
Waktu makan malam telah tiba, kini semua keluarga Raka telah berkumpul di ruang makan untuk menikmati makan malam bersama.
Sebagai seorang Istri, Kesya pun mengambilkan makanan untuk Suami dan juga kedua Anaknya.
Meyra dan Mami Raka benar-benar jengkel dan merasa muak dengan kebahagiaan Raka dan Kesya.
Dengan wajah yang begitu kesal, Meyra pun berdiri dari tempat duduknya, beralasan tidak enak badan dan ingin beristirahat, kenyataannya Dia tidak mau lama-lama melihat kemesraan Raka dan Kesya. Meyra merasa sangat cemburu.
"Semuanya, Aku pamit mau istirahat dulu ya. Kayaknya Aku gak enak badan deh." Ucap Meyra yang membuat semua pandangan kini tertuju padanya.
"Kamu gak enak badan? Apa perlu Kita panggil Dokter?" Ucap Bu Lidya yang merasa khawatir terhadap Meyra, Dia segera menghampiri Meyra dan meraih tangan Meyra.
"Iya Meyra, Kita panggil Dokter aja ya. Daripada kenapa-napa." Saran Kesya yang penuh dengan perhatian.
"Oh makasih, tapi gak perlu kok, Aku cuma butuh istirahat aja." Tolak Meyra berusaha berpura-pura ramah di depan Raka.
"Yaudah kalo gitu biar Mami antar Meyra ke kamar dulu ya, Mami antar ya Sayang." Perhatian Bu Lidya terhadap Meyra benar-benar membuat Kesya merasa sedih.
"Terimakasih Tante." Jawab Meyra, Bu Lidya pun menuntun Meyra menuju kamar agar Meyra bisa segera beristirahat. Kesya terus menatap kepergian Mereka, dalam hatinya Ia berharap suatu saat Bu Lidya akan mau menerimanya dan menyayanginya seperti Bu Lidya menyayangi Meyra. Raka yang tersadar bahwa Kesya melamun pun menegurnya.
"Key, Kamu kenapa? lihatin apa sih, jangan ngelamun dong." Tegur Raka yang membuat Kesya terkejut dan mengalihkan pandangannya menatap Raka.
"Gak kok Mas, Aku gak lihat apa-apa." Jawab Kesya berbohong, Ia pun kembali memakan makanannya.
Di Kamar Meyra
Bu Lidya menggandeng Meyra hingga memasuki kamar, Wajah Meyra benar-benar terlihat jengkel, Bu Lidya yang menyadari itu pun segera meminta Meyra untuk duduk di sofa dekat ranjang dan memancing agar Meyra mau bercerita.
"Sini-sini, duduk dulu Sayang. Kamu kenapa sih? Kayaknya sebel banget." Terka Bu Lidya yang menarik Meyra hingga kini mereka duduk berhadapan di sofa.
"Meyra tuh bener-bener sebel sama Cewek itu Tante, Meyra cemburu. Dia sengaja banget memperlihatkan kebahagiaan Mereka di depan Meyra." Meyra berterus-terang kepada Bu Lidya, Bu Lidya pun mengangguk memberi respon terhadap Meyra.
"Tante juga eneg banget sama wanita itu." Bu Lidya juga mengeluarkan pendapatnya.
"Mau sampai kapan Meyra harus melihat pemandangan kayak gitu Tante? Kalo kayak gini lebih baik Meyra kembali keluar negeri."Ungkap Meyra mengungkapkan kekesalannya, bahkan Ia meneteskan air matanya di depan Bu Lidya, hal itu membuat Bu Lidya merasa simpati hingga mengusap air mata Meyra.
__ADS_1
"Jangan dong Sayang, Kita harus segera cari cara supaya Raka dan Cewek itu bisa berpisah." Bu Lidya memeluk Meyra dan menenangkan Meyra.
"Makasih ya Tante." Meyra tersenyum licik karena berhasil mempengaruhi Bu Lidya dengan air matanya.
Di Kamar Raka
Kesya tengah membaca majalah di sofa yang berada di kamar, tiba-tiba Raka membuka pintu dan masuk kedalam kamar. Raka menghampiri Kesya kemudian tidur di pangkuan Istrinya itu.
"Tumben banget Kamu manja kayak gini, ada apa sih?" Tanya Kesya yang merasa aneh dengan tingkah Suaminya yang tiba-tiba menjadi manja.
"Tadi Aku dapat telepon dari perusahaan, dan Mereka minta Aku buat pergi keluar kota untuk menemui klien." Ucap Raka menatap wajah Istrinya yang masih fokus membaca majalah.
