Anak Genius: Milikku Milikmu.

Anak Genius: Milikku Milikmu.
BAB 64 PENGIRIMAN MISTERIUS


__ADS_3

Di kamar Kesya


Kesya kembali ke kamarnya setelah berhasil menenangkan diri, dilihatnya Raka telah terlelap dalam tidurnya.


"Aku gak tau apa yang sebenarnya Kamu tutupi dari Aku Mas, Kenapa Kamu menyembunyikan sesuatu dari Aku." Batin Kesya yang merasa kecewa karena ternyata Raka tidak terbuka kepadanya.


Kesya memperhatikan Raka lama, lelaki yang Ia percaya selama ini, ternyata menyembunyikan sesuatu.


"Siapa wanita itu? dan Anak kecil itu, apa memang itu Anak dari Mas Raka." Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di fikiran Kesya.


"Lebih baik Aku ke kamar Ari dan tidur disana, Aku terlalu kecewa sama Kamu Mas." batin Kesya kemudian pergi meninggalkan kamarnya.


Kesya pergi ke kamar Ari, Ari telah tertidur lelap. Kesya menghampiri Ari, mengelus pelan dan dengan penuh kasih sayang rambut Ari.


"Saat ini, Mama hanya punya Kamu Nak. Kamu penyemangat hidup Mama." Ucap Kesya menitikkan air mata.


Merasakan kelembutan belaian dari sang Mama, Ari pun terbangun. Kesya segera menghapus air matanya, Ia tidak mau Ari melihatnya menangis.


"Sayang, Kamu kok kebangun." Ucap Kesya.


"Mama, kenapa Mama nangis?" Tanya Ari yang merasa bersedih karena melihat Kesya yang menangis.


"Gak papa Nak, Mama cuma gak nyangka aja. Sekarang Ari udah besar ya." Kesya mencari alasan.


Ari kemudian memeluk Kesya, Kesya tersenyum.


"Kenapa ini? kok tiba-tiba meluk Mama si?" Tanya Kesya.


"Mama jangan nangis lagi ya, nanti Ari jadi ikut sedih." Pinta Ari.


"Iya, Mama gak nangis lagi." Kesya menyanggupi permintaan Ari.


"Mama temani Kamu tidur disini ya." Ucap Kesya, kemudian Kesya pun tidur menemani Ari.


Di kamar Raka


tengah malam, Raka terbangun dari tidurnya, dilihatnya Kesya tidak berada di sampingnya. Raka meraih ponselnya dan melihat jam menunjukkan pukul 1 dini hari.


"Kesya kemana? Udah jam segini kenapa Dia belum balik?" batin Raka.


Raka mengucek matanya dan mencoba memanggil Kesya, Raka bangkit kemudian mencari keberadaan Istrinya.


"Key.." Panggil Raka mencoba mencari Kesya di kamar mandi kamarnya, Ia membuka pintu kamar mandi. Tetapi Raka tidak menemukan Kesya.

__ADS_1


"Kesya kemana sih?" Raka bertanya dalam hati.


Raka keluar dari kamarnya untuk mencari keberadaan Kesya. Raka berkeliling mencari di taman, di halaman, di ruang makan, di dapur. Tetapi Raka tidak juga menemukannya.


"Kesya itu kemana sih? atau jangan-jangan Dia di kamar Ari?" Raka berkata dalam hati.


Raka mencoba melihat kamar Ari, dan benar saja. Kesya tidur dengan memeluk Ari.


Raka menghampiri Kesya dan Ari, kemudian menyelimuti tubuh Mereka.


"Maaf Kesya, untuk saat ini Aku gak bisa jujur sama Kamu tentang Prisa." Ucap Raka kemudian mengecup kening Kesya dan juga Ari.


"Lebih baik Aku biarkan Kesya tidur disini, Dia pasti masih merasa kehilangan atas meninggalnya Ara." Ucap Raka Kemudian keluar dari kamar Ari dan kembali tidur ke kamar.


Di ruang makan


Hari ini merupakan hari ketiga setelah kepergian Ara, rencananya Raka akan kembali bekerja hari ini, Ia menghampiri Kesya dan Ari yang tengah menghabiskan sarapan.


"Selamat pagi Ari, pagi Kesya." Sapa Raka yang telah rapi dengan setelan jas warna hitam.


"Pagi Ayah." Jawab Ari, Kesya membisu tak menjawab sapaan dari Raka. Raka yang merasa ada yang aneh pun duduk di samping Kesya dan berbisik.


