Anak Genius: Milikku Milikmu.

Anak Genius: Milikku Milikmu.
BAB 62 SELAMAT JALAN ARA


__ADS_3

Kesya terdiam sejenak, bagaimana bisa ponsel suaminya tertinggal di rumah seorang wanita. Siapa Wanita itu? Tetapi pikirannya terhenti ketika pintu ruangan mulai terbuka.


Dokter Dimas keluar dengan wajah yang lesu. Dengan berberat hati Dokter Dimas menyampaikan kabar yang mungkin akan menyakitkan.


"Dok, gimana Dok dengan keadaan Cucu Saya?" Tanya Pak Wira.


"Saya meminta maaf karena tidak bisa menolong banyak, Kami sudah berusaha sebaik mungkin. tetapi sepertinya Tuhan sangat menyayangi Ara. Dengan berat hati Saya harus sampaikan bahwa Ara telah pergi menemui tuhan lebih dahulu. Ara telah meninggal dunia." Ucap Dokter Dimas.


"Ngakkkkk nggak mungkin dong, Ara pasti masih bisa sadar Dok. Tolong dicek lagi." Kesya berlari masuk kedalam ruangan.


Ari dan lainnya pun mengikuti Kesya. Terlihat Ara yang terbaring dan tertutup oleh selimut hingga menutupi wajahnya.


Kesya membuka selimut tersebut hingga nampak wajah Ara dengan tersenyum manis. Tetapi wajahnya benar-benar pucat karena telah tidak bernyawa. Kesya menangis histeris ketika melihat mayat putri kesayangannya itu.


"Arrrraaaaaa bangun Nak, jangan tinggalin Mama Sayang." Kesya memeluk tubuh putrinya.


Ari menangis dan Pak Wira memeluk Ari.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Kamu yang sabar ya Nak." Ucap Pak Wira membelai rambut Kesya pelan.


"Kesya emang gak becus Pi, Kesya gagal jagain Ara. Ini semua salah Kesya Pi." Kesya menyalahkan dirinya sendiri.


"Jangan menyalahkan diri sendiri Nak, ini semua memang sudah takdir. Kamu harus ikhlaskan Ara ya." Ucap Pak Wira menenangkan.


Bu Lidya dan Meyra hanya terdiam. Meyra merasa takut jika Ia sampai ketahuan bahwa penyebab kematian Ara adalah Dia. Tapi Dia mencoba menenangkan diri karena Ia tidak meninggalkan jejak bukti apapun.


Kesya merasa sangat terpukul, matanya berkunang-kunang, kepalanya terasa pening.


Tiba-tiba Kesya terjatuh, beruntung dengan sigap Dokter Dimas yang berada dibelakangnya pun menangkapnya.


"Bu Kesya." Ucap Dokter Dimas tersebut.


"Dok, tolong Dok, tolong Mama." Ucap Ari yang merasa khawatir.


"Iya, pasti Saya bantu." Ucap Dokter Dimas kemudian mengangkat tubuh Kesya.


"Wah ini bahan bagus, Aku bisa jadiin ini sebagai bahan untuk menghancurkan rumah tangga Raka." Batin Meyra yang diam-diam mengambil foto ketika Dokter Dimas meletakkan Kesya di atas tempat tidur.


Dokter Dimas pun segera menangani Kesya. Sedangkan Pak Wira mempersiapkan pengajian di Rumah. Pak Wira berkali-kali menghubungi Raka, tetapi tidak ada tanggapan. Begitupun dengan Toni, sepertinya Mereka masih tidur.

__ADS_1


Di Rumah Raka Jam 7 Pagi.


Raka dan Toni tiba di rumah, Mereka memiliki perasaan yang tidak enak karena melihat sekeliling Rumah ramai oleh orang yang memakai baju hitam layaknya melawat. terpasang bendera kuning dirumah mewahnya.


Raka pun bertanya-tanya, Ada apa sebenarnya? Siapa yang meninggal?.


Raka mempercepat langkahnya memasuki rumah, dilihatnya banyak orang berkerumun membacakan doa.


Kesya memeluk Ari masih dengan air mata yang terus membasahi pipinya, matanya bahkan membengkak karena terlalu lama menangis. Lantas dimana Ara? pikir Raka.


Raka bergegas menghampiri Kesya, dia duduk mendekat dan bertanya.


"Dimana Ara? Siapa yang meninggal?" Tanya Raka.


"Ara, udah gak ada Mas, Ara udah meninggal dunia." Jawab Kesya lirih.


Seketika dengan sendirinya air mata jatuh, seakan tak percaya karena semua terjadi begitu cepat. Mengapa Tuhan mengambil Putri kesayangannya.


