
Di Kamar Ara dan Ari.
Kesya membuka pintu kamar Anak-anaknya dan melihat Ara dan Ari tengah berganti pakaian. Kesya pun menghampiri keduanya.
"Sini biar Mama bantu." Kesya membantu Ara memakai bajunya.
"Telimakasih Mama." Ara tersenyum kepada Kesya. Setelah membantu Ara, Kesya pun menghampiri Ari dan hendak membantunya. Tetapi Kesya melihat wajah Ari yang memar.
"Kakak, ini wajah Kakak kenapa memar gini?" Tanya Kesya melihat wajah Ari dari dekat.
"Tadi Ari latihan Ma, dan Ari telat menghindar. Jadi Ari kena pukul." Jawab Ari.
"Yaampun Ari, biasanya Kamu gak kayak gini. Kenapa gak menghindar si Nak. Kamu gak hati-hati ya." Oceh Kesya memeriksa luka Anaknya itu.
"Maaf Ma, Ari gak akan mengulangi lagi." Ari meminta maaf.
"Yaudah, Kamu duduk sini ya Kak, biar Mama ambil obat luka dulu." Ucap Kesya Kemudian bergegas mengambil obat untuk mengobati Ari.
Ari pun menurut dan duduk di atas ranjangnya.
"Hu Kakak si." Ledek Ara menjulurkan lidahnya.
"Ara…. Kamu gak boleh gitu." Kesya yang mendengar itupun mengingatkan Ara.
"Iya Mama, Ala cuma belcanda." Ucap Ara yang berlari menyusul Kakaknya, Ara duduk di samping Kakaknya.
Kesya kembali dan mengoleskan obat di wajah Ari.
"Nah sekarang udah diobati, sebentar lagi pasti sembuh." Ucap Kesya kemudian mengecup kening Putranya.
Kesya benar-benar sosok penyayang untuk Anak-anaknya.
"Yaudah, udah ganti baju kan? Kalian sekarang boleh makan." Ucap Kesya merangkul kedua Anaknya.
"Tok, tok, tok.." Suara pintu yang diketuk dari luar.
"Iya, masuk." Jawab Kesya.
Raka masuk bersama dengan Pak Wira, mereka menghampiri Kesya dan si kembar
"Eh Mas, Papi kok malah Kamu ajak kesini? Papi gak istirahat?" Tanya Kesya.
"Papi pengen kenalan sama Cucu Papi. Boleh Nak?" Tanya Pak Wira.
"Boleh kok Pi." Jawab Kesya kemudian menghampiri Raka.
"Halo Anak-anak. Cucu Kakek yang menggemaskan, Kakek boleh tahu nama Kalian nggak?" Tanya Pak Wira.
"Nama Aku Ala Kek, Ala seneng ketemu sama Kakek." Ara bersorak kegirangan.
"Kakek juga senang sekali ketemu Ala." Ucap Pak Wira.
"Bukan Ala Kakek tapi Alllla." Ara mencoba menekankan pelafalan huruf R tetapi yang keluar dari mulutnya tetaplah L.
__ADS_1
Hal itu tentu memancing gelak tawa dari Kesya dan Raka.
"Maksudnya Ara Pi, Dia memang belum bisa melafalkan huruf R." Terang Raka.
"Ohh Ara, kalo Kamu siapa namanya?" Tanya Pak Wira pada Ari.
"Nama Saya Ari Kek." Jawab Ari.
"Loh ini wajah Kamu kenapa?" Tanya Pak Wira.
"Ari berlatih beladiri dan mengalami sedikit kecelakaan." Jawab Ari.
"Wajah Kamu mirip sekali dengan Ayah Kamu waktu kecil, Ayah Kamu juga dulu sering banget berkelahi." Ucap Pak Wira.
"Jangan buka aib Raka ke anak Raka dong Pi." Ucap Raka.
"Ya nggak apa-apa dong. Buat cerita aja kok." Tawa Pak Wira meledek Raka.
"Yaudah Pi, kalo gitu Kesya sama Raka mau keluar dulu ya. Biar Papi ada waktu sama Anak-anak." Pamit Raka.
"Iya-iya biar Papi main sama mereka ya." Jawab Pak Wira.
"Holeee main sama Kakek." Ucap Ara girang.
"Kita permisi ya Pi." Kesya kemudian pamit pada Pak Wira.
Kemudian Kesya dan Raka keluar dari kamar Anak-anak.
"Iya Mas, kalo gitu Aku ke kamar dulu ya." Pamit Kesya.
Kesya pun meninggalkan Raka, kemudian Raka bergegas menuju halaman rumahnya.
Di Kamar Meyra.
