Anak Genius: Milikku Milikmu.

Anak Genius: Milikku Milikmu.
Tidak Manerima


__ADS_3

Kini Raka beserta Kesya telah duduk di kursinya masing-masing, begitu pula dengan orangtua Raka.


"Silahkan Mami sama Papi makan dulu, pasti Kalian semua lapar karena habis perjalanan jauh." Ucap Raka.


"Tunggu dulu deh Raka, Kamu itu berhutang penjelasan ke Kita. Kenapa Mami sampe gak tau kalo Kamu udah menikah." Protes Bu Lidya.


"Oke Raka akan jelasin ke Mami sama Papi. Ini Kesya, Kesya Oktaviani. Istri Raka." Raka memperkenalkan Kesya kepada kedua orangtuanya.


"Sejak kapan Kalian nikah?" Tanya Bu Lidya.


"Kita menikah udah sekitar 6 bulan." Jawab Raka.


"Jadi Kalian nikah baru-baru ini? Kesya emangnya pekerjaan Kamu apa? Orangtua Kamu konglomerat dari mana?" Tanya Bu Lidya.


"Mamii kok pertanyaan Kamu gitu sih? jangan didengarkan ya Nak Kesya. Mami Kamu cuma bercanda." Ucap Pak Wira membuat Kesya tenang.


"Nggak, ini Mami beneran tanya." Ucap Bu Lidya kembali.


"Kesya bekerja di bidang bisnis bakery Mi, dan Kesya dari keluarga biasa. Bukan konglomerat." Jawab Kesya tetap tersenyum.


"Yaampun Raka, kenapa Kamu sembarangan milih Istri si, Kamu itu jelas lebih cocok sama Meyra." Ucap Bu Lidya yang diikuti oleh anggukan Meyra.


Kesya yang mendengar itupun merasa terluka hatinya, Ia berfikir bahwa sifat Bu Lidya ini sulit ditaklukkan.


"Mi, jangan ngomong gitu dong. Mami harus hargai keputusan Raka." Ucap Pak Wira.


"Iya Mi, Raka itu udah gede. Raka tau mana yang terbaik buat Raka." Raka menggenggam tangan Kesya erat dan menatap mata Kesya dengan senyuman seolah memberi semangat untuk Kesya.


"Iya Mi, Saya mungkin memang bukan dari keluarga yang setara dengan Raka. Tapi Saya akan berusaha untuk menjadi yang terbaik buat Raka." Ucap Kesya.


"Terbaik apanya, Saya jadi malas makan." Ucap Bu Lidya yang merasa jengkel karena Raka menikah dengan Wanita yang bukan dari keluarga konglomerat.


"Udah Tante sabar ya." Meyra mencoba menenangkan Bu Lidya.


"Mamaaaaaa Ayahhhhh..." Teriak Ara yang berlari menghampiri Raka dan Kesya. Dibelakangnya Ari berjalan santai diikuti oleh Toni.


"Sayangg Kalian udah pulang, salim dulu sama Kakek, Nenek dan Tante." Raka mengelus pelan rambut Putrinya itu.


"Mereka siapa Raka?" Tanya Pak Wira yang terkejut dengan kehadiran dua anak kembar yang memanggilnya Kakek.

__ADS_1


"Wahhh Ala seneng ketemu sama Kakek sama Nenek." Ara mencium tangan Bu Lidya dan Pak Wira, begitu pula dengan Ari.


"Ini kejutan apalagi Raka? Siapa Mereka?" Tanya Bu Lidya.


"Anak-anak, Kalian ke kamar terus mandi dan ganti baju ya." Titah Raka.


"Iya Ayah, daaa Kakek, daa Nenekk." Ucap Ara yang menggemaskan, Ia berlari menuju Kamarnya dan Ari mengekor dibelakangnya.


"Mereka adalah Anak-anak Raka dan Kesya." Jawab Raka.


"Kalian baru menikah 6 bulan, dan udah punya Anak sebesar itu? bagaimana bisa." Bu Lidya meminta penjelasan Raka.


"Kami melakukan itu sebelum menikah." Jawab Raka.


"Apa? jadi Kalian? benar-benar memalukan. Dosa apa Aku, sampai Kamu bahkan mengulang kesalahan yang dilakukan oleh Abi." Umpat Bu Lidya memegang kepalanya karena pusing.


"Tante, Tante kenapa?" Tanya Meyra.


"Dimana kamarnya? Saya pusing. Kamu benar-benar bikin Mami kecewa, Mami udah gak mau dengar penjelasan Kamu lagi Raka." Ucap Bu Lidya.


