
Di Kantor Polisi.
Raka datang bersama Fillia ke kantor polisi untuk membuat laporan atas menghilangnya Kesya. Mereka duduk menghadap Pak Polisi dan menceritakan apa yang terjadi.
"Jadi Bapak dan Ibu kesini, untuk melaporkan kehilangan?" Tanya Pak Polisi tersebut mengintrogasi Raka.
"Iya Pak, dan Saya menemukan sepatu, ponsel dan juga bajunya di sungai." Jawab Raka.
"Jadi Anda berfikir bahwa kemungkinan besar, Dia tenggelam dalam sungai tersebut?" Tanya Pak Polisi memastikan dan menulis keterangan yang disampaikan oleh Raka.
"Saya yakin Pak, tolong, tolong bantu cari keberadaan Istri Saya." Pinta Raka memohon kepada Polisi tersebut.
"Baik, laporan Bapak akan segera Kami proses. Pencarian akan segera dilakukan." Jawab Pak Polisi yang membuat Raka tenang.
Setelah melapor, Raka dan Fillia pun keluar dari ruangan. Fillia mencoba memberikan support kepada Raka.
"Kamu yang sabar ya, Aku percaya kalo Kesya pasti selamat. Aku tahu Dia wanita yang kuat. Dia pasti segera kembali ke Kamu dan juga Ari." Ucap Fillia yang ikut merasakan kehilangan.
"Makasih Fill, Aku juga yakin Kesya pasti kuat." Jawab Raka tersenyum tulus.
Setelah melaporkan bahwa Kesya menghilang dan Raka menduga Kesya menghilang di sekitar sungai. Mereka pun melakukan pencarian di sekitar sungai tersebut.
Hari demi hari berlalu, hari ini genap seminggu pencarian Kesya di tempat tersebut. Polisi pun menyampaikan kepada Raka bahwa waktu pencarian sudah terlalu lama, Mereka menyatakan bahwa Kesya telah meninggal karena tenggelam dan jasadnya dimakan oleh binatang buas yang ada di sana, karena banyak warga yang mengatakan bahwa di sungai tersebut kerap muncul buaya.
Polisi tersebut menghampiri Raka dan menyampaikan hal tersebut.
"Mohon maaf Pak Raka, Kami telah melakukan pencarian selama satu minggu, tetapi Kami tidak juga bisa menemukan Ibu Kesya." Ucap Pak Polisi meminta maaf.
__ADS_1
"Lalu bagaimana Pak?" Tanya Pak Raka yang mulai merasa kehilangan kepercayaan bahwa Kesya masih bertahan.
"Dengan ini Kami memutuskan untuk memberhentikan upaya pencarian dan menyatakan bahwa Ibu Kesya telah tiada." Ucap Pak Polisi yang membuat Raka merasa bersalah, karena mungkin hal ini tidak akan terjadi jika saat itu Raka jujur tentang Prisa kepada Kesya, sehingga tidak ada kesalahpahaman. Apalagi hal itu terjadi saat Kesya benar-benar terpuruk karena meninggalnya Ara.
"Kesya, kenapa Kamu ninggalin Kita." Ucap Fillia yang terkejut atas pernyataan dari Pak Polisi.
"Kalo waktu itu Aku gak bertengkar sama Dia, mungkin hal ini gak akan terjadi ini semua salah Aku." Raka mengumpat dirinya sendiri.
"Udah Raka, ini memang takdir. Tolong Kamu jangan kayak gini, kasihan Ari." Ucap Fillia mengingatkan Raka.
"Raka, saat ini yang paling terpuruk adalah Ari. Dia masih kecil, Dia cuma punya Kamu sekarang, Dia sangat butuh dukungan dari Kamu." Fillia mencoba mengingatkan Raka.
"Kamu bener, Aku harus Kuat, Karena Ari butuh Aku." Ucap Raka yang berusaha tegar demi Ari.
Setelah pernyataan bahwa Kesya telah tiada, Orang yang ada di rumah pun terkejut akan hal itu, terutama Bu Lidya. Ia sangat merasa senang mendengar kabar tersebut. Bu Lidya segera menemui Meyra dan menceritakan berita yang baru saja Dia dengar.
Meyra tersenyum puas ketika mendengarkan cerita dari Bu Lidya.
"Iya dong Tante, semua ini adalah rencana Aku. Jadi sebentar lagi Raka akan kembali sama Aku." Ucap Meyra dengan angkuhnya.