Meyra berjalan menatap pemandangan diluar jendela.
"Aku gak akan biarin Kamu, jadi milik orang lain Raka." Ungkap Meyra yang selama ini diam-diam mengagumi Raka.
Meyra membuka dompet miliknya dan mengambil foto dari dompet tersebut. Foto itu adalah foto ketika Meyra dan Raka masih duduk di bangku SMP, saat itu Raka menyatakan perasaannya kepada Meyra. Tetapi Meyra belum mencintai Raka saat itu.
"Aku yakin Raka, Kamu pasti masih punya perasaan sama Aku. Aku akan rebut Kamu dari Wanita yang nggak seberapa itu." Ucap Meyra.
Tiba-tiba saja Meyra melihat Raka keluar dari rumah dan menuju mobilnya.
"Itukan Raka, ngapain Dia diluar, Aku harus susul Dia, ini kesempatan Aku untuk deketin Dia." Ucap Meyra yang bergegas pergi menuju halaman rumah.
Di Kamar Kesya
Kesya masuk ke kamarnya dan berbaring karena merasa lelah. Tiba-tiba telepon genggam milik Raka berbunyi.
"Inikan Hpnya Mas Raka, kok disini si. Ada telepon masuk lagi." Kesya mengecek Hp yang tergeletak di atas nakas.
"Mas Raka lama banget gak balik-balik lagi. Kalo telepon penting gimana ya?" Batin Kesya yang mulai resah karena nomor tersebut menelepon berkali-kali.
__ADS_1
"Lebih baik Aku susulin Mas Raka aja deh." Kesya akhirnya memutuskan untuk memberikan Hp tersebut kepada Raka.
Di halaman rumah
Raka tengah sibuk mencari barangnya di bagasi mobil miliknya. Tiba-tiba Ia dikejutkan oleh kedatangan Meyra.
"Raka." Sapa Meyra yang menghampiri Raka.
"Meyra, Kamu kok diluar. Kamu bukannya seharusnya istirahat di kamar." Ucap Raka.
"Aku mau minta maaf sama Kamu karena kejadian tadi." Ucap Meyra.
"Iya gak papa, lagian Kamu belum tahu kalo Aku sudah menikah, jadi ya udahlah lupain aja." Jawab Raka.
"Oh iya, Kamu cari apa si ?" Tanya Meyra yang mencoba mendekati Raka.
"Oh ini, tadi itu kayaknya Aku simpan alat lukis buat Ara disini, tapi kok gak ada ya." Ucap Raka.
"Kamu lupa taruh kali." Ucap Meyra.
Dari kejauhan Meyra melihat Kesya yang tengah mencari keberadaan Raka.
"Ada Kesya, Aku ada ide supaya bikin Dia cemburu." Batin Meyra.
"Aduh Raka, kayaknya mata Aku kelilipan deh." Meyra berpura-pura kesakitan matanya.
"Kamu beneran? Jangan dikucek gitu matanya. Nanti malah tambah parah." Ucap Raka menahan tangan Meyra agar tidak mengucek matanya lagi.
"Aduh Raka, sakit banget." Ucap Meyra.
"Biar Aku lihat." Ucap Raka yang mendekat untuk melihat apakah ada kotoran di mata Meyra.
Dari kejauhan, Kesya melihat kejadian tersebut.
"Itukan Mas Raka, ngapain Dia deket banget wajahnya sama Cewek itu. Mereka seperti orang yang mau berciuman." Batin Kesya yang melihat Suaminya tengah berduaan dengan Wanita lain. Dia pun menghentikan langkahnya.
"Bagus, Kesya lihat Kita sampai kayak gitu Dia pasti ngira yang enggak-enggak." Batin Meyra tersenyum dalam hati.
"Kenapa Aku jadi gak seneng gini ya, lihat Mas Raka mesra sama cewek itu." Batin Kesya.
"Aku yakin Dia pasti terbakar cemburu, Mereka pasti bakal berantem setelah ini. Dan Aku bisa menghibur Raka dan masuk lagi ke hatinya." Batin Meyra.
"Lebih baik Aku balik ke kamar aja. Daripada harus lihat kejadian kayak gini." Batin Kesya kemudian masuk kembali ke dalam rumah.
"Bagus, Dia pasti marah sama Raka setelah ini, buktinya Dia balik lagi ke dalam rumah." Batin Meyra.
"Gak ada apa-apa kok Mey, emang masih sakit?" Tanya Raka.
"Oh nggak kok, udah gak sakit makasih ya Raka." Ucap Meyra.
"Iya sama-sama." Jawab Raka.
"Yaudah Aku balik ke kamar dulu ya Ka." Pamit Meyra.
__ADS_1