
Di Kamar Raka.
Hari ini adalah akhir pekan, Raka dan Kesya telah berjanji kepada Ara untuk jalan pagi keliling komplek, Karena Pagi-pagi sekali Ari telah pergi untuk berlatih silat. Sehingga Ara tidak memiliki teman dirumah.
"Mama, Papa, Ayo Kita jogging." Ara masuk ke kamar Kesya yang tidak terkunci karena Kesya baru saja selesai sholat subuh.
"Ya ampun sayang, Ini masih pagi banget lho. Sana Ayah Kamu bangunin suruh sholat, mandi terus siap-siap ya, Mama mau bantu Kakak siap-siap dulu. Kakak kan mau latihan." Terang Kesya.
"Siap Bu Boss." Jawab Ara dengan posisi hormat, Kesya yang melihat itupun menjadi gemas dan mencubit pipi Putrinya itu.
"Kamu lama-lama kayak Om Toni ya, panggil Mama Bu Boss." Kesya tertawa melihat tingkah Ara.
"Yaudah dada Mama, Ala mau bangunin Ayah dulu." Ara berlari menaiki ranjang dengan susah payah kemudian melompat-lompat untuk membangunkan Ayahnya.
"Ara, Kamu tu lucu banget sih." Ucap Kesya yang melihat cara Putrinya membangunkan Ayahnya dengan cara yang unik.
Kesya pun segera pergi menuju Kamar Ari untuk membantu Ari bersiap.
"Ayah bangun Ayah, ini udah siang. Ayah halus sholat." Ucap Ara yang mengguncang tubuh Raka.
Raka berpura-pura masih tertidur, saat Ara kembali membangunkannya. Raka pun menggelitiki Putrinya.
"Hayo, siapa yang udah bangunin Sang Raja." Ucap Raka.
"Ampun Ayah,,," Ara tertawa karena geli. Raka pun menghentikannya dan memeluk Putri kecilnya.
"Ayah belum mandi. Ala kan udah mandi Ayah." Protes Ara.
"Iya deh, Ayah mandi dulu ya princess Ara. Jangan kemana-mana, dan jangan usil." Raka menyentil hidung Ara yang mancung sama sepertinya.
"Mama, Ayah Ayo lali dong, kenapa Mama sama Ayah lemes gitu si." Protes Ara yang melihat Mama dan Ayahnya tidak bersemangat, Ara tidak tahu jika terjadi permasalahan di antara Mereka.
"Tau tuh, udah dong marahnya, kasian tu Ara." Protes Raka.
"Siapa yang marah si? Kok kesannya Kamu malah nyalahin Aku si." Kesya tak terima.
"Tuh, Aku gak salahin Kamu. Aku cuma ngomong apa adanya." Jawab Raka.
"Apa adanya? Aku gak marah kok." Protes Kesya.
"Aku udah bilang kan, Dia cuma masa lalu Aku. Jangan gini terus dong. Emang Kamu gak capek apa?" Tanya Raka.
"Tuh kan, bahas Dia lagi. Bisa nggak sih kalo Kamu gak usah bahas Dia." Protes Kesya.
Ara yang bosan melihat Mereka bertengkar pun tertarik dengan kucing anggora yang tengah bermain.
__ADS_1
Kesya dan Raka masih terus berdebat, Mereka tidak menyadari bahwa Ara telah pergi mengejar kucing anggora yang tengah bermain, Ara terus mengejar kucing tersebut hingga Ia terjatuh ke jalan, Kakinya berdarah. Ara pun menangis.
"Jangan nangis. Sini Aku obati." Ucap seorang anak laki-laki yang kebetulan lewat dan melihat Ara menangis. Anak tersebut berumur 6 tahun lebih tua dari Ara.
"Kakiku beldalah." Rengek Ara.
Anak tersebut pun mengeluarkan tisu dan membersihkan luka Ara. Setelah bersih, Ia memakaikan stiker luka yang Ia simpan di saku celananya.
"Sekarang udah sembuh, Oh iya nama Kamu siapa? kenapa Kamu sendirian?" Tanya Anak tersebut mengulurkan tangannya kepada Ara.
"Nama Aku Ala, sebenelnya Aku tadi sama Mama dan Ayah. Tapi Aku ngejal kucing. Ala gak tau jalan pulang." Rengek Ara.
"Jangan sedih ya, Aku Azril. Ayo ikut Aku ketemu sama satpam untuk cari tahu rumah Kamu." Ajak Azril.
Mereka pun pergi untuk menemui satpam komplek yang sedang bertugas.
