
keesokan harinya, Raka, Kesya dan Ari telah berada di makam Ara. Raka memimpin doa, setelah menyelesaikan doanya. Kesya mengusap pelan nisan Ara sembari bercerita.
"Sayang, Mama harap Kamu sekarang udah bahagia disana ya. Kamu tenang aja, penjahat yang sudah membuat Kita terpisah. Udah berhasil ditangkap." Ucap Kesya menitikkan air matanya.
"Ayah minta maaf Ara, karena saat terakhir Kamu. Ayah gak bisa nolongin Kamu." Raka merasa bersalah karena telah lalai.
"Ayah berjanji Ayah akan jaga Mama dan juga Ka Ari dengan baik." Ucap Raka sambil mengelus nisan Putrinya.
"Sekarang Ara sudah tenang di tempat Dia yang baru. Kita pamit pulang dulu, Kita akan selalu mengingat Kamu Ara." Raka berpamitan. Merekapun berdiri dan pergi dari tempat itu.
Merelakan kepergian Ara dengan lapang dada, dan berharap yang terbaik untuk keluarga kecil Mereka.
Saat hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba telepon Kesya berbunyi. Ketika mengetahui bahwa yang meneleponnya adalah Fillia, Kesya segera mengangkat telepon tersebut.
"Halo Fill." Sapa Kesya.
"Halo Key, Kamu sibuk gak hari ini?" Tanya Fillia lewat telepon.
"Kayaknya nggak si, emangnya ada apa Fill?" Kesya kembali bertanya.
"Bisa nggak, Kita ketemu di restoran Sultan. Kamu sekalian ajak Raka. bisa?" Pinta Fillia.
"Bisa kok, kebetulan ini Kita lagi diluar. Kita langsung kesana ya." Kesya menyanggupi permintaan Fillia.
"Oke, Aku juga kesana sekarang deh. Sampai ketemu disana ya." Ucap Filia kemudian mematikan teleponnya.
"Dari siapa?" Tanya Raka yang tiba-tiba berada di belakang Kesya.
"Dari Fillia, Dia ngajak ketemu sama Kamu juga. Kayaknya ada sesuatu deh." Jawab Kesya.
"Yaudah kalo gitu, kapan ketemuannya?" Tanya Raka.
"Sekarang di restoran sultan, boleh?" Kesya meminta izin.
"Yaudah buruan masuk, kasihan Fillia kalo harus nunggu." Jawab Raka membukakan pintu mobil untuk Kesya.
Di Rumah Raka.
Toni tengah memperhatikan persiapan pesta kembalinya Raka dan Kesya. Ia melihat-lihat dekorasi yang telah tertata.
"Gimana Ton? Beres kan?" Tanya Bu Lidya yang menghampiri Toni.
"Beres Bu, Toni yakin besok acaranya akan berlangsung dengan sempurna." Jawab Toni mantap.
__ADS_1
"Apa ini? Kok ada kabel ditengah jalan. Ini bahaya Toni. Kamu gimana sih? Keamanan diperhatikan dong. Pokoknya Saya gak mau kalo sampai ada kecelakaan ya." Protes Bu Lidya.
"Iya Bu, sabar dong. Inikan baru proses pengerjaan. Ya Ampun cerewet banget si." Umpat Toni.
"Apa Kamu bilang? Kamu bilang Saya cerewet? Awas aja ya Kamu Toni. Aku suruh Raka buat ganti Kamu." Protes Bu Lidya yang tidak terima disebut cerewet.
"Ampun Bu, jangan gitu dong." Toni meminta maaf kepada Bu Lidya.
Pak Wira yang sedari tadi mendengarkan keributan pun menghampiri Toni dan Bu Lidya.
"Ini ada apa sih? Kenapa kok pada ribut?" Tanya Pak Wira yang baru datang.
"Ini ni Pi, masak Dia bilang Mami cerewet kan Mamingak terima Pi." Bu Lidya menyampaikan kekesalannya.
"Ya kan emang yang dibilang Toni itu benar Mi." Jawab Pak Wira spontan. Yang membuat mata Bu Lidya membulat sempurna.
"Papiiiiiii jadi gitu, Papi tega bilang Mami cerewet. Oke kalau gitu, awas aja Papi." Bu Lidya mengancam Pak Wira.
"Aduhhhh udah-udah. Ini kenapa malah pada berantem si? malu tau dilihatin orang." Protes Toni yang kemudian meninggalkan Bu Lidya dan Pak Wira untuk melanjutkan pekerjaannya.
