Anak Genius: Milikku Milikmu.

Anak Genius: Milikku Milikmu.
BAB 58 PERPISAHAN


__ADS_3

Raka bergegas membuka pintu kamar dan diikuti oleh Kesya di belakangnya, nampak Vas bunga yang pecahannya berceceran di lantai. Sepertinya Vas tersebut jatuh dari atas meja.


"Siapa yang jatuhin Vas?" Tanya Raka kepada Kesya.


"Ya Aku juga gak tahu Mas." Jawab Kesya dengan menggelengkan kepalanya.


"Biar Aku suruh Bibi bersihin pecahan Vas ini." Ucap Raka hendak meninggalkan Kesya, tetapi Kesya menahan Raka dengan menarik tangan Raka.


"Udahlah Mas, ini kan masih pagi. Biar Aku aja, Aku bisa kok." Ucap Kesya.


"Jangan dong, nanti kalo Kamu terluka gimana?" Raka menolak pernyataan Kesya.


"Udah deh, pokoknya biar Aku yang beresin. Kamu bangunin Anak-anak aja." Kesya bergegas meninggalkan Raka, Ia tidak memperdulikan larangan Raka.


Raka pun mengikuti langkah Kesya yang keras kepala.


"Key, tunggu Key, susah banget si dibilangin." Raka mencoba mempercepat langkahnya.


Di balik tembok.


Meyra bersembunyi di balik tembok ketika tidak sengaja, Ia menjatuhkan Vas bunga yang berada di atas meja. Meyra mencoba mendengarkan pembicaraan Raka dengan Kesya, hingga Ia tidak menyadari bahwa Ia menyenggol Vas bunga, Meyra pun segera berlari dan bersembunyi di balik tembok.


"Untung aja gak ketahuan, kalo sampai ketahuan Aku nguping pembicaraan Mereka. Aku bisa diusir dari sini." Ucap Meyra dalam hati sambil mengelus-elus dadanya berusaha tenang.


"Jadi Raka mau pergi ke luar kota, Aku harus jadiin ini kesempatan untuk membuat hubungan Mereka renggang." Fikir Meyra tersenyum licik.


"Lebih baik Aku segera bikin rencana." Ucap Meyra kemudian bergegas kembali ke kamarnya saat keadaan dirasa aman.


Di Dapur


Setelah membersihkan serpihan vas, Kesya bergegas menuju dapur untuk membuat sarapan pagi untuk keluarganya, karena Raka akan pergi dengan waktu yang lumayan lama. Kesya berniat untuk membuatkan makanan kesukaan Suaminya itu. Kesya membuka pintu kulkas, dan mengambil bahan yang Ia butuhkan. 


Kemudian Bi Surti masuk ke dapur dan menghampiri Kesya.


"Non, biar Bibi aja yang masak." Ucap Bi Surti.


"Udah Bi, biar Kesya aja yang masak." Jawab Kesya sambil memotong-motong sayuran.


"Kalo gitu, Bibi nyiram tanaman aja ya Non." Pamit Bi Surti.


"Iya Bi." Jawab Kesya tersenyum ramah.


Kesya benar-benar fokus dengan makanan yang Ia masak, hingga tidak menyadari bahwa kini Raka telah berada di belakangnya. Raka memeluk tubuh Kesya dari belakang yang membuat Kesya terkejut.

__ADS_1


"Mas, Kamu ngapain sih, nanti dilihat orang." Protes Kesya.


"Emang kenapa? Kan Kita Suami Istri." Jawab Raka dengan santai.


"Kamu ganggu Aku masak tau nggak si?" Protes Kesya meletakkan pisau yang Ia bawa. Kini Ia berhenti memotong sayuran karena merasa terganggu dengan tingkah manja Raka.


"Sebentar aja, sebelum Aku pergi." Ucap Raka dengan suara yang lembut, Kesya pun akhirnya mengalah dan membiarkan Raka memeluknya.


Setelah Raka merasa tenang karena sedari tadi Ia merasa gusar jika harus meninggalkan Kesya dan Anak-anaknya, Raka melepaskan pelukannya, Kesya pun berbalik dan menatap Raka.


"Kamu fine?" Tanya Kesya yang merasa ada yang sedang dipikirkan Suaminya.


"Fine, Aku bangunin Anak-anak dulu ya." Ucap Raka yang dibalas dengan anggukan oleh Kesya. Raka pun berbalik dan meninggalkan dapur.


Di Kamar Ara dan Ari.


Raka membuka pintu kamar dengan perlahan, dilihatnya kedua Anaknya masih tertidur pulas, Raka pun menghampiri Ari.


" Ari, bangun" Raka mengguncang tubuh Ari pelan.


