
Raka menjabat tangan wanita tersebut. kemudian memperkenalkan Kesya sebagai istrinya.
"Mari silahkan duduk dulu," ucap wanita tersebut kemudian mereka duduk di kursinya masing masing.
"Perkenalkan ibu Kesya, Saya Muna. Saya adalah seorang pengacara yang akan membantu untuk Bu Kesya bisa mendapatkan Hak Bu Kesya. Ucapnya memperkenalkan diri dan menjabat tangan Kesya.
Kesya menatap wajah Raka yang tersenyum ke arahnya.
"Makasih ya Raka, kamu selalu membantu aku." batin Kesya terharu.
"Jadi gimana mbak, untuk pembagian warisannya?" tanya Raka.
"Tunggu dulu bukannya orang yang mengurus ini seharusnya tau wasiat dari ayah aku ya, dan memang pengacara yang udah jadi kepercayaan keluarga aku." ucap Kesya.
Muna tersenyum mendengar pertanyaan Kesya.
"Iya betul Bu Kesya, tetapi saya adalah Istri dari pengacara kepercayaan keluarga Oktavian." jawab Muna.
"Memang suami Ibu kemana?" tanya Kesya.
"Suami saya sudah tidur dan terlarut dalam mimpi panjangnya Bu, dia meninggal karena kecelakaan setelah sepeninggalnya pak Oktavian" Jawab Bu Muna.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, yang sabar ya Bu." Ucap Kesya.
"Terimakasih Bu Kesya." jawabnya.
"Tetapi jika seperti itu kita gak bisa dong ambil warisan itu." ucap Kesya.
"Tenang saja Bu Kesya, Pak Raka sudah memberikan rencananya kepada saya." jawab Bu Mina, Kemudian mereka pun berdiskusi untuk merencanakan rencana mereka.
Di Gedung Mewah
Acara Resepsi pernikahan telah Tiba, banyak tamu tamu penting yang hadir di acara tersebut.
Kesya tengah bersama Fillia di ruang dandan.
"Yaampun Key, kamu kelihatan cantik banget pake gaun ini." puji Fillia.
"Mama wah Mama kayak bidadali." puji Ara.
"Makasih sayang." jawab Kesya.
"Yaudah yuk kita keluar, tamu pasti udah cariin kamu." ajak Fillia.
Kemudian mereka keluar dari kamar dan menuju ke tempat acara, Kesya menjadi pusat perhatian karena ia terlihat sangat cantik.
Raka tersenyum kearahnya Kemudian mengulurkan tangannya. Kesya akhirnya menerima dan mereka menyapa tamu tamu yang hadir di acara tersebut.
"Pak Raka boleh kita bicara sebentar?" tanya seorang tamu rekan kerja Raka.
"Sayang sebentar ya, aku bicara sama mereka sebentar." Pinta Raka.
__ADS_1
"Iya." Jawab Kesya Kemudian Raka meninggalkan Kesya.
Tiba tiba Lani datang bersama ibunya dan juga Billi.
"Selamat ya Key, akhirnya kamu menikah walaupun kamu udah punya anak sebelum menikah, Mama turut bahagia. Oh iya pasti suami kamu udah kamu kasih tau dong tentang masa lalu kamu." Ucap Mama Lisa sengaja mengeraskan suaranya hingga semua mata menoleh dan bergunjing membahas Kesya.
"Iya dek tentang malam panjang kamu bersama Om Om itu, sampe kamu gak pulang semaleman dan tiba tiba hamil. Kamu udah kasih tahu kan. baik banget suami kamu dek. mau Nerima kamu apa adanya." Tambah Lani.
"Jadi kamu udah punya Anak Key, jadi selama aku gak ada kamu malah melakukan hal memalukan seperti itu, kamu bahkan gak bisa menjaga diri kamu sendiri." Billi terkejut mendengar itu.
Suasana menjadi semakin ricuh. Banyak yang menggunjing dan mengolok olok Kesya.
"Bener bener gak pantes ya buat Raka"
"Wah Jangan jangan dia pake pelet ya."
"Masak orang kayak gitu gak punya malu ya bersanding sama Raka"
"Iya emang gak tau diri banget."
"Wah ternyata anaknya itu anak anak haram ya, gak punya ayah kasihan lho."
"Ih amit amit deh punya istri kaya gitu, dipelet kali emang."
Suara suara cemoohan terdengar dari sekeliling Kesya yang membuat hati Kesya terluka.
"Bukannya Ibu dan Kakak yang udah menjebak aku sampe melakukan semua kesalahan itu ya.' protes Kesya.
"Siapa yang melempar kesalahan?" tanya Raka yang tiba tiba Muncul.
"Pak Raka, oh enggak kok gak ada." jawab Lani
"Jangan fikir saya nggak tau ya kalau kalian udah mengganggu Istri dari Raka prawira. berani banget ya." Ucap Raka.
