
Setelah mendengar kabar bahwa Filia mengalami kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit, Kesya pun segera mendatangi rumah sakit tersebut. Setibanya di rumah sakit, Kesya berjalan cepat dan menanyakan kepada resepsionis mengenai Filia. Akhirnya Kesya berhasil menemukan ruang Filia dirawat.
"Mbak, apa ada pasien namanya Filia. Dia baru aja mengalami kecelakaan?" Tanya Kesya kepada resepsionis yang sedang bertugas.
"Korban kecelakaan hari ini, baru saja ditangani dan sekarang ada di kamar melati no 9." Jawab resepsionis tersebut.
"Makasih Mbak." Kesya berterimakasih kemudian segera mencari kamar yang Ia cari. Ia mencari-cari di sekitar kamar melati, Ia melihat nomor yang terletak di setiap pintunya.
"Kamar Melati nomor 9." Ucap Kesya ketika berhasil menemukan kamar yang Ia cari. Kesya pun mencoba membuka pelan ruangan tersebut dan mencoba mengintip untuk memastikan bahwa memang Filia yang berada di ruangan tersebut.
Benar saja, Fillia tengah tertidur pulas di atas ranjang rumah sakit. Kesya pun segera masuk dan menghampiri Fillia.
"Ya ampun, badan Kamu sampai luka-luka gini Fill." Ucap Kesya yang memperhatikan tubuh Fillia penuh dengan luka.
Fillia yang mendengar suara Kesya pun tersadar dan membuka matanya.
"Loh Kesya, kok Kamu ada disini? Kamu tahu dari mana kalau Aku masuk rumah sakit?" Tanya Fillia yang baru tersadar, Kesya pun duduk di kursi dekat ranjang Fillia.
"Aku tahu dari salah satu suster, tadi ada yang nelpon Aku. Katanya Kamu kecelakaan jadi Aku buru-buru kesini." Jawab Kesya merasa khawatir.
"Aku gak papa kok Key, cuma kecelakaan kecil aja." Fillia mencoba membuat Kesya tenang.
"Kecelakaan kecil gimana? badan Kamu sampai luka-luka gitu." Protes Kesya.
"Makasih ya Key, udah mau dateng." Ucap Fillia tersenyum.
"Iya, sama-sama, kan Kita sahabat. Pokoknya Aku akan jagain Kamu." Ucap Kesya seperti memaksa.
Mereka pun melanjutkan perbincangan dan sesekali bercanda.
Di Rumah Raka
Hari ini Ara pulang lebih awal, tetapi Ia tidak menemukan seorangpun di rumah. Karena merasa bosan, Ara pun mengisi waktu luangnya untuk melukis. Saat salah satu warna chat miliknya habis, Ia pun segera menuju gudang. Tetapi saat melintas di kamar Meyra yang lupa dikunci dan sedikit terbuka, membuat Ara merasa penasaran. Akhirnya Ara pun masuk ke dalam Kamar Meyra. Ara menemukan lipstik dengan warna yang cantik.
"Wahhhh bagus banget walnanya. Ala belum punya walna ini. Ara mengambil lipstik milik Meyra dan membawanya.
Ara pun melanjutkan melukis di ruang tamu dengan lipstik milik Meyra, hingga beberapa saat. Meyra baru saja tiba dari Mall dan melihat Ara tengah melukis dengan lipstiknya pun tersulut emosi.
"Araaaaaa Kamu dapat lipstik itu dari mana?" Bentak Meyra yang terkejut.
__ADS_1
"Dali Kamal Tante, bagus Kan?" Tanya Ara memperlihatkan lukisannya kepada Meyra.
"Dasar Anak nakal, bandelll." Meyra mencubit lengan Ara yang membuat Ara berlari.
"Tante jahat, Aku akan bilang sama Ayah supaya usil Tante." Ancam Ara.
"Awas aja kalo Kamu berani ngadu sama Raka. Sini Kamu." Meyra mengejar Ara yang berlari, Ara terus berputar-putar di tepi kolam. Berharap Meyra tak dapat menangkapnya.
Karena lantai yang licin, Meyra akhirnya tergelincir dan jatuh ke dalam kolam.
"Byurrrrrrrrr" Meyra tergelincir dan masuk ke dalam kolam. Ara tertawa terbahak-bahak melihat kejadian tersebut.
"Lasainnn emang enak." Ucap Ara kemudian berlari masuk kembali ke dalam rumah.
"Bocilllllllllll, awas aja ya, Aku gak akan tinggal diammmmmmm." Meyra berteriak melampiaskan amarahnya.
Di luar kota
Raka baru saja menyelesaikan meetingnya, Ia segera mengecek ponselnya berharap terdapat notif dari Kesya. Sayang sekali tidak seperti yang Ia harapkan.
