
Di Restoran
Raka telah menunggu Bu Lidya selama setengah jam, tetapi belum juga datang. Tiba-tiba ponsel Raka berbunyi, telepon dari Bu Lidya. Raka bergegas menerima telepon tersebut.
"Halo Mi." Ucap Raka yang menyapa Maminya.
"Selamat siang, Kami dari rumah sakit melati ingin memberitahukan bahwa Ibu Lidya mengalami kecelakaan." Jawaban dari sebrang yang membuat Raka terkejut.
"Apa? Bu Lidya kecelakaan? baik terimakasih atas informasinya. Saya akan segera kesana." Jawab Raka kemudian mematikan teleponnya.
Ia bergegas menghubungi Pak Wira yang berada di rumah. Pak Wira terkejut dengan apa yang Dia dengar. Setelah memberitahu Pak Wira, Raka pun bergegas pergi dari restoran tersebut dan langsung menuju ke rumah sakit Melati untuk menemui Maminya. Begitu juga dengan Pak Wira yang pergi ke rumah sakit dengan Meyra.
Di Rumah Sakit
Raka bertemu dengan Pak Wira dan juga Meyra setibanya di rumah sakit, Raka merasa heran mengapa Meyra tidak bersama Bu Lidya. Bukankah Mereka semula berniat untuk bertemu bersama, Raka pun menanyakan hal tersebut.
"Meyra, bukannya Kamu seharusnya pergi sama Mami? kenapa Mami malah pergi sendirian?" Tanya Raka menaruh curiga.
"Raka, Aku gak tau jadinya akan seperti ini. Tadi kebetulan Aku emang mau berangkat sama Tante Lidya. Tapi tiba-tiba Aku sakit perut. Terus Bu Lidya minta Aku untuk istirahat dan gak usah ikut. Aku gak tau kalo kejadiannya akan seperti ini" Meyra mencari Alibi.
"Semoga Mami Kamu gak kenapa-napa ya Ka." Ucap Pak Wira yang terlihat begitu cemas akan keadaan Bu Lidya.
"Aku harus cari tau alasan yang udah buat kecelakaan Mami." Batin Raka.
Raka mengambil ponsel miliknya dari saku celananya, Ia menghubungi Toni yang tentu sudah menjadi kepercayaannya.
"Halo Ton." Ucap Raka dengan tegas.
"Aku ada tugas buat Kamu, tolong sekarang juga. Kamu datang ke tempat yang Aku kirim ke Kamu. Kamu cek ya. Usut tuntas penyebab kecelakaan Mami." Pinta Raka.
"Siap Boss, Saya kesana sekarang." Jawab Toni penuh dengan tanggung jawab.
Meyra dengan jelas mendengar hal tersebut, Ia pun merasa cemas dan takut.
__ADS_1
"Gawat, jangan sampai ketahuan kalo kecelakaan itu dibuat-buat." Batin Meyra.
Tak berapa lama, keluar seorang Dokter yang tak asing bagi Mereka. Kebetulan yang menangani Bu Lidya adalah Dokter Dimas.
"Dok, gimana keadaan Mami Saya?" Tanya Raka menghampiri Dokter Dimas yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.
"Alhamdulillah, Bu Lidya sudah bisa dipindahkan ke ruangan privat. Tapi,"Belum selesai Dokter Dimas berbicara, Pak Wira sudah tidak sabar mendengar pernyataan Dokter Dimas.
"Tapi mohon maaf, sepertinya Ibu Lidya terkena Struk berat diakibatkan oleh kecelakaan tersebut. Mungkin karena rasa panik yang berlebihan. Sehingga nantinya Bu Lidya akan kesulitan dalam berbicara dan juga berjalan tentunya." Jawab Dokter Dimas.
Semua yang ada disana pun merasa terkejut dan sedih atas apa yang dialami oleh Bu Lidya. Meyra pun memasang wajah sedihnya. Tetapi di dalam hatinya Ia merasa lega.
"Bagus, Ini justru bagus. Jadi pernikahan Aku dan juga Raka bisa segera dilaksanakan karena Wanita itu gak bisa bicara. Justru Aku bisa jadiin ini kesempatan untuk mempercepat pernikahan Aku dengan Raka. Aku cuma tinggal bilang bahwa Ibu Lidya mengajak Kita bertemu untuk mempercepat pernikahan. Bu Lidya kan gak bisa bicara. Dia pasti gak akan bisa komen. Setelah Aku dan Raka udah bersatu, Aku bisa singkirkan Dia." Akal licik Meyra benar-benar berfungsi saat ini, Ia sangat puas mendengar penjelasan Dokter.