Raka membuka selimut yang menutupi wajah Ara. Raka benar-benar menyesal karena Ia tidak berada di samping Ara, di saat-saat terakhirnya.


"Ara, kenapa Kamu pergi begitu cepat Nak. Kenapa Kamu tinggalkan Kami." bisik Raka.


"Lebih baik, Kamu segera bersiap-siap untuk acara pemakaman Ara." Ucap Pak Wira.


Raka pun menuruti perintah Ayahnya, Ia segera berganti pakaian.


Di Pemakaman


Pemakaman dilaksanakan pukul 09.00 pagi, suasana benar-benar duka. Anak kecil yang menggemaskan kini telah pergi.


Tidak ada keusilannya lagi, tidak ada keceriaannya lagi, tidak ada kenakalannya lagi.


Untuk terakhir kalinya, Raka mengumandangkan adzan di telinga putrinya.


Ia tak mampu membendung air matanya.


"Dulu Ayah tak sempat mengumandangkan adzan ketika Kamu lahir Nak, dan sekarang Ayah kumandangkan adzan di telingamu, untuk yang terakhir kalinya. Selamat tinggal Anakku, selamat jalan Ara." Batin Raka.


Acara pemakaman pun selesai, Para warga mulai meninggalkan pemakaman. Tidak dengan Kesya yang masih ditempat tersebut dengan setia menemani tampar peristirahatan terakhir Putrinya.

__ADS_1


"Selamat tidur Putriku, tidur yang nyenyak ya Sayang, Maaf karena Mama gak bisa menjaga Kamu dengan baik." Ucap Kesya.


"Seorang Mama akan selalu menyayangi Anaknya, Walaupun Kamu gak ada disisi Mama, tapi Kamu selalu ada disini, di hati Mama." Ucap Kesya menyentuh bagian hatinya.


"Selamat tinggal Ara, selamat jalan Putri kecil Mama. Mama selalu sayang sama Kamu." Ucap Kesya kemudian mengusap dan mencium nisan milik Ara.


Kesya kemudian berdiri, semua keluarga telah kembali lebih dulu. Kecuali Raka yang masih menunggu Kesya dengan setia.


Raka sebenarnya masih ingin mengetahui apa penyebab kematian Ara, tetapi Ia tak tega melihat kondisi Kesya yang benar-benar kehilangan. Begitu juga dengan Kesya yang sebenarnya merasa kecewa dengan Raka, banyak pertanyaan yang ada dipikirannya. Tetapi Dia tahu bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahas hal tersebut.


Saat hendak kembali ke mobil, Mereka berpapasan dengan Ari yang ditemani oleh Toni.


"Loh Nak, kok Kamu balik?" Tanya Kesya.


"Ari mau pamitan untuk yang terakhir kali sama Adek, boleh?" Tanya Ari.


"Yaudah, Mama antar ya Sayang." Tawar Kesya, tetapi ditolak oleh Ari.


"Boleh Ari ditemenin sama Om Toni aja?" Pinta Ari.


"Yaudah, tapi Kamu hati-hati ya." titah Kesya.


"Ari janji." Jawab Ari.


"Ton, tolong jaga Ari ya, biar Aku antar Kesya ke mobil." Pesan Raka.


"Siap Boss." Jawab Toni.


Raka dan Kesya pun kembali ke mobil, sedangkan Ari kembali ke pemakaman Ara.


"Dek, Maafin Kakak karna gak bisa menjaga Kamu dengan baik, maaf juga karena Kakak gak bisa lindungi Kamu. Selama ini Kakak kurang menghabiskan waktu untuk bermain bersama Kamu." Ucap Ari.


Ia mengeluarkan benih bunga yang diberikan oleh Toni, kemudian Ia menanamnya di tempat peristirahatan Adiknya.


"Kakak tanam bunga ini untuk Kamu, agar Kamu tahu bahwa Kamu gak sendirian. Bunga ini akan menemani Kamu." Ucap Ari, Toni yang menyaksikan hal tersebut merasa bersedih.


"Kakak janji sama Kamu Dek, Kakak akan menjaga Mama dan juga Ayah. Kakak janji." Ucap Ari dengan tegas.


"Selamat tinggal Ara, Selamat jalan Adek tercinta. Kakak akan selalu merindukan Kamu. Kamu mungkin udah gak ada di dunia ini, tapi Kamu akan selalu ada di hati Kakak." Ucap Ari.

__ADS_1


Benar-benar kata yang menyentuh hati, membuat siapapun yang mendengarnya ikut merasakan arti kehilangan.


__ADS_2