
Hari yang ditentukan telah tiba, Raka dan Kesya telah tiba di sebuah Penginapan yang akan Mereka gunakan untuk berbulan madu.
Mereka turun dari mobil, dan memandang sekelilingnya.
"Akhirnya Kita sampai juga ya Mas." Ucap Kesya menatap Raka.
"Iya, bagus ya pemandangannya." Ucap Raka.
"Pak tolong ambilkan koper di bagasi mobil terus bawakan ke kamar Saya ya." Titah Raka pada penjaga penginapan.
"Baik Pak." Jawabnya Kemudian melakukan apa yang diperintahkan.
Raka dengan tiba-tiba mengangkat tubuh Kesya. Kesya pun terkejut dengan tindakan Raka.
"Mas, Kamu apaan sih? ngagetin tau nggak." Kesya mengungkapkan kekesalannya.
"Biar Aku gendong Kamu sampai ke kamar." Ucap Raka kemudian membawa Kesya menuju tempat penginapannya.
"Ih Mas, malu sama Bapaknya." Protes Kesya.
"Emang kenapa sih? Kan Kita Suami-Istri." Jawab Raka.
Sepanjang perjalanan, Kesya terus memperhatikan wajah Suaminya itu sembari tersenyum.
"Ngapain Kamu senyum-senyum gitu?" Ucap Raka yang menyadari hal tersebut.
"Emang kenapa? gak boleh Aku senyum?" Protes Kesya.
Raka meminta penjaga untuk membuka pintu kamar karena Ia kesulitan jika harus membukanya dengan menggendong Kesya.
"Tolong buka pintunya, setelah itu Kamu boleh keluar." Ucap Raka.
Penjaga itupun menuruti permintaan Raka.
"Mas, gak papa Aku turun aja. Kasihan Bapaknya lho sampai harus bukain." Pinta Kesya.
"Udah deh diem, to itu juga emang tugas Dia." Jawab Raka, Ia kemudian meletakkan Kesya di atas ranjang dengan perlahan.
Kini mata Mereka saling menatap, wajah Mereka semakin mendekat. Seolah Mereka kembali seperti pengantin baru.
Kesya menjadi salah tingkah dengan tatapan Raka, bahkan wajah Mereka yang semakin dekat membuat wajah Kesya memerah.
"Srekkkk" Tanpa aba-aba, Raka menarik selimut dan menutupi tubuh Mereka. Mereka pun saling melepaskan kerinduan karena telah berpisah lama.
Setelah melakukan hal tersebut, Raka dan Kesya mensucikan diri bersama kemudian berkeliling melihat pantai.
Mereka berjalan menyusuri Pantai sembari bercerita. Mereka benar-benar menghabiskan waktu bersama.
__ADS_1
Hingga malam tiba, Mereka pun masih setia di tepi pantai dengan menatap bintang-bintang.
"Aku seneng deh, bisa jalan-jalan gini. Tapi kapan-kapan Kita harus ajak Ari." Ucap Kesya.
"Pasti." Jawab Raka, Mereka kini saling memandang, lagi-lagi Raka mendekatkan wajahnya. Kesya yang mengetahui gelagat Raka pun segera menyentuh kedua pipi Suaminya itu.
"Masssss Kamu mau ngapain?" Tanya Kesya panik.
"Menurut Kamu tujuan Kita kesini mau ngapain?" Raka balik bertanya. Kesya pun terkejut mendengar jawaban Raka.
"Mas, Jangan disini lah. Malu ada banyak orang." Kesya melihat kanan-kirinya.
"Yaudah kalo gitu." Jawab Raka yang secara tiba-tiba mengangkat tubuh Kesya.
"Mas Kamu kebiasaan ya." Protes Kesya.
Raka pun membawa Kesya kembali ke penginapannya.
Satu bulan kemudian.
Hari ini merupakan hari yang bersejarah untuk Fillia, Ia akan dipinang oleh Dimas. Kesya menemani Fillia yang baru saja selesai didandani.
"Kamu cantik sekali Fillia, Dokter Dimas benar-benar beruntung dapatin Kamu." Kesya memuji kecantikan Fillia.
"Makasih ya Key, Kamu adalah saksi perjalanan hidup Aku." Fillia menggenggam tangan Kesya.
"Jangan nangis dong Key, nanti Aku juga ikut nangis." Protes Fillia.