Merasa jengkel, Raka pun mengalahkan ego dan gengsinya. Ia akhirnya menghubungi Kesya.
"Kesya lagi ngapain sih? Kenapa Dia gak angkat telepon dari Suaminya. Seharian sama sekali gak ada kabar." Protes Raka yang merasa kesal.
Toni yang melihat itu pun tersenyum dan mencoba menenangkan Raka.
"Tenang Boss, mungkin Boscan lagi sibuk. Bukannya waktu Kita berangkat, Dia dapat kabar kalo Fillia kecelakaan. Jadi Bisa Key mungkin sibuk nemenin sampai lupa ngabarin Boss." Ucap Toni membuat Raka menjadi sedikit tenang.
Mereka pun berjalan menuju parkiran, tetapi saat hendak memasuki mobil. Toni merasa perutnya benar-benar sakit, Ia pun izin untuk pergi ke kamar mandi.
"Aduhhh Boss, Kok mendadak perut Aku sakit ya. Aku ke kamar mandi sebentar ya. Titip kunci." Toni memegangi perutnya yang sakit kemudian memberikan sebuah kunci kepada Raka dan segera berlari kembali memasuki gedung.
Setelah menunggu beberapa waktu, Toni belum juga kembali. Raka pun menghubungi Toni.
"Halo Ton, Kamu lama banget ngapain sih?" Protes Raka yang telah bosan menunggu.
"Aduh Boss, Perut Aku sakit banget. Boss ke hotel duluan aja pake mobil itu, nanti Saya naik taksi nyusul." Jawab Toni.
"Yaudah, Kalo gitu Aku nyetir sendiri." Balas Raka menutup teleponnya. Merasa sudah lelah, Raka pun bergegas memasuki mobil.
__ADS_1
Di Ruang Makan
Meyra memasuki ruang makan dengan membawa segelas es krim, Ia mengambil sesuatu dari dalam kantong bajunya. Ternyata Meyra mengambil obat yang membuat sakit perut.
"Rasain ya bocah, ini balasan karena Kamu udah rusak barang Aku dan buat Aku jatuh ke kolam." Ucap Meyra menaburkan bubuk obat tersebut dengan tersenyum licik.
Setelah memasukkan obat tersebut, Meyra pun mengintip Ara yang sedang berjalan menuju dapur.
"Target udah menuju kesini, sekarang saatnya Aku buat sembunyi." Ucap Meyra yang melihat Ara semakin mendekat, Meyra pun bergegas bersembunyi di balik tembok dekat dengan dapur.
Ara masuk keruang makan dan melihat es krim yang ada di atas meja, Ia merasa tertarik dan ingin memakannya karena terlihat enak.
"Wah, ada es klim. Kayaknya enak deh." Ucap Ara yang kemudian duduk di ruang makan.
"Bagus, tikus udah masuk perangkap. Makan tuh es krim bocil." Ucap Meyra dalam hati.
Ara memulai menyendok es krim kedalam mulutnya, Ia tidak merasakan hal aneh. Ia benar-benar menikmati es krim tersebut.
"Hmmm es klimnya enak banget." Ucap Ara kemudian menyuap kembali es krim tersebut.
"Rasain Kamu bocil, makannya jangan berani-berani sama Meyra." Ucap Meyra yang merasa puas karena rencananya berhasil.
Ara pun berhasil menghabiskan es krim itu, setelah merasa puas, Ara mengambil makanan ringan di lemari pendingin kemudian kembali pergi meninggalkan ruang makan.
Meyra keluar dari tempat persembunyiannya, Ia tersenyum puas melihat gelas yang kini telah kosong.
"Rasain Kamu bocil, sebentar lagi Kamu pasti diare tuh." Ucap Meyra tertawa puas.
Tiba-tiba teleponnya berbunyi, Ia menerima telepon dari anak buahnya yang Ia perintahkan untuk membeli obat itu.
"Halo, ada apa Kamu telvon?" Tanya Meyra.
"Maaf Boss, ternyata tadi Saya salah ngasih obat ke Boss. Obat yang saya beli ketuker sama punya Boss." Jelas anak buah Meyra.
"Apa? Ketuker? Terus tadi yang Kamu kasih ke Aku apa?" Tanya Meyra.
"Itu obat pembasmi tikus Boss. Ini yang punya Boss kebawa sama Saya. Maaf ya Boss, tadi Boss asal ambil dan buru-buru bawa sih." Anak buahnya mencoba membela dirinya sendiri.
"Apa? Obat pembasmi Tikus?" Meyra benar-benar terkejut, karena itu berarti saat ini Ara dalam bahaya besar.
__ADS_1