
Di Rumah Kesya
Esok telah tiba, Raka mengetuk pintu rumah Kesya.
"tok tok tok." suara pintu rumah.
"Iya sebentar." jawab Kesya membukakan pintu rumahnya.
dilihatnya Raka tengah berdiri diluar dengan membawa sebuket bunga .
"Selamat pagi tuan putri." sapa Raka.
"Tuan Putri? kamu baru bangun tidur ya,
makannya ngelantur gitu ngomongnya." protes Kesya.
"Kamu tu kenapa si, gak bisa akur sebentar aja sama aku. " Protes Raka.
"Aduh udah ya Pak Raka, tolong gak usah lebay." protes Kesya.
"Kamu tu ya, ada tamu gak kamu suruh masuk malah kamu ajak berdebat." protes Raka kemudian masuk dengan sendirinya tanpa dipersilahkan oleh Kesya.
Kesya mengikuti langkah Raka yang kemudian duduk di kursi tamu.
"Ada keperluan apa ya, kamu sampe Dateng pagi pagi kesini?" tanya Kesya menekuk kedua tangannya didepan dada.
"Pak Berry semalam telpon aku, dia nyuruh aku buat jemput kamu dan ajak kamu ke hotel dia." jelas Raka.
"Oke kalau begitu, tapi saya masih harus urus anak anak saya dulu, karena mereka mau berangkat sekolah." ucap Kesya.
"Gak masalah, kamu urus aja anak anak kamu dulu. Sekalian aja kita berangkat sama sama." ucap Raka.
"Oke kalau kamu gak keberatan." jawab Kesya kemudian meninggalkan Raka diruang tamu.
"Key... "panggil Fillia cemas.
"Ada apa Fill?" Tanya Kesya yang ikut khawatir.
"Ara Key, dia ngiggau lagi, kayaknya dia mimpi buruk lagi." Ucap Fillia kemudian mereka memasuki kamar Ara dan Ari.
Raka yang melihat itupun ikut berjalan menuju kamar.
"Ma.... tolong Ma. Ala takut...." Ara masih tertidur tetapi keringat dingin membasahi wajahnya, tangannya mengepal erat, dan menangis sesenggukan.
"Sayang bangun Nak, Mama disini."Kesya mengguncang tubuh anaknya.
"Dia kenapa?" tanya Raka.
"Ara memang sering mengigau kayak gini. biasanya bisa sampe 2 jam dia baru tenang." jawab Fillia.
Ara terbangun dari mimpinya kemudian dia menangis, Kesya memeluknya erat.
"Boleh aku coba tenangin dia." pinta Raka.
Fillia dan Kesya saling menatap, Fillia menganggukkan kepalanya. Akhirnya Kesya mengalah melepaskan pelukannya.
Kemudian Raka menggendong Ara dan memeluknya, memberikan ketenangan pada Ara.
"Kenapa aku merasakan kenyamanan seperti ini, aku jadi semakin yakin kalau mereka memang anak dari benih yang aku tanam dulu." batin Raka.
"Apa ini ikatan batin antara Ara dan Raka. Biasanya butuh waktu lama untuk menenangkan Ara. Tapi dia? bahkan hanya dengan menggendong Ara. Ara langsung tenang." batin Kesya.
__ADS_1
"Yaampun hebat banget Pak Raka ini. Biasanya Ara nangis bisa sampe 2 jam, eh ini digendong bisa langsung tenang." puji Fillia.
"Makasih ya, Udah nenangin Ara." ucap Kesya.
"Iya sama sama." Jawab Raka.
Di Sekolah Ara dan Ari.
Raka mengantar Ara dan Ari ke sekolah, Raka memarkirkan mobilnya kemudian membantu Ara dan Ari keluar dari mobilnya.
"Sayang kalian belajar yang bener ya, nanti kalau udah jam pulang biar dijemput sama Tante Fillia ya."Ucap Kesya mengelus kepala kedua anaknya.
"Aku udah terbiasa dengan hidup mewah, tetapi aku gak pernah menemukan kenyamanan. Tapi melihat mereka dengan kesederhanaan yang mereka jalani aku bener bener menemukan kenyamanan, dan kehangatan." batin Raka.
"Loh selamat pagi Ara, Ari. Ini Mama dan Papa kalian ya?" tanya seorang wanita yang sepertinya adalah guru dari Ara dan Ari.
Ara dan Ari saling menatap kemudian menundukkan kepalanya.
"Iya benar sekali Bu, kami orang tua si kembar," Raka mendekatkan Tubuh Kesya dan mendekapnya.
"Kamu jangan sembarangan ngomong." Kesya berbicara pelan sambil tersenyum agar Ibu guru itu tidak mengetahuinya.
"Kamu ikutin aja, lihat kasian si kembar sedih gitu." jawab Raka dengan pelan.
