
Hari demi hari berlalu, semenjak kepergian Kesya Ari menjadi pendiam dan acuh, Ari hanya mau dekat dengan Fillia. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama, saat berangkat Fillia akan mengantar Ari dan ketika pulang Ari akan pergi bersama Fillia, itu yang selalu Mereka lakukan. Meyra yang melihat hal itu tentunya sangat jengkel, Ia berfikir bahwa Fillia mungkin adalah penghalang untuk hubungannya dengan Raka kedepannya.
Sore itu, Fillia mengantarkan Ari pulang. Dari kejauhan Meyra memperhatikan Mereka.
Fillia mengantar Ari hingga ke depan pintu rumah.
"Alhamdulillah, Kita udah sampai. Tante balik dulu ya Ari." Pamit Fillia kepada Ari.
"Iya Tante, hati-hati ya." Pesan Ari.
Tiba-tiba Raka membuka pintu rumah dan menyapa Mereka.
"Lho Ari, kok Kamu pulang gak telpon Pak supir?" Tanya Raka.
"Soalnya Tante Fillia udah jemput Ari." Jawab Ari.
"Yaudah, kalo gitu Kamu masuk dan ganti baju ya." Pinta Raka kepada Ari, Ari pun masuk ke dalam rumah, kini hanya ada Fillia dan Raka.
"Makasih ya, Kamu selalu ada buat Ari. Aku gak tau kalo gak ada Kamu mungkin Ari akan sedih sampai sekarang." Ucap Raka berterima kasih kepada Fillia.
"Santai aja Kali Ka, Ari itu kan anaknya Kesya. Kesya itu sahabat baik Aku." Jawab Fillia. Mereka pun berbincang.
Meyra yang merasa jengkel dengan pemandangan tersebut.
"Fillia benar-benar meresahkan, Aku harus segera menjalankan misi Aku dan juga Tante Lidya." Batin Meyra kemudian meninggalkan tempat persembunyiannya.
Di Kantor Raka.
Raka tengah bersiap untuk pergi makan siang karena ini merupakan jam istirahat. Dia sudah berjanji kepada Ari akan makan siang bersama di restoran sultan. Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Pak Wira yang menghubunginya. Raka pun mengangkat telepon tersebut.
"Halo Pi? ada apa ya?" Tanya Raka to the point.
"Raka, Kamu kerumah sakit sekarang ya Nak, Mami Kamu sakit. Dia manggil-manggil Kamu terus." Pinta Pak Wira.
"Mami sakit? yaudah, sekarang Papi kirim alamatnya. Raka segera kesana." Pinta Raka.
Telepon pun dimatikan, Pak Wira mengirim alamat rumah sakit yang tak jauh dari tempat tinggal Mereka.
"Kita jadi makan siang sama Boss kecil Boss?" Tanya Toni yang baru saja masuk ke ruangan Raka.
__ADS_1
"Kayaknya Kita cancel dulu makan siangnya sama Ari, karena Mami sekarang di rumah sakit. Aku harus ke rumah sakit sekarang. Oh iya Toni, tolong Kamu kasih tahu Fillia ya kalo Aku gak bisa." Pinta Raka yang bergegas meninggalkan Toni.
"Siap Boss." Jawab Toni Kemudian mencoba menghubungi Fillia.
Di Restoran Sultan.
Ari dan Fillia tengah duduk di salah satu meja yang telah dipesan oleh Raka. Nampak jelas di wajah Ari, bahwa Ia sudah bosan menunggu karena memang Mereka sudah menunggu setengah jam lebih. Fillia yang menyadari hal tersebut pun mencoba menghibur Ari.
"Tenang, Ayah Kamu pasti sebentar lagi dateng." Ucap Fillia mencoba menenangkan Ari.
"Emang Ayah akan dateng Tante, kenapa Ayah lama banget?" Protes Ari yang kini menunjukkan bibir yang manyun, tanda bahwa Ia sedang kesal.
"Kan Ayah Ari udah janji sama Ari, jadi Ari harus percaya dong." Fillia meyakinkan Ari. Tak berapa lama, tiba-tiba saja telepon Fillia berbunyi.
Ari sangat antusias karena mengira bahwa telepon tersebut dari Raka, tetapi ternyata itu telepon dari Toni.
"Dari Om Toni." Jawab Fillia yang tentunya membuat Ari terdiam.
Fillia segera mengangkat teleponnya.
"Halo Ton, ada apa ya?" Tanya Fillia.
