Anak Genius: Milikku Milikmu.

Anak Genius: Milikku Milikmu.
BAB 81 HAPPY ENDING


__ADS_3

Hari perayaan atas kembalinya Kesya telah tiba, di kediaman Raka digelar pesta secara meriah. Banyak tamu undangan yang hadir dalam acara tersebut.


Ari sibuk bermain dengan Kakek dan Neneknya, sedangkan Kesya dan Raka menyambut para tamu.


Bu Lidya, Pak Wira dan Ari pun menghampiri Raka dan Kesya.


"Selamat ya, Mami seneng akhirnya Kalian bisa bersatu." Ucap Bu Lidya.


"Makasih ya Mi." Raka menggenggam tangan Bu Lidya.


"Eh Kita punya hadiah spesial buat Kalian lho." Ucap Bu Lidya.


"Hadiah apa Mi?" Tanya Kesya yang antusias.


"Mana Ari, kasih amplopnya ke Mama sama Ayah Kamu." Titah Bu Lidya.


"Siap Nek." Jawab Ari kemudian memberikan amplop yang sedari tadi Dia bawa.


"Amplop? amplop apa ini Mi?" Tanya Kesya yang membolak-balik amplop tersebut, penasaran dengan isi dari amplop itu.


"Nggak tau, dibuka dong makannya." Jawab Bu Lidya yang saling melempar senyum dengan Pak Wira.


"Sini, biar Aku bantu buka." Raka membantu Kesya membuka amplop tersebut.


"Tiket liburan? wah makasih ya Mi, Pi." Kesya berterimakasih.


"Tapi ini kok cuma ada dua tiketnya?" Tanya Kesya.


"Iya, Mami sengaja pesen dua tiket untuk Kamu dan juga Raka. Karena Mami rasa kayaknya Kalian juga butuh bulan madu deh." Jawab Bu Lidya.


Kesya dan Raka saling menatap, seolah berat untuk meninggalkan Ari.


"Kalian tenang aja, Papi dan Mami pasti jagain Cucu kesayangan Kita." Pak Wira seolah mengetahui kegelisahan Kesya dan juga Raka.


"Iya Ma, Yah tenang aja. Ari juga bisa jaga diri baik-baik kok." Ari mengacungkan jempolnya.


"Kita percaya kok, sama Mami, Papi dan juga Ari." Jawab Kesya tersenyum manis kepada Putranya.


"Eh ini kan pesta Kalian, dinikmati dong masak dari tadi cuma nyambut tamu aja sih." Protes Pak Wira.

__ADS_1


"Terus Kita harus ngapain Pi?" Tanya Raka.


"Dansa dong. Pak, musiknya tolong diatur musik romantis ya. Anak Saya mau dansa nih." Titah Pak Wira.


Kini musik mengalun dengan pelan, suasana romantis mulai terasa. Raka mengulurkan tangannya di hadapan Kesya. Kesya melihat ke Mami dan Papinya yang dijawab dengan anggukan.


Kesya pun menggenggam tangan Raka, Mereka berjalan menuju altar dansa.


Kini Mereka berhadapan, Kesya meletakkan kedua tangannya di bahu Raka, sedangkan Raka meletakkan tangannya di pinggul Kesya. Kini mata Mereka saling menatap.


"Aku beruntung memiliki Istri secantik dan sebaik Kamu." Ucap Raka, Mereka melangkah ke kiri dan ke kanan masih dengan posisi tangan yang sama.


"Aku juga beruntung, Karena punya Suami sekolot dan sejutek Kamu. Heran deh." Kesya mulai jahil kepada Raka.


"Oh gitu ya, udah dipuji ini malah ngejek lagi." Protes Raka.


"Mas, Aku kira Kita gak akan bisa bersama lagi tau nggak? saat Aku kira Kamu punya Wanita lain. Bahkan mungkin Aku udah hampir menyerah."Ucap Kesya mengutarakan isi hatinya.


"Cinta akan membawa Kamu kembali ke Aku. Semoga setelah ini, udah gak ada lagi masalah yang menghampiri rumah tangga Kita." Harap Raka.


"Aamiin, Aku juga berharap seperti itu." Jawab Kesya yang lagi-lagi tak kuasa membendung air matanya.


Raka memeluk Kesya dengan erat. Seolah tak ingin berpisah lagi dengan Istrinya.


