Anak Genius: Milikku Milikmu.

Anak Genius: Milikku Milikmu.
BAB 72 TERBUKANYA PINTU HATI


__ADS_3

Ari berlari menuju taman, Fillia berhasil mengejar Ari dan memeluknya. Fillia tahu, saat ini pasti Ari tengah bersedih.


"Jangan sedih ya Ari, Tante gak akan biarkan posisi Mama Kamu digantikan." Ucap Fillia mencoba menenangkan Ari.


"Tante, Ari mau ke makam Adek. Ari juga mau ketemu sama Mama. Ari gak mau pulang." Pinta Ari kepada Fillia.


"Yaudah kalo gitu Tante anterin Kamu ke makam ya, setelah itu Kita ke rumah Tante." Fillia menyetujui permintaan Ari. Dari kejauhan nampak Raka yang semakin mendekat berlari menghampiri Ari.


"Tante, Ari gak mau ketemu sama Ayah. Ayo Kita pergi Tante." Pinta Ari menarik-narik tangan Fillia.


"Ari, Kamu masuk mobil duluan ya, Tante mau ngomong dulu sama Ayah Kamu." Pinta Fillia, Ari pun menyetujui lalu bergegas menuju mobil Fillia.


"Arii, tunggu." Raka berusaha mengejar Ari tetapi Fillia menahannya.


"Aku bener-bener kecewa sama Kamu Raka, apalagi Ari. Mungkin Ari sangat-sangat kecewa sama Kamu." Umpat Fillia.


"Maaf, Aku gak bisa nolak permintaan Mami Aku, apa Aku salah?" Tanya Raka.


"Kamu salah Tuan Raka, Kamu bener-bener salah. Kamu mikirin perasaan Mami Kamu, tapi apa Kamu mikirin Ari?" Tanya Fillia dengan menunjuk wajah Raka.


"Aku jelas ingin yang terbaik buat Ari." Jawab Raka.


"Yang terbaik, yang terbaik gimana maksud Kamu? Raka, denger ya! Kesya pergi baru aja sebulan lho, dan Kamu malah memutuskan untuk menikah lagi. Apa secepat itu?" Protes Fillia, Raka hanya terdiam.


"Yang perlu Kamu tahu adalah, orang yang paling terluka disini adalah Ari, Dia kehilangan Adiknya, kehilangan Mamanya, dan Kamu mungkin ada di sisi Dia, tapi Kamu seperti gak ada untuk Dia." Fillia mengeluarkan unek-uneknya.


"Tuan Raka yang terhormat, Aku adalah orang yang tahu gimana perjuangan Kesya dari Dia menanggung beban hamil diluar nikah hingga melahirkan dan membesarkan Anak-anak. Dia bener-bener bahagia waktu itu. Tapi Kamu, setelah Kamu datang semuanya hancur." Fillia mengungkapkan kekesalannya.


"Kamu bener, Aku salah disini." Ucap Raka menyesali apa yang telah terjadi.


"Lebih baik Kamu pikirkan lagi, menikah atau nggak." Ucap Fillia kemudian meninggalkan Raka. Raka hanya terdiam, merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Kesya.

__ADS_1


Beberapa hari kemudian, Bu Lidya telah keluar dari rumah sakit. Ari tetap pulang ke rumah tetapi Ia lebih banyak diam. Fillia pun masih tetap memberikan perhatian kepada Ari. Raka berkali-kali mencoba mendekati Ari, tetapi Ari tidak menggubris perlakuan Raka.


Sore hari di sebuah taman, Bu Lidya tengah bermain ponsel di atas kursi rodanya. Tiba-tiba saja, ada sekelompok orang yang menarik ponsel Bu Lidya dan Orang tersebut mendorong kursi roda milik Bu Lidya. Bu Lidya sangat panik saat itu, kursi rodanya terus melaju hingga ke tempat yang terjal.


"Wah kalo Aku jatuh, bisa hilang nyawa Aku." Batin Bu Lidya, Ia pun berteriak meminta tolong.


"Tolongggggggg" Bu Lidya memejamkan matanya karena merasa takut.


Dari kejauhan, Ari yang tengah berlatih kebugaran ditemani oleh Fillia mendengar suara Orang yang minta tolong, Ia pun berlari dan menghampiri sumber suara tersebut.


"Ari, Kamu mau kemana?" Fillia mengajar Ari yang berlari.