"Yasudah kalau gitu, saya pamit masuk Pak, Bu." ucap guru tersebut.
"Oh iya Bu." jawab Raka ramah kemudian wanita itu meninggalkan Raka dan Kesya.
"Pak Raka ini tangan-nya tolong jangan cari kesempatan terus." ucap Kesya yang memukul tangan Raka yang sedari tadi nyaman di pundak Kesya.
"Mama, kenapa si kak Ali sama Ala gak punya Ayah? sedangkan temen temen punya." tanya Ara.
Kesya berjongkok dan menatap mata Ara, dan Ari.
"Aku jadi semakin yakin kalau mereka memang anakku, aku janji akan segera memperjelas semuanya. dan akan memberikan apa yang hilang selama ini." batin Raka.
"Yaudah, kalian masuk gih!" ucap Kesya.
Kemudian Ara dan Ari mencium tangan Kesya. Ari berlari masuk ke dalam sekolah tetapi Ara berhenti terdiam.
"Loh kenapa berhenti Ara, udah ditinggal kakak tu." ucap Kesya.
"Apa boleh aku cium tangan Om laka?" tanya Ara memasang wajah memelas.
"Oh tentu boleh dong." jawab Rak bersemangat.
"Ara belajar yang bener ya, semangat." ucap Raka
"Siap om, dada." Ara terlihat sangat berseri.
"Yaudah ayo kita berangkat." Ajak Raka kemudian mereka memasuki mobil.
Di Rumah Kesya.
Waktu menunjukkan pukul 10 pagi, Raka yang mengetahui bahwa Fillia hendak menjemput si kembar akhirnya mengunjungi rumah dan meminta izin untuk menjemput si kembar.
"Loh, Pak Raka kok disini?" tanya Fillia.
"Kamu pasti mau jemput si kembar kan?" tanya Raka.
"Iya Pak." Jawab Fillia.
__ADS_1
"Biar aku aja yang jemput, tapi kamu jangan bilang Kesya ya." pinta Raka
"Aduh gimana ya Pak, tapi inikan amanat." Ucap Fillia.
"Tolong lah, masak kamu gak percaya sama saya." tanya Raka.
"Yaudah deh Pak. Saya percaya sama Pak Raka " ucap Filia.
"Yesss Makasih ya." ucap Raka berlari memasuki mobilnya.
Di sekolah
"Aduh Tante kebiasaan deh telat telus." umpat Ari yang duduk di kursi tempat tunggu.
"Sabal dong kak Ali."Ara menenangkan, tiba tiba mobil berhenti di depan tempat mereka, Raka keluar dari mobilnya membawa dua batang cokelat.
"Halo Ara, halo Ari." sapa Raka.
"Om laka..." Ara memeluk kaki Raka karena Raka terlalu tinggi.
"Kenapa om yang jemput kita?" tanya Ari dingin.
"Iya, Om udah minta izin sama Tante kalian, dan hari ini Om akan bawa kalian jalan jalan." ungkap Raka.
"Holeee jalan jalan." Ara bersorak girang.
"Dek jangan asal mau, nanti Mama malah lho." Ari mengingatkan.
"Om janji gak akan ngapa ngapain kalian kok." janji Raka.
"Ayolah kak, demi Ala." rengek Ara.
"Yaudah deh." akhirnya Ari menyerah.
Raka menggendong Ara dengan satu tangan dan tangan lainnya menggandeng Ari.
Hari ini mereka menghabiskan waktu bersama untuk bermain game di sebuah mall. Mereka jadi semakin akrab.
"Oh iya Ara, Ari. Om mau minta tolong sama kalian ya. Tapi kalian jangan bilang ini sama ibu kalian." pinta Raka.
"Oke Om." jawab Ara.
kemudian Raka mengajak mereka menuju Rumah sakit dan membawa mereka menuju ruang tes DNA.
"Dok tolong saya mau, lakukan tes DNA. Saya dan anak kembar ini." pinta Raka pada dokter.
Kemudian mereka melakukan berbagai tes.
"Apa Om Laka ayah kita?" tanya Ari yang memiliki pengetahuan diatas rata rata.
"Kamu ini pinter banget menebak ya." Ucap Raka.
"Yeee Ala seneng banget kalo Om Laka Ayah Ala." ucap Ara.
"Tapi kalian harus jaga rahasia ini dari Mama kalian ya, sampe bukti tes DNA ini keluar, Ayah janji akan berusaha ambil hati Mama kalian. dan Ayah janji akan memberikan apa yang selama ini hilang, yaitu sosok seorang ayah untuk kalian." Raka memeluk Ara dan Ari.
bersambung ......
bagaimana hasil dari DNA mereka?....
guys karena kemarin ada permintaan Visual, ini author kasih si kembar dulu ya, untuk Mama dan Papa harap tunggu yak.
__ADS_1