"Jadi rencana Kamu selanjutnya apa?" tanya Bu Lidya yang sangat antusias mendengarkan penjelasan dari Meyra.
"Tante harus bantu Aku." Ucap Meyra kemudian berbisik kepada Bu Lidya tentang rencana yang telah dibuatnya.
Bu Lidya mengangguk, tanda bahwa Ia mengerti, dan setuju dengan permintaan Meyra.
"Gimana Tante? Tante mau kan? demi Meyra." Ucap Meyra memastikan.
__ADS_1
"Itu mah gampang, pokoknya rencana Kamu gak akan gagal." Jawab Bu Lidya mengacungkan jempolnya.
Acara pengajian berlangsung pada saat malam hari di kediaman Raka, Fillia sebagai sahabat baik Kesya pun sangat peduli terhadap Ari. Apalagi Ari merasa nyaman dengan Fillia karena merupakan orang yang telah mengasuhnya sejak kecil.
Fillia terus memeluk Ari ketika pengajian berlangsung, seolah memberikan semangat untuk Ari. Meyra dan Bu Lidya yang melihat hal tersebut benar-benar merasa jengkel. Mereka khawatir jika Raka akan simpati kepada Fillia.
Di tengah pengajian, Fillia pamit untuk pergi ke kamar mandi. Melihat hal tersebut, Meyra tidak ingin kehilangan kesempatan. Ia segera mengikuti langkah Fillia dan menunggu Fillia kembali dari kamar mandi.
Tak berapa lama, Fillia pun keluar, Ia melewati Meyra dan Meyra pun menyapanya dengan perkataan yang tidak pantas.
"Pelakorrr." Celetuk Meyra yang tidak dipedulikan oleh Fillia, melihat hal tersebut Meyra pun benar-benar geram. Ia melangkah mendahului Fillia dan menghalangi jalannya. Fillia pun berhenti karena itu.
"Ini ada apa ya? kenapa tiba-tiba menghalangi jalan Saya?" Tanya Fillia yang tidak mengerti maksud dan tujuan dari Meyra yang tiba-tiba menghentikannya.
"Aku mau ngomong sama Kamu." Jawab Meyra ketus.
"Kalo mau ngomong, yaudah ngomong aja." Ucap Fillia yang sebenarnya merasa jengkel dengan tingkah Meyra.
"Aku cuma mau ingetin sama Kamu, nggak usah deh caper sama Raka dengan sok dekat sama Ari. Emang Kamu gak kasihan sama almarhumah Kesya? masak sahabat nikung sahabat. Oh atau jangan-jangan Kamu adalah dalang dibalik kematian Kesya ya? Kamu sengaja berencana menenggelamkan Kesya supaya Kamu bisa dapetin Suaminya." Umpat Meyra panjang lebar sembari menunjuk wajah Fillia. Fillia tersenyum meledek mendengar hal tersebut.
"Kamu kok ngomong gitu si? Kayaknya Kamu tahu banget kronologi kematian Kesya ya? atau jangan-jangan Kamu yang ngakuin itu ya." Ucap Fillia dengan tatapan tajamnya.
"Jangan mengelak deh, Kamu emang berniat jahat kan?" Meyra gugup, Ia masih saja menunjuk wajah Fillia dengan jari telunjuknya.
"Meyra.... Meyra..... Satu jari Kamu memang menunjuk ke Aku, Tapi coba Kamu lihat. Empat jari kamu yang lainnya, justru mengarah ke diri Kamu sendiri. Mungkin aja Kamu melempar kesalahan itu ke Aku, tapi kebenaran pasti akan terungkap nantinya. Kamu tunggu aja tanggal mainnya." Jawab Fillia dengan penuh percaya diri. Hal itu tentunya membuat Meyra merasa gugup, Ia menurunkan tangannya yang Ia gunakan untuk menunjuk. Wajahnya benar-benar terlihat sedang menyembunyikan kemarahan.
"Kenapa Meyra? Kok Kamu jadi gugup sih? Kamu takut ketahuan?" Fillia terus membuat Meyra merasa was-was.
__ADS_1
"Jangan sembarangan ya Kalo ngomong, Aku gak tau apapun tentang Kesya." Ucap Meyra kemudian pergi meninggalkan Fillia karena merasa kalah.
"Kamu tunggu aja tanggal mainnya, Nyonya Meyra. Aku akan pastikan Kamu akan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan apa yang udah Kamu perbuat." Ungkap Fillia yang seakan mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Kesya.