"Tapi Kita cuma mau Supaya pak Raka tau dan sadar kalo Kesya ini bukan perempuan baik baik."
Ucap Lani.
"Memanya Apa Buktinya? bahwa Istri saya bukan orang baik baik." ucap Raka.
"Anak anaknya, mereka kan lahir tanpa seorang Ayah." jawab Lani.
"Pak Raka, saya punya buktinya." Jawab Muna yang tiba tiba muncul.
"Dia siapa Ma?" bisik Lani.
"Mama juga gak tau." jawab Bu Lisa.
"Apa buktinya?" Tanya Raka.
"Saya punya Video yang akan memperjelas semuanya." jawab Muna.
__ADS_1
"Bagus kalo gitu, silahkan kamu putar di layar" pinta Raka.
"Bagus lah kalo tiba tiba ada yang punya bukti." Ucap Lani pada Bu Lisa.
Kemudian rekaman mulai ditampilkan. Semua mata langsung tertuju ke rekaman tersebut.
Terlihat sosok pria tua yang tengah terkulai lemah diatas tempat tidurnya, pria itu tak lain adalah pak Oktavian, Ayah dari Kesya.
"Video ini saya buat sebagai bukti suatu saat nanti, Untuk anakku Kesya maafkan Ayah nak. karena telah mengusir kamu dari rumah." Ucap Pak Oktavian.
"Ayah." Kesya meneteskan air matanya.
"Ayah gak tau sampai kapan Ayah bisa bertahan dengan penyakit Ayah ini, Tapi ayah sangat ingin bertemu dengan kamu nak, ayah sangat rindu sama kamu Nak, Ayah menyesal telah mengusir kamu karena kesalahpahaman." Ucap pak Oktavian mulai menangis.
"Kesya juga sangat Rindu sama Ayah." jawab Kesya Pelan.
"Maafkan ayah yang sudah termakan oleh omongan Ibu tiri dan kakak tiri kamu, Sekarang Ayah tau, hal yang terjadi sama kamu itu semua adalah jebakan dari mereka. Ayah yang bersalah disini nak." ucapnya.
Semua mata langsung tertuju kepada Ibu Lisa dan lani. mereka merasa malu dan ingin pergi dari sana tetapi semua mata mengawasi mereka.
"Saya Oktavian berwasiat bahwasanya semua harta warisan milik saya akan saya berikan kepada anak kandung saya satu satunya yaitu Kesya Oktaviani. dan untuk Lisa dan Lani Saya memberikan Rumah sebagai warisan. Karena rumah tersebut penuh akan kenangan buruk." ucap Pak Oktavian. Kesya masih menangis dan ditenangkan oleh Fillia.
"Sekarang semua udah jelas kan? Kalian adalah penyebab Kesya melakukan hubungan diluar pernikahan itu. kalian yang udah jebak Kesya. kalian bener bener jahat." ucap Fillia.
"Dan Kalian bilang Anak Kesya gak punya Ayah? kalian salah saya adalah ayah kandung dari mereka. kami yang telah melakukan kesalahan itu bersama , dan kami akan memperbaikinya bersama, dan kami saling mencintai sekarang." ucap Raka.
Lani dan Ibunya semakin malu.
"Ma ayo kita pergi aja dari sini." ajak Lani.
"Sebentar Ibu Lisa, masih ada urusan yang belum selesai. yaitu untuk pembagian harta Warisan, dimana telah dijelaskan bahwa ahli waris yang berkuasa adalah Kesya. jadi tolong, tanda tangani surat pengalihan perusahaan ini kepada Ibu Kesya." Bu Muna memberikan sebuah dokumen pengalihan hak milik.
"Tapi Bu saya kan istrinya, saya berhak dapat warisan." ucap Bu Lisa.
"Saya kira rumah itu sudah lebih dari cukup, jadi tolong segera tanda tangani." Ucap Bu muna.
"Udah ma, buruan tanda tangani aja, malu dilihat orang banyak." Ucap Lani.
"Iya iya dasar cerewet." kemudian Bu Lisa menandatangani dokumen tersebut dan segera pergi karena malu.
"Selamat ya Bu Kesya sekarang perusahaan sudah sah menjadi milik Bu Kesya." Ucap Bu Muna.
"Terimakasih Bu atas bantuannya." ucap Kesya.
"Berterimakasihlah dengan pak Raka Bu, karna beliau yang sudah merencanakan ini semua. Anda beruntung memiliki suami seperti pak Raka." jawab Bu Kesya.
"Makasih untuk semuanya , Mas." ucap Kesya.
"Kamu panggil aku apa? Mas?" tanya Raka.
"Iya, kenapa?" tanya Kesya.
__ADS_1
" Gak papa, aku suka dengan sebutan itu." jawab Raka.