Anak Genius: Milikku Milikmu.

Anak Genius: Milikku Milikmu.
BAB 60 MASA LALU


__ADS_3

Di Rumah Sakit


Hari kini telah sore,Kesya pun tersadar dan hendak pamit karena  Ara dan Ari pasti telah menunggu di rumah. Kesya melihat ponselnya dan baru menyadari bahwa terdapat banyak panggilan tak terjawab dari Raka.


"Ya ampun." Kesya menepuk jidatnya, membuat Fillia bertanya apa yang terjadi.


"Kenapa Key?" Tanya Fillia yang melihat raut wajah sahabatnya itu nampak gugup.


"Raka Melvin Aku berkali-kali, dan Aku gak angkat karena ponsel Aku tadi disilent." Jawab Kesya.


"Yaudah kalo gitu Kamu telvon lagi aja, Siapa tahu ada hal penting." Saran Fillia.


Kesya pun mengikuti saran dari sahabatnya itu, Ia mencoba menghubungi Raka. 


Di Perjalanan


Raka tengah mengendarai mobil menuju hotel tempat Ia menginap, tiba-tiba saja ponsel miliknya berbunyi. Ketika melihat nama kontak yang menghubunginya ternyata Kesya, Raka sangat bersemangat dan segera mengangkatnya.


"Halo, Kamu itu seharian ngapain aja sih? Kenapa gak nelpon Aku? ditelpon juga gak ngangkat. Kamu sibuk banget?" Raka melampiaskan kekesalannya, yang dibalas suara tawa dari Kesya.


"Malah ketawa lagi, Aku tuh serius."Raka tidak terima karena ditertawakan.


"Iya maaf Mas, Aku kan di rumah sakit. Jadi ponsel Aku aku silent. Aku gak tau kalo Kamu tadi telpon." Jawab Kesya.


"Sekarang Kamu alihkan ke Video call." Pinta Raka.


"Ngapain Mas?" Tanya Kesya yang merasa heran.


"Udah deh ikutin aja." Raka terkesan memaksa, hingga Kesya pun menuruti permintaan Raka.


Mereka terus berbincang dengan Video call, hingga Raka tidak tersadar bahwa ada anak kecil tengah menyebrang jalan sembarangan, Raka pun terkejut dan bergegas menginjak Rem.


"Mas? Kenapa? Kok Kamu kelihatan panik banget." Tanya Kesya yang melihat wajah suaminya dari ponselnya itu.


"Aku hampir aja nabrak anak kecil, Kita lanjut nanti malam ya teleponnya." Ucap Raka membuka sabuk pengamannya bersiap untuk turun dari mobil dan menemui anak yang hampir ditabrak.


"Yaudah Mas, Kamu hati-hati ya. Nanti jangan lupa kabarin Aku, ini Aku juga mau pulang soalnya." Ucap Kesya.


Percakapan Mereka pun berakhir, Raka turun dari mobil dan menghampiri Anak yang hampir Ditabrak.


"Dek Kamu gak papa?" Tanya Raka memegang kedua pundak anak tersebut.

__ADS_1


"Rajaaaaa" teriak seorang Wanita yang nampak khawatir berjalan menuju Anak kecil yang hampir ditabrak oleh Raka.


"Prisa." Ucap Raka terkejut ketika melihat wanita tersebut, ternyata Raka mengenalinya.


"Raka." Ucap Wanita yang bernama Prisa terkejut melihat Raka.


"Aku gak nyangka, bisa ketemu sama Kamu disini. Kamu mau kemana? biar Aku antar." Ucap Raka menawarkan bantuan.


"Gak usah Raka." Jawab Prisa menggandeng tangan Anak kecil yang hampir ditabrak oleh Raka.


Raka menahan tangan Prisa agar tidak pergi.


"Aku mohon, Aku perlu bicara sama Kamu." Pinta Raka.


"Yaudah Kalo gitu. Kamu boleh antar Kita." Jawab Prisa akhirnya mengalah.


Raka pun segera membuka pintu mobil dan mempersilahkan Prisa dan Putranya untuk memasuki mobil.


Di Kamar


Ara tengah asik melukis di kamar, ditemani oleh Ari yang tengah bermain game online.


Ara merasakan bahwa ruangan berputar, matanya berkunang-kunang. Seketika Ia terjatuh dan dari mulutnya keluar busa putih.


"Dek, bangun Dek, Kamu kenapa?" Ari panik melihat Ara yang kini kejang-kejang.


Ari pun segera berlari dan memutuskan untuk meminta bantuan, saat turun dari tangga, Ari berpapasan dengan Kesya yang baru pulang.