"Aku selalu berharap yang terbaik untuk Kamu Fillia, Kamu adalah orang yang selalu membantu dan menemani Aku. Aku tahu Aku gak bisa balas apa-apa ke Kamu. Aku cuma bisa bilang makasih." Kesya memeluk tubuh sahabatnya itu, menyembunyikan air matanya.
Kesya mengusap air matanya kemudian melepaskan pelukannya.
"Yaudah, Kita langsung ke tempat akad ya, pasti semuanya udah nungguin Kamu." Ajak Kesya.
Kebahagiaan benar-benar terpancar dari wajah Fillia, Kesya menuntun Fillia memasuki altar pernikahan. Para tamu pun memuji kecantikan Fillia.
Keluarga Dokter Dimas nampak bahagia, begitupun dengan Pakde dan Budhe Fillia. Fillia kemudian duduk bersanding dengan Dimas. Dimas menatap Fillia dengan takjub.
Setelah semua siap, pernikahan pun dimulai. Dimas menjabat tangan Pak Penghulu dan mengucapkan Qabul dengan tegas.
Ketika Saksi berkata Sah, suasana menjadi haru. Begitupun dengan Fillia yang tidak mampu lagi membendung air matanya. Ia masih tidak percaya, Kini Ia telah sah menjadi Istri Dimas.
Fillia mencium tangan Dimas, kemudian Dimas mengecup kening Fillia.
Kesya terus menggenggam tangan Raka, Raka yang menyadari bahwa Kesya menitikkan air matanya pun mengusap air mata Kesya dengan tisu yang tersedia.
"Aku bahagia banget Mas, lihat Fillia menikah." Ucap Kesya.
__ADS_1
Setelah akad telah selesai, pernikahan dilanjutkan dengan acara makan-makan. Kesya dan Raka mengucapkan selamat kepada Fillia dan juga Dimas.
"Selamat ya Fill, Semoga cinta Kalian abadi sampai maut yang memisahkan." Ucap Kesya.
"Aamiin, makasih doanya." Ucap Fillia.
Mereka pun melakukan sesi foto bersama.
Satu bulan kemudian
Di kamar Raka.
Sudah tiga hari ini Kesya merasa tidak enak badan, setiap pagi Ia selalu merasa mual. Pagi itu Kesya tidak turun untuk sarapan bersama, Bu Lidya pun menghampiri menantunya itu.
"Tok...Tok....Tok...." Suara ketukan Pintu. Kesya yang masih merebahkan tubuhnya diatas ranjang pun memaksakan diri untuk berdiri dan membukakan pintu.
"Mami." Ucap Kesya yang terkejut dengan kehadiran Maminya.
"Kamu kenapa gak ikut turun untuk sarapan Key?" Tanya Bu Lidya.
"Kesya lagi gak enak badan Mi, nanti kalo Kesya udah baikan. Kesya turun untuk sarapan." Jawab Kesya.
"Kamu gak enak badan? udah diperiksa ke dokter belum?kalo Kamu sakit harus berobat dong." Protes Bu Lidya yang sangat menghawatirkan keadaan Kesya.
"Gak perlu ke dokter kok Mi, paling Kesya cuma masuk angin aja." Jawab Kesya.
"Masuk angin? Emang gejalanya apa? Kamu mual?" Tanya Bu Lidya.
"Iya Mi, jadi Mami tenang aja ya." Kesya menenangkan Bu Lidya.
"Kesya, atau jangan-jangan Kamu hamil?" Tanya Bu Lidya antusias.
"Hamil?" Kesya terkejut dengan pernyataan Bu Lidya.
"Iya, kapan terakhir kali Kamu datang bulan?" Tanya Bu Lidya.
"Yaampun, Iya Mi, ternyata Kesya udah telat hampir dua bulan." Kesya baru saja menyadari bahwa Ia sudah telat selama dua bulan.
"Wah, semoga yang Mami harapin bener ya. Pokoknya Kamu harus tes." Ucap Bu Lidya antusias.
"Kamu istirahat aja dulu, biar Mami suruh Bibi beliin tes pack buat Kamu ya." Ucap Bu Lidya.
Bu Lidya berlalu dengan riang, Ia benar-benar berharap akan segera mendapatkan Cucu lagi.
"Mami kayaknya sangat berharap, kalau ternyata Aku cuma masuk angin gimana ya?" Batin Kesya yang merasa tidak enak melihat harapan Bu Lidya yang sangat besar.
"Udahlah, lebih baik Aku istirahat aja." Ucap Kesya kembali masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1