"Apa? gimana sih? Aku sama Ari itu udah nunggu dari tadi. Emang Dia gak kasihan apa sama Ari." Protes Fillia yang berusaha memelankan suaranya agar Ari tidak mendengarnya.
"Ya mau gimana lagi, soalnya mendadak tadi Boss Raka dapet kabar kalo Bu Lidya masuk rumah sakit." Jawab Toni.
"Kalo gitu, Kamu kirimin dimana Bu Lidya dirawat. Biar Aku kesana sama Ari." Titah Fillia tegas.
"Yaudah kalo gitu, nanti Aku kirimin ya." Jawaban Toni yang berusaha menenangkan Fillia. Fillia pun mengakhiri teleponnya, Ia benar-benar tidak tega harus menyampaikan bahwa Raka tidak jadi datang. Fillia tahu bahwa Ari sangat bersemangat tadi.
"Ada apa Tante? Ayah sibuk ya? gak bisa dateng?" Ari seolah tahu dan hafal dengan hal seperti itu.
"Iya, tapi gak papa. Sekarang biar Kita makan berdua aja ya, setelah itu Kita susul Ayah Kamu ke rumah sakit. Karena Nenek Lidya sakit." Fillia mencoba menghibur Ari.
Akhirnya Fillia dan Ari pun makan bersama walau tanpa kehadiran Raka.
Di Rumah Sakit.
Raka mempercepat langkahnya menuju ruangan tempat Bu Lidya dirawat. Ketika Ia membuka pintu, dilihatnya Pak Wira dan Meyra tengah mendampingi Bu Lidya.
__ADS_1
"Mi, Mami kenapa?" Tanya Raka yang khawatir dan langsung menghampiri Bu Lidya.
"Tante Lidya tadi tiba-tiba pingsan Raka." Jawab Meyra.
"Raka... Mami seneng Kamu udah ada di sini." Ucap Bu Lidya.
"Mami itu kenapa sih? Kok bisa pingsan." Protes Raka yang sebenarnya khawatir .
"Mami ini udah tua Raka, Sakit itu wajar. Jadi kalau tiba-tiba Mami pergi, itu bisa terjadi kapanpun."Ucap Bu Lidya yang seolah pasrah akan kehidupannya.
"Mami gak boleh ngomong gitu dong." Raka merasa tak senang dengan perkataan Bu Lidya.
"Iya, Mami jangan ngomong gitu" Pak Wira pun merasa tidak senang dengan ucapan Bu Lidya.
"Raka, Mami boleh minta sesuatu?" Ucap Bu Lidya lirih.
"Mami mau minta apa?" Tanya Raka.
"Sejak dulu, Mami ingin sekali melihat Kamu menikah dengan Meyra. Sekarang Kesya juga udah gak ada, Mami rasa Ari juga butuh seorang Ibu." Ucap Bu Lidya meneteskan air matanya.
Meyra tersenyum dalam hatinya, sedangkan Raka hanya terdiam karena bingung harus menjawab apa. Di satu sisi, Ia masih berharap Kesya akan kembali karena jasadnya memang belum ditemukan, disatu sisi Ia merasa kasihan dan ingin membahagiakan Maminya.
Bu Lidya meraih tangan Raka dan juga Meyra, Ia menyatukan tangan Mereka dan menatap Raka dan Meyra bergantian.
"Tolong, kabulkan permintaan Mami, satu kali ini aja, Raka." Ucap Bu Lidya sesenggukan.
Raka yang tidak tega melihat Maminya seperti itupun mengalah dan menerima permintaan Bu Lidya.
"Iya, Raka akan menikah dengan Meyra. Tapi setelah Mami sembuh." Jawab Raka.
Meyra dan Bu Lidya benar-benar senang karena rencana yang mereka buat telah berhasil, Kini mimpi Meyra untuk bersama dengan Raka akan segera terwujud.
"Jangan tunggu Mami sembuh, Mami mau secepatnya." Ucap Bu Lidya.
"Satu bulan lagi, kasih waktu Raka satu bulan. Karena menikah itu butuh persiapan." Ucap Raka.
"Makasih ya Raka, Kamu memang Anak yang baik." Ucap Bu Lidya.
Tidak ada yang menyadari bahwa Fillia dan Ari tengah masuk dan mendengarkan percakapan Mereka. Ari benar-benar kecewa dan berlari ketika mengetahui bahwa Raka akan segera menikah dengan Meyra. Raka yang menyadari itupun mencoba mengejar Ari, begitupun dengan Fillia yang berusaha menghibur dan memberikan pengertian kepada Ari.
__ADS_1