Ari perlahan membuka matanya, Ia menggeliat berusaha menghilangkan rasa kantuk.


Setelah berhasil membangunkan Ari, Raka pun menuju tempat Ara dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan untuk membangunkan Ari.


Ara terbangun dan dengan manja segera memeluk Ayahnya.


"Mama lagi masak untuk sarapan, Kalian sholat ya, habis itu siap-siap ke sekolah. Biar Ayah antar berangkat sekolah." Titah Raka kepada Anak-anaknya.


Di sekolah


Mobil merah milik Raka berhenti di halaman sekolah Ara dan Ari. Hari ini Raka berencana mengantarkan Anak-anak sekaligus berpamitan dengan Mereka.


"Kita udah sampai." Ucap Raka membuka sabuk pengamannya.


"Ayo Anak-anak Kita turun." Ucap Kesya menoleh ke arah kedua Anaknya.


Mereka pun turun dari mobil, Ara dan Ari mencium tangan kedua orangtuanya.


"Oh iya, Ayah mau bilang sama Kalian. Selama satu minggu ini Ayah harus keluar kota." Ucap Raka memberitahu kedua Anaknya.


"Jangan Ayah." Ucap Ara menggenggam tangan Raka.


"Sayang, Ayah cuma pergi sebentar buat kerja kok. Gak boleh kayak gitu." Kesya menenangkan Ara.

__ADS_1


"Ayah janji bakal cepet pulang ya." Ucap Ara menatap Raka dengan wajah yang memelas.


"Iya, Ayah janji bakal pulang cepet. Kalian jaga diri baik-baik ya. Ari, jagain Mama sama Adek Kamu!" Titah Raka.


"Siap Ayah." Jawab Ari tegas dan penuh dengan keyakinan.


"Yaudah, buruan masuk kelas gih." Ucap Kesya mengingatkan.


"Dada Ma, Dada Ayah." Ucap Ara berlari mendahului langkah Ari.


"Yaudah, Kita jemput Toni, setelah itu langsung ke bandara ya." Ajak Raka.


Mereka pun kembali memasuki mobil dan menjemput Toni beserta Pak supir yang akan menggantikan Raka untuk memegang setir.


Di Bandara


Raka dan Kesya telah tiba di bandara, Toni mengikuti langkah Mereka dan menarik koper milik Raka. 


"Kamu jaga diri baik-baik ya, sebisa mungkin jangan deket-deket sama Mami dan Meyra." Pesan Raka mencubit hidung Kesya pelan.


"Iya Aku jaga diri, tapi kenapa Kamu malah suruh Aku buat jauh-jauh dari Mami. Jangan jadi Anak durhaka Kamu." Kesya merasa heran dengan permintaan Raka.


"Udah kalo dibilangin nurut aja." Ucap Raka.


"Iya-iya, Kamu juga jaga diri disana dan cepet pulang." Pinta Kesya.


"Aku pasti segera selesaikan pekerjaan Aku, supaya bisa cepet pulang." Raka mengelus pelan rambut Kesya.


"Kamu udah bawa semuanya kan? gak ada yang tertinggal?" Tanya Kesya memastikan.


"Udah, Aku pasti bakal kangen sama Kamu dan Anak-anak." Ucap Raka memeluk tubuh Kesya.


Kesya benar-benar merasa nyaman dalam dekapan Raka.


"Apaan sih? Jangan lebay deh. Udah ah Mas, lepasss malu dilihatin banyak orang." Bisik Kesya yang kini tengah menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada disekitarnya.


"Sebentar aja." Ucap Raka kemudian melepaskan pelukannya.


"Semangat kerjanya ya, Suamiku." Ucap Kesya tersenyum manis, membuat Raka semakin berat untuk meninggalkan.


Tiba-tiba saja telepon milik Kesya berbunyi, telepon masuk dari Filia. Kesya pun meminta izin kepada Raka untuk mengangkat teleponnya.


"Dari Filia Mas, Aku angkat sebentar ya." Ucap Kesya yang dijawab dengan anggukan oleh Raka, Kesya pun mengangkat telepon dari Sahabat dekatnya itu.

__ADS_1


"Selamat pagi, Kami dari pihak rumah sakit ingin memberitahukan bahwa Ibu Filia mengalami kecelakaan, Apakah anda mengenal saudara atau keluarganya?" Ternyata yang menelepon bukanlah Filia, melainkan pihak rumah sakit yang memberitahukan bahwa Filia mengalami kecelakaan.


 "Apa? Filia kecelakaan?" Ucap Kesya terkejut, begitu pula dengan Raka dan juga Toni.


__ADS_2