
"Mamaaaaa." Ara dan Ari memeluk Mama mereka yang berada di luar.
"Tuan, Nona mohon lepaskan tamu ini." pinta pengawal.
"Pak, biarin aja dia masuk." titah Raka kemudian.
"Mama ayo kita makan sama Ayah." Ajak Ara.
"Nggak sayang, kita harus pulang sekarang." ajak Kesya menarik tangan kedua anaknya tetapi mereka tidak bergerak.
"Kamu gak lihat ya, mereka gak mau pulang." ucap Raka.
"Ma, ayo kita makan malam sama sama." Ajak Ara.
"Udahlah Key, kita makan aja dulu. Nanti baru kita pulang." bisik Fillia.
"Yaudah terpaksa aku mau makan disini demi anak anak." bisik Kesya.
Mereka akhirnya menghabiskan waktu untuk makan malam bersama.
"Raka , aku mohon sama kamu. Tolong biarin mereka pulang sama aku, udah cukup penderitaan aku selama ini. Jangan pisahkan aku sama mereka." pinta Kesya.
Raka tersenyum licik, kemudian berdiri dengan angkuh.
"Aku gak akan pernah pisahkan Ibu dan Anak." Jawab Raka.
"Alhamdulillah, jadi mereka udah boleh pulang kan?" tanya Kesya dengan senyum yang mengambang.
"Siapa bilang aku izinin mereka pulang, mereka adalah tanggung jawab saya. jadi bukan mereka yang pulang. Tapi kamu yang harus menetap disini." jawab Raka.
"Yeeee tinggal sama Mama sama Ayah." Ara bersorak kegirangan.
"Menetap disini? kamu udah gak waras ya? kita ini kan bukan muhrim." protes Kesya.
"Emang kenapa? Rumah ini besar. disini juga banyak orang kok." jawab Raka.
"Gak, aku gak mau tinggal disini." tolak Kesya.
"Terserah kamu, kalau kamu gak mau tinggal sama anak anak. Aku udah kasih kesempatan buat kamu." ucap Raka.
"Kenapa si Mama gak mau tinggal disini sama Ayah." Ara menundukkan kepalanya dan meneteskan air matanya.
"Sayang, kamu jangan nangis dong. Yaudah iya kalo itu bikin kamu bahagia. Mama akan tinggal disini sama kalian." ucap Kesya mengusap air mata Ara.
Ara memeluk Kesya dan mengedipkan sebelah matanya kepada Raka. Raka yang melihat itu berusaha menyembunyikan senyumnya.
"Yah berarti aku tinggal di rumah sendirian dong." ucap Fillia.
"Tante tinggal disini aja, boleh kan yah?" tanya Ara.
"Boleh, kamu sekalian tinggal disini aja. Karena kamu udah berjasa urus si kembar." ucap Raka.
__ADS_1
"Serius aku tinggal di rumah gedong ini?" tanya Fillia tak percaya.
"Iya, Ton kamu tolong antar dia kekamar tamu nomer 5 ya." pinta Raka.
"Asiapp Boss, Ayo kamu ikut aku." ajak Toni.
Kemudian Fillia mengikuti langkah Toni.
Mereka melewati beberapa pintu yang ternyata adalah sebuah kamar.
"Waaaahhh Kesya beruntung banget bisa punya anak sama orang kaya." batin Fillia.
"Wah kamarnya banyak banget, udah kayak hotel." ungkap Fillia terpukau.
"Ya iyalah. Raka prawira gitu." jawab Toni.
"Pintunya aja udah mewah banget gimana dalamnya." ucap Fillia.
"Jadi cewek norak banget si kamu." protes Toni.
"Ih biarin aja. aku kan emang gadis desa." jawab Fillia.
"Gadis desa aja bangga, dasar." ledek Toni.
"ih kamu mah gak boleh sombong gitu, nanti kalo naksir sama aku baru tau rasa kamu." ledek Fillia.
"Aduh mana mungkin aku naksir sama kamu. gak mungkin kaliiii." tolak Toni.
"Emang kamu tau nantinya. lihat aja aku akan bikin kamu ngejar ngejar aku." ungkap Fillia.
"Emang nyebelin banget kamu ya." umpat Fillia.
kemudian Toni membukakan pintu kamar yang akan dipakai oleh Fillia.
"Wahh kasurnya kayaknya empuk banget." Filia melompat di atas kasur.
"Heh turun kamu, jangan kayak anak kecil." Toni berusaha menarik baju Fillia.