"Selama ini Aku terlalu egois mengatur Putraku, Aku ingin yang terbaik untuk Mereka. Tapi nyatanya apa yang Aku lakukan bukanlah yang terbaik untuk Mereka. Mereka sudah dewasa, seharusnya Aku membiarkan Mereka mencari kebahagiaannya sendiri. Aku bersalah karena selama ini ingin memisahkan Putraku dengan Wanita yang benar-benar Ia cintai. Aku terlalu egois." Batin Bu Lidya menyadari kesalahannya.


"Nek, Kenapa Nenek menangis?" Ari mengusap air mata Bu Lidya.


"Gak papa Nak, Nenek nangis karena senang melihat kebahagiaan Kalian." Jawab Bu Lidya.


Kemudian Bu Lidya tidak sengaja melihat Prisa dan Raja yang menjadi tamu undangan di Pesta tersebut.


"Tante. Maaf Saya kesini hanya untuk menghadiri undangan dari Raka." Ucap Prisa.


Bu Lidya menatap Raja lekat. Wajahnya mengingatkan Bu Lidya dengan Abi, Putranya yang telah meninggal.


"Prisa, Maafkan Saya. Saya sudah memisahkan Kamu dengan Abi. Saya menyesal." Bu Lidya menghampiri Prisa dan memeluknya.


"Tante, Aku udah maafin Tante. Bahkan sebelum Tante minta maaf." Ucap Prisa.

__ADS_1


"Bapak juga minta maaf karena waktu itu Bapak membantu Bu Lidya untuk memisahkan Kamu dari Abi." Ucap Pak Wira.


"Tante, Pak Wira. Masa lalu biarlah menjadi masa lalu, Prisa udah mengubur dalam-dalam masa lalu yang kelam itu." Ucap Prisa.


"Apa ini Anak Kamu?" Tanya Bu Lidya menunjuk Raja.


Prisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Iya, Dia Raja. Putra dari Mas Abi." Jawab Prisa yang kini berderai air mata.


"Cucuku.....Kamu mirip sekali dengan Abi, boleh Tante peluk Dia?" Bu Lidya meminta izin kepada Prisa. Prisa kembali menganggukkan kepalanya.


Pak Wira dan Bu Lidya memeluk Raja dengan penuh kasih sayang. Setelah melepaskan pelukannya, Prisa menjelaskan kepada Raja.


"Sayang, Mereka berdua adalah Kakek dan Nenek Kamu. Salim sama Mereka." Titah Prisa.


"Jadi Raja punya Kakek dan juga Nenek?" Raja begitu antusias. Ia pun mencium tangan Pak Wira dan juga Bu Lidya.


"Ari, Raja ini Kakak sepupu Kamu." Ucap Bu Lidya.


"Jadi Ari punya Kakak sepupu? wah seru dong, ayo Kak Kita main." Ari meraih tangan Raja kemudian mengajaknya bermain.


"Prisa, mulai sekarang tolong izinkan Kami ikut membiayai semua kebutuhan Kamu sebagai pengganti tanggung jawab Abi ya." Ucap Bu Lidya.


"Gak usah Tante." Tolak Prisa dengan lemah lembut.


"Pokoknya gak ada penolakan, Raja adalah keturunan dari keluarga Wira. Setidaknya demi masa depan Raja, jadi tolong diterima. Mulai sekarang panggil Saya Mami." Titah Bu Lidya.


Prisa terdiam memikirkan perkataan Bu Lidya, akhirnya Ia menyetujui permintaan Bu Lidya. Setelah itu Mereka mengobrol banyak hal tentang Raja.


Di Kampung.


Kini Dokter Dimas tengah duduk di ruang tamu tepatnya di rumah Pakde Fillia. Ia baru saja menyampaikan hajatnya untuk segera meminang Fillia.


Disana juga ada Fillia yang duduk dengan resah menantikan jawaban Pakdenya mengenai permintaan Dimas untuk meminang Fillia.


"Mohon maaf Nak Dimas, Bapak tidak bisa menerima." Jawab Pak Bambang yang membuat Fillia, Dimas dan Budhe Fillia terfokus ke Pak Bambang.


"Tolong Pak, Saya sangat mencintai keponakan Bapak. Saya tidak akan menyerah sampai Bapak menyetujui Kami." Ucap Dimas yang masih berusaha meluluhkan hati Pak Bambang.

__ADS_1


"Dengerin dulu kalo Saya ngomong, Saya gak bisa menerima. Karena yang bisa menentukan diterima atau tidaknya Saya serahkan ke Fillia sendiri." Jawab Pak Bambang yang membuat Fillia terharu dan memeluk Pakde dan juga Budhenya.


Dimas merasa lega dengan jawaban Pak Bambang. Mereka pun akhirnya membicarakan pernikahan tersebut.


__ADS_2