"Maafin Raka Mi, Raka tau Raka salah." Ucap Raka.


" Mami benar-benar kecewa sama Kamu, Mami benar-benar sakit hati. Toniii cepet anter Saya ke kamar. Saya mau istirahat." Titah Bu Lidya.


"Baik Bu, mari Saya antar." Toni kemudian menunjukkan kamar Bu Lidya.


"Mas, Maaf ya Kamu jadi bertengkar sama Mami Kamu." Ucap Kesya merasa bersalah.


"Nak Kesya, tenang aja ya. Mami emang orangnya begitu. Papi minta maaf atas kelakuan Mami." Ucap Pak Wira mengelus dengan penuh kasih sayang rambut Menantunya itu.


"Mami gak salah kok Pi." Jawab Kesya.


"Papi senang bisa punya menantu seperti Nak Kesya, dan dapat bonus dua Cucu." Ucap Pak Wira.


"Terimakasih Pi." Ucap Kesya tersenyum.


"Nak Kesya, Papi mau bicara sebentar sama Raka empat mata boleh?" Pak Wira meminta izin.


"Oh iya Pi, kalo gitu Kesya mau ke kamar Anak-anak dulu. Mas, Aku ke kamar Anak-anak dulu ya." Pamit Kesya.

__ADS_1


"Iya, nanti Aku susul." Jawab Raka.


Kesya pun meninggalkan Raka dan Pak Wira berdua di ruang makan. Pak Wira pun memulai pembicaraannya.


"Maafkan Papi Nak, karena waktu itu Papi gak datang ke pernikahan Kamu." Ucap Pak Wira.


"Iya, Raka tahu kok. Papi gak perlu terus meminta maaf." Jawab Raka.


"Sebenarnya Papi sengaja tidak memberitahu Mamimu. Kamu tahu sendiri kan bagaimana sifat Mami Kamu? Papi tidak mau Dia sampai mengganggu kehidupan Kamu, layaknya Dia mengganggu kehidupan Abimana. Kakak Kamu." Terang Pak Wira.


"Terimakasih Papi sudah mau menerima Kesya dan Anak-anak." Ungkap Raka.


"Papi akan selalu dukung Kamu Nak. Papi senang bahkan sekarang Papi ternyata sudah menjadi seorang Kakek. Ternyata Papi punya Cucu yang lucu-lucu. Ucap Pak Wira.


"Papii" Raka memeluk Ayahnya, Pak Wira memeluk hangat tubuh Putranya itu.


"Oh iya, Papi mau dong kenalan sama Cucu-cucu Papi. Tadi Papi cuma melihat sekilas aja. Kamu gak mau kenalin Mereka ke Papi nih?" Ungkap Pak Wira.


"Yaudah, ayo Raka tunjukkin sama Papi. Anak-anak yang menggemaskan dan lucu." Ucap Raka kemudian mengajak Ayahnya untuk pergi ke kamar Anaknya.


Di Kamar Bu Lidya.


"Nah ini Kamar Ibu sama Bapak Wira." Toni membukakan pintu untuk Bu Lidya.


"Yaudah, ngapain Kamu masih disini. Pergi sana, Saya mau istirahat." Bentak Bu Lidya.


"Buset galak amat jadi orang." Batin Toni.


"Udahlah Tante, Meyra temenin Tante masuk ya." Meyra menuntun Bu Lidya masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan kerasnya.


"Aduh Meyraaaaa Tante benar-benar pusing dan gak tau lagi harus gimana. Tante itu gak mau punya Menantu orang sembarangan. Tante maunya Kamu yang jadi Mantu Tante." Umpat Bu Lidya.


"Iya Tante, Raka emang kelihatan gak pantas sama Cewek itu. Pantasnya itu jelas sama Aku yang berkelas." Ucap Meyra memanas-manasi Bu Lidya.


"Meyra, pokoknya Kita harus cari cara, untuk memisahkan Raka dari Cewek itu." Ungkap Bu Lidya dengan menahan emosinya.


"Tante tenang aja, Aku pasti bisa bikin Raka jadi cinta sama Aku, sampai Dia gak menoleh ke Istrinya itu." Ucap Meyra.


"Bagus Meyra, Tante dukung Kamu penuh. Tante percaya sama Kamu." Bu Lidya akhirnya tersenyum lega mendengar perkataan Meyra.

__ADS_1


"Raka, Kamu akan menjadi milik Aku, Aku akan buat Kamu mencintai Aku sampai Kamu ninggalin Istri Kamu yang gak pantas buat seorang Raka." Meyra berkata dengan penuh percaya diri dan dengan senyuman liciknya.


__ADS_2