"Woooo" Fillia berteriak karena terjatuh dari kasur, beruntung Toni dengan sigap menangkap tubuhnya.
Mata mereka saling bertemu, hingga Toni tidak sadar saat ini Fillia tengah berada di gendongannya.
"Walaupun dia norak tapi cantik juga si." batin Toni yang meneliti wajah Fillia.
"ihhhhhh, kamu ngapain malah gak nurunin aku."Fillia memukul bahu Toni.
"Ya sabar dong." jawab Toni melempar Fillia ke kasurnya.
"Kasar banget si, lagian kenapa tadi kamu lihatin aku sampe kayak gitu. Kamu pasti naksir kan sama aku." Ledek Fillia.
"Tau ah ngomong sama kamu gak ada habisnya. Mending aku keluar sekarang." Toni keluar dari kamar tersebut.
__ADS_1
"Yaampun gemes juga asistennya Raka." batin Fillia tersenyum sendiri.
Di kamar anak anak.
Kesya tengah membacakan buku dongeng untuk kedua anaknya agar bisa tertidur.
"Lalu sang pangeran dan sang putri pun hidup bersama bahagia selamanya." Kesya mengakhiri Dongeng yang ia baca kemudian menutup buku tersebut.
"Yaampun mereka ternyata udah tidur." ucap Kesya kemudian memakaikan selimut kepada kedua anaknya.
"Mungkin untuk kali ini memang Mama harus mengalah, membiarkan Ayah kalian mendekati kalian." Ucap Kesya yang berdiri sambil memandang wajah kedua anaknya.
Tiba tiba Kesya merasakan ada yang tengah berdiri dibelakangnya.
"Baguslah kalau kamu sadar, seharusnya kamu tu ngalah sama mereka. Mereka itu butuh Aku sosok seorang Ayah." Ucap Raka.
Kesya hanya terdiam kemudian berlalu hendak meninggalkan Raka tetapi Raka menahannya.
"Kenapa? kamu merasa kalah? atau cemburu sama aku." tanya Raka.
"Udahlah, lepasin tangan aku. aku lagi males berdebat sama kamu." Pinta Kesya.
"Aku gak mau berdebat sama kamu kok, ada yang mau aku omongin sama kamu." ucap Raka.
"Besok aja ya, aku udah capek untuk hari ini." tolak Kesya.
"Ini tentang harta milik Ayah kamu." ungkap Raka.
"Maaf ya Raka, tapi aku gak pernah mempermasalahkan materi jadi menurut aku itu semua gak penting." jawab Kesya.
"Mungkin itu gak penting buat kamu, tapi aku gak terima kalo orang yang udah membuat kamu menderita, bahagia dengan apa yang seharusnya menjadi milik kamu." ungkap Raka.
Kesya terdiam sejenak mencerna apa yang dibicarakan oleh Raka.
"Iya kamu bener, aku mungkin gak peduli sama harta itu. Tapi mereka sangat mencintai harta. Aku gak bisa biarin mereka bahagia diatas penderitaanku. Aku gak akan biarin mereka menang." ucap Kesya yang bertekad untuk merebut kembali miliknya.
"Bagus, kalo gitu aku akan bantu kamu agar bisa merebut harta kamu lagi." Raka mengulurkan tangannya , mengajak Kesya untuk bersalaman.
"Tapi kamu jangan lupa kalau kamu juga yang udah bikin aku menderita." ucap Kesya.
"Ohh gitu, kalau waktu itu kamu gak ketemu sama aku, kamu pikir kamu bakal ketemu sama si kembar. kamu lupa kalau aku ini Ayahnya. Kamu nyesel atas kehadiran mereka?" tanya Raka.
" Apa si kamu? Selalu aja ngaku ngaku ayah mereka." protes Kesya mendorong tubuh Raka.
"Loh tapi emang bener kok." ucap Raka mendekatkan wajahnya.
"Udahlah, kamu gak usah coba deketin aku terus." Kesya salah tingkah karena perlakuan Raka ia meninggalkan Raka.
"Kesya, aku akan bikin kamu Nerima aku. Aku gak akan menyerah demi anak anak." janji Raka.
"Kenapa aku seneng dengar dia ngomong gitu ya." batin Kesya kemudian meninggalkan kamar tidur anak anak.
__ADS_1
"Putri kecil dan pangeran kecil Ayah, Ayah janji gak akan menyerah meluluhkan hati Mama kalian yang membeku itu." ucap Raka kemudian mencium kening kedua anaknya.
bersambung........