
Tok, tok, tok ....
"Non Aleena .... " panggil bi Atin di luar pintu kamar.
"Ya bentar Bi," ucap Aleena. "Nih pakai bajunya sama celananya, kayaknya bagus kalau pakai baju ini," Aleena sambil memberikan bajunya dan celananya kepada Juna, yang baru saja selesai mandi.
"Oke, terima kasih sayang." ucap Juna sambil mengambil baju dan celana dari tangan istrinya.
"Heem. Ya sudah, saya mau buka pintu dulu bi Atin tadi memanggil," ucap Aleena sambil berjalan menuju pintu kamar. Kemudian membuka kan, pintunnya.
"Iya Bi, ada apa?" tanya Aleena saat sudah berada di balik pintu.
"Itu Non, di luar ada seseorang yang ingin menemui Non Aleena," ucap Bi Atin sambil menatap Aleena.
"Menemuiku? Emangnya siapa Bi," tanya Aleena kepada bi Atin.
"Tidak tahu Non, soalnya saya lupa tidak bilang siapa orang itu hehe," Bi Atin cengengesan.
"Ya sudah Bi, suruh saja masuk ke rumah dan tunggu di ruang tamu," ucap Aleena sambil tersenyum kepada Bi Atin.
__ADS_1
"Baiklah Non. Ya sudah kalau begitu Bibi permisi dulu ya Non," ucap Bi Atin.
"Iya silahkan Bi." Jawab Aleena.
Dengan segera Bi Atin pun pergi meninggalkan Aleena dan berjalan menuju ruangan tamu untuk mempersilahkan masuk tamu tersebut. Aleena pun masuk kembali ke dalam kamar untuk meminta izin dulu kepada suaminya.
"Tadi bi Atin ada apa memanggilmu?" tanya Juna saat sudah selesai memakai kan, baju serta celananya.
"Bi Atin bilang, katanya ada seseorang yang ingin menemuiku," Jawab Aleena sambil menatap suaminya yang kini sedang merapihkan rambutnya dengan sisir.
"Emangnya siapa?"
"Emzz ... Jangan-jangan Veri lagi, yang ingin menemuimu."
"So tahu ya kamu itu. Kalau menurutku kayaknya bukan Veri deh," ucap Aleena yang kini sedang duduk di sofa.
"Kalau Veri gimana?" Juna sambil berjalan menghampiri istrinya.
"Kenapa sih, kamu itu kekeuh banget kalau yang datang itu sahabatmu hah?"
__ADS_1
"Ya karena dia, orang yang pasti akan selalu nekat melakukan apapun yang dia mau. Apalagi kamu orang yang mungkin sangat Veri cintai. Karena bagi Veri, kamu adalah cinta pertamanya." ucap Juna sambil duduk di samping istrinya.
"Kalau bicara tuh jangan ngaco. Mana mungkin pria setampan Veri, terus kaya, baik lagi, masa dulu belum punya keasih." sindir Aleena.
"Serius loh sayang. Lagian, saya bersahabatan sejak kecil sama dia. Jadi pasti taulah Veri itu siapa dan tau tentang dia semuanya." ucap Juna sambil memegang kedua tangan istrinya.
"Emzz ... Maafkan saya ya, dengan kehadiran saya membuat persahabatan kalian jadi hancur," Aleena sambil menundukan kepalanya karena merasa bersalah.
"Tidak sayang, ini bukan salah kamu. Lagian, ini salah saya sama Veri karena telah mencintai wanita yang sama," ucap Juna melepaskan pegangan tangannya, kemudian memeluk istrinya.
"Andaikan saja dulu saya tidak melamar pekerjaan ke Ibukota, mungkin tidak akan seperti ini."
"Kamu jangan berbicara begitu sayang, ini bukan salahmu. Mungkin karena kamu sudah di takdirkan harus berjodoh denganku. Kamu harus percaya sama saya, semuanya akan seperti semula lagi kalau Veri sudah iklas dan merelakan kamu untukku. Kamu harus percaya sama sayang," Juna sambil menguraikan pelukannya dan menatap wajah cantik istrinya.
"Heem." Jawab Aleena sambil menganggukan kepalanya.
"Ya sudah, ayo kita ke bawah. Bukannya, tadi kamu bilang ada yang ingin menemui mu ya?" tanya Juna.
"Eh iya saya lupa. Ya sudah ayo kita ke bawah," ajak Aleena kemudian berdiri dan menarik tangan suaminya, sehingga membuat Juna ikut berdiri.
__ADS_1
Kemudian mereka pun pergi dari kamar mereka, dan berjalan melalui tangga menuju ruang tamu untuk menemui seseorang yang ingin bertemu dengan Aleena.