juna saat Veri yang kini sudah dekat dengannya.
"Kamu jangan so pura pura seakan akan tidak terjadi sesuatu sama kamu, Juna Prakasa! Apa yang sudah kamu lakukan terhadap Aleena, Juna!" Geram Veri sambil mencengkram kasar baju Juna.
"Terjadi sesuatu? Emangnya apa yang sudah saya lakukan sama Aleena." Juna masih pura pura tidak tahu.
"Kamu pikir, saya tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan terhadap Aleena hah? Kamu benar benar brengsek Juna!"
Buggkkh.... tiba tiba Veri memukul bibir kanan Juna hingga mengeluarkan sedikit darah segar.
"Kenapa kamu merenggut kesucian Aleena hah? Kamu pikir, Aleena wanita apaan hah? Kalau kamu memang mencintai Aleena, jangan seperti itu. Kita bersaing dengan sehat dan biarkan Aleena memilih. Bukannya dengan merenggung kesucian Aleena, kamu bisa memilikinya. Kamu benar benar brengsek Juna!" Ucap Veri sambil kembali memukul perut Juna dengan sekuat tenaga, sehingga Juna tersungkur ke belakang dan terjatuh ke bawah lantai.
"Tapi hanya dengan cara begitu, Aleena bisa jadi milikku. Dan saya sangat iri sama kamu, Aleena begitu akrab dan selalu bersamamu! Tapi kenapa dengan saya, Aleena selalu membenciku." Gerutu Juna mencoba berdiri dan sambil mengusap bibirnya yang kini terus mengeluarkan darah.
"Harusnya kamu itu berpikir dan bercermin, Aleena membencimu karena ulahmu sendiri yang pernah membuat Aleena begitu terluka hatinya. Dan sekarang kamu, memaksa Aleena untuk hidup denganmu hah? Enak sekali dirimu, Juna brengksek!" Ucap Veri dengan amarah memuncak kemudian memukul kembali Juna.
__ADS_1
Buggkkh.... Veri memukul kembali bibir Juna, sehingga menyebabkan bibir Juna lembab dan kini Juna merasa tidak berdaya dan kembali terjatuh ke bawah.
"Tuan, stop Tuan. Hentikan semua ini Tuan." Ucap Aleena sambil menghampiri Veri, agar tidak membuat keributan di rumahnya dan menahan Veri agar tidak kembali memukul Juna.
"Kamu jangan menghalangi saya, Aleena. Biarkan saya memukul sampai mati si pria brengsek itu!" Veri sambil menatap tajam Juna yang kini tidak berdaya.
"Sudahlah Tuan, saya mohon jangan bikin keributan disini. Nanti saya malu sama tetangga disini. Dan saya tidak mau mereka dengar gara gara saya yang tidak suci lagi Tuan," Aleena sambil menahan Tuan Veri dan memohon untuk berhenti.
"Baiklah Aleena. Tapi ingat, sampai kapan pun saya tidak akan memaafkanmu Juna! Dan ingat saya tidak akan menganggap kamu sahabat saya lagi." Ucap Veri sambil menatap Juna.
"Baiklah tidak masalah Veri. Lagian saya kesini, hanya akan bertanggung jawab apa yang sudah saya lakukan terhadap Aleena. Dan saya siap jadi suami Aleena." Ucap Juna sambil menatap Aleena.
"Ya sudah, biarkan Aleena yang memilih siapa yang akan menjadi suami untuknya." Ucap Juna sambil mencoba berdiri kembali.
"Baiklah! Oya Na, coba kamu pilih diantara kita siapa yang akan mendampingi hidupmu? Kamu pilih saya atau Veri." Tanya Veri sambil menatap Aleena.
Namun Aleena pun hanya diam saja tanpa menjawab perkataan Veri. Kemudian menatap Veri dan Juna bergiliran.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam saja Aleena. ayo katakanlah coba kamu pilih di antara kita, siapa yang akan menjadi pendampingmu," tanya Veri sambil menatap Aleena.
"Maaf Tuan, bukan maksud saya menyakitimu dan juga bukan maksud tidak mau membalas kebaikanmu. Tapi saya benar benar Juna lah yang harus menjadi pendampingku, karena dia lah yang sudah merebut kesucianku." Ucap Aleena sambil memegang tangan Veri, karena takut Veri mencari keributan lagi.
Deg. Hati Veri pun begitu sakit, jantungnya begitu merasa berdetak melemah dan merasa tidak percaya dengan pilihan Aleena. Veri pikir Aleena cuma bercanda dengan perkataannya tadi, tetapi ternyata Aleena tidak main main dan benar dengan ucapannya.
"Kamu sudah dengar kan Veri, keputusan Aleena tadi. PJadi kamu jangan menghalangi saya dan Aleena." Ucap Juna sambil menatap Veri.
"Kamu itu benar benar licik, Juna!" Geram Veri mencoba untuk menghampiri Juna dan ingin memukul kembali. Tapi sayangnya harus gagal karena Aleena menahannya dan memberikan kode agar tidak mencari keributan.
"Ck, ya sudah kalau begitu saya permisi. Dan ingat Aleena, saya akan segera mempercepat pernikahan kita." Ucap Juna sambil memutarkan bola matanya dengan malas dan berlalu pergi meninggalkan Aleena dan Veri, juga Reni.
"Kamu benar benar yakin, dengan keputusanmu Aleena?" Tanya Reni menghampiri Aleena dan menatap Juna yang kini sudah pergi berjalan menuju keluar.
"Iya Ren." Jawab Aleena sambil menganggukan kepala.
"Kenapa sih, Aleena. Kamu lebih memilih Juna dari pada saya hah? Saya yang selalu ada buat kamu, dan selalu membantumu saat kamu sedang ada masalah. Tapi kenapa, kamu membalas saya seperti ini Aleena! Padahal saya akan menerima kamu apa adanya, meski kamu tidak suci lagi Aleena." Ucap Veri merasa kecewa dengan Aleena.
__ADS_1
Aleena pun, berjalan menghampiri Veri. Kemudian Aleena memeluk Veri.
"Maafkan saya Tuan, saya tidak bermaksud menyakiti dan bukan saya tidak mau memilih Tuan. Tapi saya terpaksa Tuan, harus melakukan ini. Karena...." Ucapan Aleena tiba tiba terputus dan tiba tiba meneteskan airmata yang membasahi pipinya. Aleena pun sungguh berat untuk mengatakan alasan sebenarnya untuk menikah dengan Juna.