"Waw, keren dong Mas." Kesya menanggapi pernyataan Raka dengan santai, bahkan Ia masih belum berpaling dari majalahnya. Raka yang kesal melihat itupun dengan sigap merebut majalah yang dibaca Kesya kemudian menutupnya.
"Yah Mas, kok Kamu ambil sih. Aku belum selesai baca tahu." Kesya berusaha merebut kembali majalah tersebut, tetapi Raka menyembunyikannya di balik tubuhnya.
"Makannya, kalau Suami ngomong itu didengerin. Ini kamu malah sibuk sama majalah Kamu." Protes Raka.
Kesya pun menghela nafas panjang karena kelakuan Raka yang menurutnya terlalu lebay.
"Aku itu udah dengerin Kamu Mas." Protes Kesya.
"Aku pasti kangen sama Kamu deh Mas." Jawab Kesya yang membuat wajah Raka memerah.
"Aku juga sebenernya khawatir sama Kamu dan Anak-anak." Ucap Raka, kini wajahnya terlihat serius.
"Kamu tenang aja Mas, Aku dan Anak-anak pasti aman kok. Lagian Kamu lupa ya, kalo Anak-anak itu jenius dan kuat?" Kesya mengelus pelan rambut Suaminya itu. Raka pun mengambil tangan Kesan kemudian menciumnya.
"Aku percaya kalo Kalian gak akan kenapa-kenapa." Jawab Raka tersenyum manis.
"Oh iya Mas, emang Kamu berangkat kapan?" Tanya Kesya.
"Besok." Jawab Raka singkat.
"Besok? Kenapa Kamu gak bilang dari tadi. Minggir dulu biar Aku siapin baju dan barang-barang Kamu." Pinta Kesya tetapi tak dihiraukan oleh Raka.
__ADS_1
"Kan bisa nanti." Tolak Raka.
"Mas…… nanti malah Aku lupa." Kesya benar-benar membuat Raka mengalah, Raka pun bangkit dan kini Ia duduk disamping Istrinya.
Kesya pun segera mencari koper dan menyiapkan apa saja keperluan Raka yang akan dibawa untuk bertugas di luar Kota, Raka hanya memperhatikan Istrinya itu.
Pagi telah tiba, Kesya terbangun dan meraih ponselnya. Jam menunjukkan pukul 4 pagi, Kesya pun membangunkan Raka kemudian melaksanakan sholat bersama-sama.
Setelah menyelesaikan shalat, Mereka tidak lupa untuk berdoa.
"Aamiin" Kesya mengaminkan doa dari Raka, Kemudian Kesya mencium tangan Suaminya.
"Nanti Aku berangkat pagi." Ucap Raka memulai pembicaraan.
"Kalo gitu biar Aku siapin sarapan buat Kamu ya Mas, Kamu mau makan sama apa?" Tawar Kesya melepaskan mukenanya.
"Apa aja, kalo Kamu yang masak pasti Aku suka." Jawab Raka tersenyum menggoda sang Istri.
"Emang kalo Aku masak paku pun Kamu suka?" Ledek Kesya dengan wajahnya yang memerah.
"Emang Kamu kira Aku kuda lumping?" Protes Raka.
"Yaudah Mas, Kamu siap-siap dulu ya, biar Aku masak dan bangunin Anak-anak." Pinta Kesya sembari melipat mukenanya.
"Biar Aku aja yang bangunin Anak-anak, sekalian Aku mau pamit sama Mereka." Ucap Raka yang berniat untuk membantu Kesya membangunkan dua jagoannya.
"Yaudah Kalo gitu, terserah Kamu aja deh Mas." Kesya menyentil hidung Pak Suami sambil tersenyum.
Kini Mereka benar-benar terbiasa bersama. Tidak ada lagi jarak diantara keduanya.
"Aku pasti kangen banget sama Kamu nanti." Rayu Raka menatap wajah Istrinya, begitupun dengan Kesya yang menatap wajah Suaminya, hingga mata Mereka saling bertemu.
"Grompyang……" Suara benda yang terjatuh dan pecah dari luar kamar.
Suara itu benar-benar merusak suasana Kesya dan Raka pun terkejut, hingga melihat ke arah pintu kamar.
__ADS_1
"Ada apa Mas?" Tanya Kesya kepada Raka.
"Gak tau, kayaknya suaranya dari luar. Ayo Kita lihat." Ajak Raka, kini Mereka berdua bergegas merapikan tempat shalat kemudian pergi ke arah sumber suara.