Ari mengambil langkah cepat, menahan kursi roda milik Bu Lidya. Kecelakaan pun berhasil digagalkan oleh Ari.


"Nek, Nenek udah aman sekarang." Ucap Ari, Bu Lidya pun membuka matanya perlahan, Ia merasa senang karena akhirnya Ia selamat. Tetapi Bu Lidya terkejut ketika melihat orang yang menyelamatkannya adalah Cucunya sendiri, Cucu yang selama ini tidak diakuinya. Bu Lidya pun meneteskan air mata.


"Nek, Nenek gak kenapa-napa kan? kok Nenek nangis?" Tanya Ari.


Fillia yang baru saja sampai pun menanyakan kabar Bu Lidya.


"Bu, Ibu gak papa kan? gak ada luka?" tanya Fillia.


"Iya, semuanya aman. Ari, Cucu Nenek, Apa boleh Nenek peluk Kamu?" Tanya Bu Lidya yang merasa sangat bersyukur karena masih diberikan keselamatan bahkan melalui tangan Cucunya sendiri yang menolongnya.


Ari terdiam, kemudian Dia memeluk Bu Lidya. Baru Kali ini, Ari merasakan memiliki seorang Nenek.


"Terimakasih ya Nak, Kamu sudah menyelamatkan Nenek." Bu Lidya mengucapkan terimakasih.


"Sama-sama Nek, Oh iya Nek. Nenek kesini sama siapa? Biar Ari antar pulang ya." Ucap Ari yang sebenarnya begitu peduli terhadap Bu Lidya.


"Sebenarnya Nenek kesini sama Meyra, tapi Dia tadi pamit pergi dan gak balik-balik." Jawab Bu Lidya.

__ADS_1


"Yaudah, Kalo gitu bareng Kita aja Bu." Tawar Fillia.


"Tapi Ponsel Saya tadi dijambret. Saya jadi gak bisa menghubungi Meyra." Jawab Bu Lidya.


"Kalo gitu, Bu Lidya temani Ari latihan silat aja. Sambil nunggu Meyra kembali ke sini." Tawar Fillia.


Akhirnya Fillia dan Bu Lidya pun menemani dan menyaksikan Ari berlatih silat. Meyra yang baru saja kembali pun merasa heran dengan apa yang dilihatnya.


"Tante, Tante itu kemana aja sih. Meyra cari dari tadi juga." Protes Meyra ketus.


"Kemana aja Kamu? Bu Lidya hampir celaka lho tadi. Kamu malah gak ada." Umpat Fillia yang jengkel melihat Meyra.


"Kok Kamu kayaknya ada masalah ya sama Aku? kenapa? Kamu marah sama Aku karena gak berhasil dapetin Raka?" Ledek Meyra kepada Fillia.


"Jaga mulut Kamu ya, sama sekali Aku gak pernah ada niat untuk dapetin Raka." Protes Fillia yang kesal dengan tuduhan yang dilontarkan Meyra.


"Udahlah Meyra, jangan berantem. Mereka ini yang udah bantuin Tante tadi." Bu Lidya mencoba menenangkan Meyra.


"Ihhh kok Tante jadi belain Dia sih." Protes Meyra kepada Bu Lidya.


"Bukannya gitu Mey, Tante gak mau aja Kalian berantem." Bu Lidya memberikan alasannya.


"Tau ah, Meyra kesel sama Tante." Ucap Meyra kemudian pergi meninggalkan Bu Lidya.


"Loh Meyra, Kamu mau kemana? masak Tante balik pulang sendiri." Protes Bu Lidya yang kebingungan bagaimana cara untuk pulang.


"Yaudah, Kalo gitu Nenek pulang bareng Kita aja." Ucap Ari menghampiri Bu Lidya.


"Tapi Nenek jadi gak enak sama Kalian." Ucap Bu Lidya yang merasa bersalah. Sebenarnya Bu Lidya bisa berjalan, tetapi demi misinya dengan Meyra Ia terpaksa berpura-pura tidak bisa berjalan.


"Udah, gak papa Tante. Lagipula Tante inikan Neneknya Ari." Ucap Fillia yang kini telah siap mendorong kursi roda Bu Lidya menuju mobil.

__ADS_1


"Ternyata Mereka adalah Orang baik, selama ini Aku menyia-nyiakan Cucuku. Ari benar-benar kasihan harus menanggung beban seberat ini. Kehilangan Adik dan juga Mamanya." Batin Bu Lidya yang mulai bersimpati terhadap Ari.


__ADS_2