"Ma, Adek Ma." Ucap Ari gugup.


"Adek kenapa? Ngomong yang jelas dong Kak. Kamu juga ngapain lari-lari di tangga, bahaya tau nggak." Protes Kesya.


"Adek pingsan Ma." Ucap Ari yang membuat Kesya terkejut.


"Apa? Ara pingsan? Ayo Kita lihat." Kesya segera menggandeng Ari untuk menuju kamar.


Kesya membuka pintu dengan perasaan yang khawatir, Dia terkejut ketika melihat Ara telah terkapar dan dari mulutnya terus mengeluarkan busa.


"Araaaaa, bangun Nak. Kamu kenapa?" Kesya mengguncang tubuh Ara pelan.


"Mama, lebih baik Adik segera dibawa ke rumah sakit." Saran Ari yang juga merasa khawatir.

__ADS_1


"Iya Sayang, Kamu bantu Mama ya." Ucap Kesya. Kemudian Kesya dan Ari membawa Ara ke mobil untuk segera dilarikan ke rumah sakit.


"Pak, tolong cepat ya. Ara, bangun dong Nak." Kesya tak mampu membendung air matanya lagi, Ia benar-benar panik melihat keadaan Ara. Bahkan beberapakali Kesya meminta sang supir agar lebih cepat karena khawatir.


Di Rumah Prisa


Raka berhenti di perkampungan yang nampak sederhana, ternyata selama ini Prisa tinggal bersama Anaknya di sana. Raka pun merasa Iba karena bagaimanapun juga Raja adalah keponakannya, Raja berhak mendapatkan fasilitas yang jauh lebih baik.


"Jadi selama ini Kamu tinggal di sini?" Tanya Raka memperhatikan sekelilingnya.


"Iya, maaf ya rumahnya kecil dan sederhana, nggak seperti rumah Kamu yang mewah." Ucap Prisa membuka kunci rumahnya.


"Ayo, silahkan masuk." Setelah berhasil membuka pintu, Prisa pun mengajak Raka untuk masuk ke dalam rumahnya.


Raka memasuki rumah tersebut sambil memperhatikan keadaan rumah yang menurutnya sudah tidak layak dihuni.


"Boleh Kita mengobrol? banyak banget hal yang ingin Aku bicarain sama Kamu." Ucap Raka yang membuat Prisa akhirnya meminta Raja untuk masuk ke kamar dan berganti pakaian.


"Sayang, Kamu ke kamar dulu ganti pakaian ya. Mama mau ngobrol sama Om Raka dulu." Pinta Prisa.


"Iya Ma." Jawab Raja kemudian meninggalkan Prisa dan Raka untuk berbincang berdua.


Raka tidak menyadari bahwa kini baterai ponselnya telah habis sehingga ponsel miliknya mati.


Di Rumah Sakit


Beberapa petugas kesehatan segera membantu Kesya untuk membawa Ara menuju ruang UGD, seorang Dokter muda segera masuk ke ruangan tersebut untuk menangani Ara.


"Dok, tolong selamatkan Anak Saya Dok." Rengek Kesya yang hendak ikut memasuki ruangan tetapi dihalangi oleh seorang perawat.


"Kami akan lakukan yang terbaik, Ibu mohon tunggu diluar." Ucap Dokter tampan yang kini telah memasuki ruang UGD.


Hati seorang Ibu mana yang tidak hancur ketika melihat putrinya terkapar lemah tak berdaya, itulah yang saat ini dirasakan oleh Kesya. Kakinya benar-benar lemah Ia terduduk lemas di luar ruangan dengan perasaan cemas.


Ari berjalan menghampiri Kesya kemudian memeluknya, Mereka berusaha saling menguatkan.


"Mama jangan menangis ya, Kita harus berdoa supaya Adek gak kenapa-kenapa." Ari mencoba menenangkan Kesya.


"Iya Sayang, Semoga Ara gak Kenapa-napa." Kesya memeluk sambil mengelus pelan rambut Ari.


"Mama udah kasih tahu Ayah?" Tanya Ari yang membuat Kesya tersadar bahwa Ia belum memberitahu keadaan Ara saat ini.

__ADS_1


"Iya, Mama lupa. Mama coba telpon Ayah dulu ya." Ucap Kesya kemudian berusaha menelepon Raka. Walaupun telah dihubungi berkali-kali tetapi tetap saja tidak ada jawaban.


"Kamu kemana sih Mas, kenapa gak angkat telepon Aku. Angkat dong Mas." Ucap Kesya pelan berharap Raka akan mengangkat telepon darinya.


__ADS_2