"Apa semuanya baik-baik aja?" Tanya Raka berbisik di telinga Kesya.


"Hmmm" Jawab Kesya singkat.


"Boleh Kita bicara sebentar?" Tanya Raka.


"Maaf Mas, Aku lagi malas berdebat." Jawab Kesya menolak permintaan Raka.


Raka akhirnya menarik tangan Kesya menjauh dari Ari.


"Apa sih Mas? Kok Kamu jadi paksa Aku gini sih?" Protes Kesya yang merasa tidak senang dengan perlakuan Raka.


"Kamu Kenapa sih? Kenapa Kamu sepertinya marah sama Aku." Raka mengutarakan kegelisahannya.


"Aku gak papa, Perasaan Kamu aja kali. Atau jangan-jangan Kamu sedang melakukan kesalahan, makannya Kamu bisa berfikir begitu." Kesya menyindir dengan halus, mata Mereka kini saling menatap.


"Jangan kaya gini dong Key, Kalo Aku ada salah, Kamu ngomong. Aku gak akan tau kesalahan Aku apa kalau Kamu gak ngomong." Ucap Raka.


Tiba-tiba muncul Mami Lidya yang melihat Pertikaian antara Raka dan Kesya.


"Ada apa sih ini? Masih dalam suasana berduka malah berantem." Protes Mami Lidya.

__ADS_1


"Mi,tolong biarin Aku dan Kesya menyelesaikan masalah ini sendiri." Pinta Raka.


"Ya, Mami juga gak mau ikut campur, dasar Wanita labil. Tiba-tiba marah sama Suami, Kenapa? Kamu merasa kehilangan Anak Kamu jadi Kamu lampiaskan ke Raka? Lagipula Anak Kamu meninggal itu karena kelalaian Kamu." Ungkap Mami Lidya.


"Mami, udahlah jangan ngompor- ngomporin terus." Pinta Raka.


"Emang, emang semua salah Aku." Ucap Kesya murka.


Kesya yang merasa terpukul dengan perkataan Ibu mertuanya pun memilih untuk meninggalkan Raka dan Maminya.


Di Kantor


Raka telah tiba di kantornya, hari ini perasaannya benar-benar kacau, Ia bimbang harus bagaimana. Apakah Ia harus menceritakan tentang Prisa atau menunggu waktu lagi. Saat ini Kesya benar-benar dingin terhadapnya. Raka pun meminta saran kepada Toni.


"Ton, menurut Kamu Aku lebih baik jujur tentang Prisa sekarang atau nunggu waktu?" Tanya Raka meminta saran dari Toni.


"Kalo menurut Saya, lebih baik Boss jujur ajalah, kasihan juga Boss Kesya karna gak tahu." Saran Toni.


"Iya juga si, Dia juga jadi cuek banget sama Aku." Raka menjelaskan.


"Makannya, Kasih tau aja Boss." Saran Toni sambil mengacungkan jempol miliknya.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Raka pun menyuruhnya untuk masuk.


"Masuk." Titah Raka, masuklah seorang wanita yang tidak lain adalah sekretaris Raka dengan membawa amplop coklat.


"Ada Apa?" Tanya Raka.


"Ini Boss, Ada paket untuk Boss Raka." Wanita itu menyerahkan amplop coklat tersebut.


"Dari siapa?" Tanya Raka yang belum membuka isi amplop tersebut.


"Kurang tahu Pak, hanya saja tadi pengirim bilang kalau itu penting sekali." Jawab sekretaris tersebut.


"Yaudah kalo gitu, terimakasih. Kamu boleh balik." Ucap Raka berterima kasih.


Wanita itupun keluar dari ruangan Raka, Raka membuka amplop tersebut, Ia terkejut ketika melihat Kesya digendong oleh seorang Pria.


"Siapa laki-laki ini? kenapa Dia bisa sampai menggendong Kesya?" Kini pertanyaan- pertanyaan mulai muncul di kepala Raka.


Toni mencoba meminta foto tersebut dan merasa terkejut dengan foto yang dikirimkan tanpa identitas.


"Aku harus meminta penjelasan dari Kesya tentang foto ini." Ucap Raka merasa emosi.

__ADS_1


Toni mencoba menenangkan Raka.


"Boss, sabar Boss." Ucap Toni mencoba menenangkan Raka, tetapi saat ini Raka benar-benar marah dan tidak mempedulikan perkataan Toni.


__ADS_2