Kembali ke Raka dan Kesya yang tengah bertengkar, Mereka akhirnya tersadar bahwa Ara sudah tidak ada di tempat semula.
"Mas, Ara mana Mas?" Tanya Kesya.
"Gimana sih? Kok bisa Ara gak ada, tadi Dia kemana?" Tanya Raka.
"Kok Kamu malah tanya Aku sih, udah cukup berantemnya, lebih baik sekarang Kita cari Ara. Kalo sampe Dia kenapa-napa, Aku gak akan maafin Kamu." Ungkap Kesya kemudian meninggalkan Raka yang terdiam di tempatnya.
"Aku terus aja yang salah." Umpat Raka pelan.
Di Tempat Latihan Ari.
Ari tengah berlatih beladiri, tiba-tiba pelatih Ari datang dengan seorang Anak Putri yang mengenakan seragam silat.
"Semakin lama, Kamu semakin hebat Ari." Puji pelatih tersebut.
"Terimakasih Pak, semua itu karena Ilmu dari Bapak." Jawab Ari tersenyum.
"Oh iya Ari, perkenalkan. Ini Gita, partner Kamu. Dia yang akan mewakili perguruan Kita bersama Kamu. Dia mewakili anak putri dan Kamu mewakili Anak Putra." Ucap Pak Andi memperkenalkan.
"Hay, Namaku Gita." Sapa Gita.
"Nama Aku Ari." Ari menjabat tangan Gita.
"Bapak harap Kalian bisa berlatih bersama dengan baik, saling membantu dan saling mendukung. Karena mulai sekarang Kalian akan berlatih bersama-sama Sampai perlombaan itu." Harap Pak Andi.
Ari dan Gita pun berlatih bersama, dengan bimbingan dan pengawasan dari Pak Andi.
Di Taman.
__ADS_1
Kesya dan Raka telah berkeliling mencari keberadaan Ara, tetapi Mereka tidak juga menemukannya.
"Kamu dimana si Nak, Maafin Mama ya udah teledor jagain Kamu." Ungkap Kesya yang mulai cemas.
"Kamu tenang ya, jangan gelisah. Ara pasti ketemu." Raka berusaha menenangkan Kesya.
"Ini salah Kita Mas, seharusnya tadi Kita gak berantem. Jadi Kita gak kehilangan Ara, sekarang Kita gak tau Ara ada dimana." Rengek Kesya.
"Udah Kamu tenang aja ya, Aku akan suruh orang-orang bayaran untuk cari Ara sampai ketemu. Lebih baik sekarang Kita pulang dulu. Kita bersih-bersih badan baru cari Ara lagi." Raka menggandeng tangan Kesya untuk kembali ke rumah.
Di lain tempat.
Ari telah menyelesaikan latihan, kini Ia berjalan melalui jalan yang biasa Ia lalui. Ia berlari ketika melihat tulisan yang terpasang di pagar rumah Cinta.
"Itu ada tulisan apa ya, dirumah Cinta." Ucap Ari. Ari melihat Cinta tengah berdiri di depan rumahnya dengan wajah murung.
"Cintaaaa" Ari memanggil Cinta dan menghampirinya.
"Ari…" Jawab Cinta.
"Kenapa rumah Kamu tulisannya dijual? Kamu kemana aja. Aku cariin Kamu." Ucap Ari.
"Maaf ya Ari, tapi mulai sekarang Kita gak bisa main sama-sama lagi." Ucap Cinta.
"Kenapa gak bisa?" Tanya Ari.
"Aku harus ikut Papa Aku ke luar negeri. Jadi rumah ini dijual." Jawab Cinta.
"Jadi Aku gak punya teman lagi dong." Protes Ari.
"Aku janji sama Kamu, setelah besar nanti. Aku pasti kembali dan cari Kamu." Ucap Cinta mengajak Ari untuk janji kelingking.
"Aku juga akan tunggu Kamu kembali ke sini lagi." Ucap Ari.
Cinta mengambil boneka kesayangannya dan memberikannya kepada Ari.
"Ini kenang-kenangan dari Aku buat Kamu, Kamu simpan ya." Pinta Cinta.
Ari menerima boneka pink kesayangan Cinta.
"Aku akan jaga boneka ini dengan baik. Kamu tenang aja." Jawab Ari.
"Aku senang bisa berteman sama Kamu." Ucap Cinta.
"Aku juga senang." Jawab Ari.
__ADS_1
"Ayo Kita main bersama untuk yang terakhir kalinya." Cinta menarik tangan Ari menuju taman. Mereka bermain ayunan bersama.