Di Restoran Sultan
Raka dan Kesya telah tiba di restoran dan mencari keberadaan Fillia, dilihatnya Fillia tengah duduk bersama Dokter Dimas.
"Gak sengaja ketemu kali." Jawab Raka.
"Yaudah, yuk Kita samperin." Kesya menggandeng tangan Ari dan juga Raka menghampiri Fillia.
"Eh, Udah dateng, duduk Key. Aku udah pesenin makanan buat Kalian." Ucap Fillia mempersilahkan Mereka duduk.
Raka, Kesya dan Ari pun duduk di tempat yang telah dipersiapkan.
"Kamu mau ngomong apa sih Fill? Kok ada Dokter Dimas juga?" Tanya Kesya.
"Key, Aku mau berterimakasih sama Kamu. Karena udah percayakan perusahaan Kamu ke Aku. Tapi Aku minta maaf karena Aku gak bisa lanjutkan lagi mengurus perusahaan Kamu." Ucap Fillia.
"Kenapa Fill?" Tanya Kesya.
"Karena Aku gak berhak Key, yang berhak adalah Ari. Biar Ari yang mengurus semuanya kelak. Aku akan tetap bantu, tapi Aku gak mau kalo sebagai pemegang perusahaan." Ucap Fillia menggenggam tangan Kesya.
"Kenapa Fill? atau jangan-jangan Aku ada salah ya?" Kesya merasa bersalah.
"Bukan Key, Aku gak bisa Karena Aku mau menikah." Ucap Fillia yang membuat Kesya terkejut.
__ADS_1
"Apa? Kamu serius? Kamu mau menikah Fill? ini Kamu gak bercanda kan?" Kesya tak mampu membendung air matanya, Ia merasa bahagia hingga meneteskan air mata ketika mendengar perkataan Fillia.
"Iya Key, Besok Aku dan Fillia akan pergi ke kampung. Untuk melamar Fillia."Jawab Dokter Dimas.
"Jadi, calon suami Kamu Dokter Dimas?" Kesya benar-benar terkejut dengan kabar yang diberikan oleh Fillia, Fillia menjawab dengan anggukan.
Kesya memeluk sahabatnya itu erat. Kini tangis Mereka berdua pecah.
"Selamat ya Fill, Aku ikut bahagia kalau Kamu bahagia. Kamu adalah sahabat terbaik buat Aku."Ucap Kesya mengusap punggung sahabatnya.
"Makasih ya Key, Kamu juga sahabat terbaikku." Ucap Fillia.
"Aku berdoa dan berharap, semoga Kalian diberikan kelancaran sampai hari spesial itu tiba." Ucap Kesya masih terharu.
"Aamiin, makasih doanya ya." Ucap Fillia. Kini pelukan antara keduanya pun dilepaskan.
"Dok, jagain Fillia Lo ya, awas aja kalo Dokter berani sakitin Dia. Aku gak akan tinggal diam." Kesya memperingatkan Dimas.
"Aku pasti jaga Dia, bahkan dengan sepenuh jiwa dan hati tanpa siapapun suruh. Karena Dia benar-benar Wanita terbaik untuk Saya. Kamu tenang aja." Jawab Dokter Dimas dengan tegas.
"Jadi bulan depan rencananya Aku sama Dimas akan menikah." Ucap Fillia.
"Wah, bulan depan? cepet banget." Kesya terkejut dengan keputusan Fillia.
"Untuk apa nunggu lama-lama. Lebih cepat lebih baik." Jawab Fillia.
"Pokoknya Kamu tenang aja, Aku akan bantuin Kamu siapin semuanya." Ucap Kesya antusias.
"Makasih ya, baik banget si." Fillia merasa terharu dengan perlakuan Kesya.
"Selamat ya." Ucap Raka yang sedari tadi diam.
"Makasih Ka. Yaudah, yuk Kita makan. Sayang Lo makanannya dari tadi didiemin." Fillia mempersilahkan makan.
Mereka pun berbincang sembari menikmati makanan yang telah disajikan.
Kebahagiaan terpancar dari wajah Mereka.
"Aku lega, Fillia akhirnya menemukan lelaki baik yang akan menjaganya." Batin Kesya.
"Dan Aku percaya, bahwa dibalik kesulitan pasti ada jalan keluarnya, dan sekarang Aku sangat bersyukur. Walaupun harus kehilangan Ara, tapi Aku yakin Tuhan sudah mempersiapkan rencana terbaiknya." Batin Kesya.
#TAMAT#
__ADS_1