Anak Genius: Milikku Milikmu.

Anak Genius: Milikku Milikmu.
Masa Lalu


__ADS_3

Kesya melangkah dengan kesal menuju kamarnya, Ia membanting pintu dengan keras.


"Ih cewek itu sebenernya siapa sih? kenapa Dia deket banget sama Mas Raka." Ucap Kesya duduk dengan kasar di tepi ranjangnya.


"Tadi peluk, sekarang… Mereka sedekat itu, Ihhhh Kesya, jangan mikir yang aneh-aneh. Mungkin aja, cewek itu saudara Mas Raka." Ucap Kesya berusaha menenangkan dirinya sendiri.


"Lagian Mas Raka juga kayaknya kesempatan banget deh deket-deket sama Dia. Dasar emang Mas Raka nyebelin banget." Umpat Kesya melemparkan bantal ke pintu. Tiba-tiba saja pintu terbuka dan bantal tersebut mengenai Raka yang baru saja masuk.


"Kenapa sih? Kok bantal dilempar-lempar." Tanya Raka yang merasa heran dengan tatapan Kesya.


"Karena ada serangga yang ganggu." Jawab Kesya berlalu meninggalkan Raka keluar dari pintu kamar.


"Kenapa sih itu orang? Lagi dapet kali ya?" Ucap Raka yang kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Kesya menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang, tetapi Ia tidak melihat Raka mengejarnya.


"Ya ampun, emang dasar Dia itu bener-bener gak peka, Istrinya lagi marah bukannya dikejar malah dibiarin. Nyebelin banget sih." Umpat Kesya kemudian kembali masuk ke dalam kamar.


Di Ruang Makan.


Waktu makan malam telah tiba, saat ini semua keluarga tengah berkumpul untuk makan malam. Anak-anak terlihat tengah bersenda-gurau dengan Pak Wira. Sedangkan Kesya masih mendiamkan Raka.


"Loh Raka, kok Kamu belum ambil makan sih? Udah dong main HP-nya. Sini biar Aku ambilin, ini ada makanan kesukaan Kamu lho. Dari dulu kan Kamu paling suka makan ini, Kamu sampe nambah berkali-kali." Ucap Meyra mengambilkan makanan untuk Raka.


"Ih nyebelin banget sih." Batin Kesya melirik apa yang tengah dilakukan Meyra.


"Gak usah Meyra, nanti Aku bisa ambil sendiri." Ucap Raka.


"Gak papa kok Rak, dulu juga Kamu sering minta Aku untuk ambilin makan Kamu kan?" Ucap Meyra.


"Iya ya, dulu Kalian itu Deket banget, kemana-mana selalu berdua, Tante kira Kamu lho yang bakal jadi Menantu Tante." Bu Lidya membuat suasana semakin panas.


"Tuh kan, Mami sampai bilang gitu, itu berarti Meyra adalah masa lalu Mas Raka." Batin Kesya.


"Udahlah Ma, jangan dibahas lagi. Sekarang Raka kan udah punya Istri." Ucap Raka yang melihat wajah Kesya yang seperti tengah menahan amarahnya.


"Kesya udah selesai makan, Kesya pamit ya mau ke kamar." Ucap Kesya berdiri, Ia mencium kedua anaknya kemudian pergi meninggalkan meja makan.


"Ih jadi Istri kok cemburuan, gak banget deh." Umpat Bu Lidya.

__ADS_1


"Mi, udahlah Mi. Mami yang keterlaluan bicara begitu di depan Kesya. Hati perempuan mana yang gak sakit ketika Mertuanya bilang begitu." Ucap Pak Wira.


"Terus aja salahin Mami." Bu Lidya pergi meninggalkan meja makannya, Meyra pun mengikuti langkah Bu Lidya.


"Pi, kalo gitu Raka samperin Kesya dulu ya." Pamit Raka meninggalkan meja makan.


Di Kamar Raka


Kesya berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut, Raka masuk dan duduk disebelah Kesya.


"Aku minta maaf, atas apa yang udah Mami omongin tadi." Ucap Raka, tetapi Kesya tidak menjawab.


"Jangan marah dong, Aku tu gak tau gimana caranya supaya Kamu mau maafin Aku. Kalo Kamu cuma diem aja, Aku gak tau mau ngapain." Protes Raka.


"Meyra itu sebenarnya siapa Kamu si?" Tanya Kesya yang kini telah merubah posisinya menjadi duduk.