Di Tempat Kecelakaan.
Toni baru saja tiba di tempat kejadian perkara, Ia menghampiri polisi yang tengah bertugas dan menanyakan sebab dari kecelakaan tersebut.
"Pak, Sebenarnya Apa penyebab kecelakaan ini?" Tanya Toni.
"Siapa yang udah lakuin ini? Ini pasti ada yang sengaja. Aku harus cari tahu siapa pelaku yang mengincar Bu Lidya. Sampai berniat membuat Bu Lidya kecelakaan. Sepertinya Akhir-akhir ini banyak terjadi hal yang janggal." Batin Toni menyilangkan kedua tangannya.
"Penjahat ini benar-benar mengerti apa yang akan terjadi dan pasti dipersiapkan dengan matang rencananya. Kalo Bu Lidya mengalami kecelakaan saat mau ketemu sama Boss Raka, itu artinya. Kabel rem dipotong saat di parkir di rumah." Pikir Toni.
"Pak Kalo begitu Saya ijin pergi dulu." Ucap Toni berpamitan, Ia kemudian melajukan mobilnya menuju Rumah Boss nya.
Di Rumah Raka.
Toni berjalan menuju ruang CCTV, rencananya Ia akan mengecek kejadian di Garasi kemarin malam untuk mencari petunjuk, siapa dalang dibalik kecelakaan tersebut. Tiba-tiba Ia melihat Seorang Wanita tengah mengendap-endap dengan pakaian serba hitam dan cadar yang menutupi Wajahnya.
"Siapa orang itu? kenapa Dia mencurigakan. Atau jangan-jangan Dia penjahat Itu?" Batin Toni.
Toni pun diam-diam menangkap Orang tersebut. Ia memegang kedua tangan Wanita tersebut.
__ADS_1
"Siapa Kamu? Apa yang Kamu lakukan disini?" Tanya Toni.
"Lepasin, lepasin Saya." Jawab Wanita tersebut.
Toni terkejut ketika mengetahui bahwa itu merupakan seorang Wanita.
"Jangan-jangan Kamu yang udah putusin kabel Rem dan mau menghapus rekaman CCTV untuk menutupi kesalahan Kamu." Ucap Toni.
Toni pun membuka penutup Wajah yang menutupi Wajah Wanita tersebut. Toni terkejut ketika mengetahui bahwa Wanita yang Ia tangkap adalah orang yang tidak asing baginya.
"Kamuuu" Ucap Toni yang terkejut dengan apa yang Ia lihat.
"Stttttt jangan berisik, Kamu sekarang udah tau semuanya. Kamu harus diam, Aku akan kasih tau Kamu sesuatu." Ucap Wanita tersebut menarik Toni masuk ke dalam ruangan CCTV.
Toni masih terdiam, seakan tak percaya dengan apa yang Ia lihat.
"Ini beneran, atau cuma mimpi sih?" Toni menepuk-nepuk pipinya sendiri.
"Sakit kok." Jawab Toni pada dirinya sendiri.
"Toni, Udah-udah. Ini emang kenyataan Kamu gak mimpi Kok." Wanita tersebut meyakinkan Toni bahwa Toni tidak sedang bermimpi.
"Sekarang, Kamu harus dengerin Saya, di rumah Ini ada penjahat. Kamu harus bantu Saya." Ucap Wanita tersebut.
"Saya bisa bantu apa?" Tanya Toni antusias.
"Kita harus bekerja sama, Aku punya rencana untuk ngasih pelajaran sama Orang yang udah berniat jahat sama keluarga ini." Jawab Wanita tersebut.
"Saya pasti bantu, apapun itu." Toni menganggukkan kepalanya, menyanggupi permintaan Wanita tersebut.
"Bagus." Ucap Wanita tersebut kemudian mendekat ke telinga Toni dan membisikkan rencana yang akan dijalankan oleh Mereka.
Toni mengangguk tanda mengerti apa yang harus dan akan Dia lakukan.
__ADS_1
"Sekarang Kamu ngerti kan?" Ucap Wanita tersebut kemudian Mereka saling berjabat tangan.