"Kenapa? Kamu cemburu ya?" Goda Raka.


"Nggak, Biasa aja." Jawab Kesya berusaha menutupi rasa cemburunya.


"Kamu jangan cemburu ya sama Meyra, karena Dia itu cuma masa lalu Aku." Ucap Raka.


"Bukan Aku yang izinin Dia tinggal disini, tapi Mami yang ngajak Dia nginep disini. Masak Aku usir Dia si?" Ucap Raka.


"Ah tau ah Mas, Aku udah ngantuk, Mau tidur. Sana Kamu melepas rindu aja sama mantan Kamu itu, peluk sana." Ucap Kesya kembali berbaring dan kini tubuhnya membelakangi Raka.


"Duh pusing kalo udah marah gini." Batin Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Di Kamar Mami Lidya


"Sebel, sebel, sebel." Umpat Mami Lidya yang baru saja memasuki kamar.


"Tenang Tante, jangan emosi." Ucap Meyra.


"Gimana Tante gak emosi, kalo Anak sama Suami Tante malah pada belain cewek itu." Ucap Mami Lidya.


"Tante, Kita itu harus bermain cantik. Kita harus berpura-pura baik dan menerima Kesya. Supaya Mereka itu percaya sama Kita." Usul Meyra.


"Apa untungnya Kita pura-pura baik sama Dia?" Tanya Mami Lidya.

__ADS_1


"Kalo Kita dianggap baik sama Raka, Raka pasti akan percaya sama Tante dan saat Raka percaya sama Tante, Kita bisa bikin Raka dan Kesya bertengkar. Karena Raka udah percaya sama Tante, sedangkan Kesya justru seolah gak menerima Tante." Saran Meyra.


"Kamu bener-bener pinter Meyra, Tante setuju banget sama ide Kamu, dengan begitu, Raka sendiri yang akan mengeluarkan Wanita itu dari sini dan meninggalkan Wanita itu." Ucap Mami Lidya.


"Nah gitu dong, jadi mulai sekarang Tante harus bersabar kalo ada Raka dan Pak Wira Kita harus baik-baikin si Kesya itu." Terang Meyra.


"Emang gak salah lagi, emang Kamu yang paling cocok jadi menantu keluarga Wira." Ucap Bu Lidya.


Di Supermarket


Toni memarkir mobilnya di halaman supermarket, Ia mendapatkan tugas dari Boss kecil untuk membeli makanan ringan.


"Aduh Boss Ara emang tega banget, malem-malem nyuruh beli makanan." Ucap Toni membuka lipatan kertas yang berisi list makanan yang dipesan oleh Ara.


"Brakkkk" Toni terjatuh karena menabrak seorang yang tengah mengangkat box dan orang tersebut juga terjatuh.


"Gimana sih Mas, kalo jalan itu pake mata dong." Protes Wanita yang ternyata adalah seorang pegawai supermarket yang tengah mengangkat barang.


"Heh, dimana-mana jalan itu pake kaki, bukan pake mata." Protes Toni.


"Salah, nyolot lagi."Ucap Wanita tersebut menahan emosi.


"Lagian ngapain sih,  cewek angkat-angkat barang segala. Nggak kuat kan jadi jatoh." Protes Toni.


"Sembarang banget kalo ngomong." Wanita tersebut kehabisan kesabaran, Ia pun membuat tangan Toni terkilir.


"Aduh." Teriak Toni yang merasa kesakitan.


"Makannya jangan sembarangan menghina Orang." Protes Wanita tersebut, Ia kembali mengangkat barangnya kemudian dengan sengaja menginjak kaki Toni.


"Awww dasar cewek jadi-jadian. Gila kasar banget jadi cewek." Umpat Toni.


"Yakin banget tu cewek pasti jomblo, lagian mana ada cowok yang mau sama cewek galak kayak gitu. Ih amit-amit." Ucap Toni. 


Baru melangkah Ia menemukan kartu nama yang tergeletak di atas tanah. Toni pun mengambilnya dan membacanya.


"Ini pasti kartu nama punya cewek jadi-jadian tadi." Ucap Toni.


"Oh jadi namanya Senja, awas aja kalo sampai Kita ketemu lagi. Aku bakal balas dendam." Ucap Toni memasukkan kartu nama milik senja ke saku jas miliknya.

__ADS_1


__ADS_2