Anak Genius: Milikku Milikmu.

Anak Genius: Milikku Milikmu.
BAB 79 SELAMAT DATANG


__ADS_3

Bu Lidya mengucapkan ketidaksukaannya yang membuat orang-orang pun merasa heran.


"Raka gak peduli, Mami suka ataupun nggak. Raka gak mau lagi berpisah sama keluarga kecil Raka." Jawab Raka tegas.


"Emang siapa yang mau misahin Kalian?" Tanya Bu Lidya yang seolah tidak bersalah.


"Itu tadi Mami bilang gak suka." Jawab Raka.


"Maksud Mami, Mami gak suka kalau gak ada perayaan. Karena Mami bahagia sekali, Kalian bisa bersatu kembali." Bu Lidya mengungkapkan maksudnya.


Mereka yang tadi terkejut pun merasa lega mendengar perkataan Bu Lidya.


"Ihhhhh itu, kalo itu sih Aku juga setuju sama Bu Lidya." Jawab Fillia.


"Toni, Saya minta sama Kamu, adain acara syukuran dan juga jangan lupa pesta pernikahan yang sangat mewah. Karena Mami mau, Kesya merasakan rasanya jadi Pengantin Wanita yang sangat beruntung." Ucap Bu Lidya yang membuat Kesya merasa terharu tentunya.


"Siap, Tante." Toni menyanggupi permintaan Bu Lidya.


Di dalam mobil


Kini Raka duduk bersama dengan Kesya dan juga Ari di sebuah mobil. Saat ini Mereka tengah di perjalanan pulang.


"Akhirnya Kamu kembali ke rumah, selama Kamu gak ada, Aku bener-bener rindu kehadiran Kamu." Ucap Raka yang kini duduk di sebelah Kesya.


"Aku juga udah rindu pulang Mas," Jawab Kesya yang tersenyum manis.


"Ekhem, serasa dunia milik berdua ya." Toni yang mengendarai mobil merasa tidak dianggap.


"Apa sih Ton, Lebay deh" Protes Kesya.


"Tau, fokus aja tuh sama jalan. Gak usah gangguin Kita." Protes Raka.


"Iya, mentang-mentang punya pasangan." Umpat Toni pelan.


"Oh iya Mas, gimana kalo Kita berkunjung ke makam Ara, Aku rindu banget sama Dia." Saran Kesya.


"Kita ziarah ke tempat Ara besok aja ya. Setelah Kita istirahat." Ucap Raka.


"Yaudah deh." Jawab Kesya yang mengikuti permintaan Raka.


Di Hotel tempat pernikahan Raka dan Meyra.


Dokter Dimas menghampiri Fillia dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Fillia pun menjabat tangan Dimas.


"Selamat ya, rencana Kamu berjalan dengan lancar dan berhasil." Ucap Dokter Dimas pada Fillia.


"Makasih karena kalau Dokter Dimas gak membantu, mungkin rencana Aku gak akan berhasil." Ucap Fillia.


"Jadi cuma Makasih doang?" Tanya Dokter Dimas.

__ADS_1


"Maksud Dokter? Oh iya Saya bawa ATM kok Dok." Ucap Fillia merogoh tasnya.


"Gimana kalo sebagai tanda terimakasihnya, Kita makan malam berdua." Ucap Dokter Dimas yang membuat Fillia terdiam.


"Gimana? Kamu bersedia?" Tawar Dokter Dimas.


"Iya, oke Aku mau." Jawab Fillia.


"Oke, sampai jumpa nanti malam." Ucap Dokter Dimas kemudian meninggalkan Fillia.


"Yaampun, mimpi apa Aku semalam. Dokter Dimas ngajak Aku makan berdua." Ucap Fillia yang melompat kegirangan.


Malam Harinya Di Restoran Mawar


Fillia datang bersama dengan Dimas, Dimas mempersilahkan Fillia untuk duduk.


"Silahkan." Dimas menarik sebuah kursi untuk Fillia.


"Makasih." Fillia salah tingkah dengan perlakuan Dimas.


Mereka pun memesan makanan, tak berapa lama pesanan Mereka datang. Mereka pun menikmati makan malam bersama.


Dokter Dimas memulai pembicaraan diantara keduanya.


"Fillia, sebenarnya ada satu hal yang ingin Saya sampaikan ke Kamu." Ucap Dimas yang membuat Fillia berhenti melakukan aktivitasnya.


"Saya fikir, selama dua bulan ini Kita bekerja sama. Saya merasa nyaman sama Kamu." Ucap Dokter Dimas meraih tangan Fillia dan menggenggamnya.


Fillia terdiam, mencoba menerawang apakah Dimas benar-benar serius atau hanya mempermainkan perasaannya.


"Tapi Kita kan baru kenal, lagipula kalau memang Dokter Dimas serius sama Saya. Saya tantang Dokter untuk temui Pakde dan Bude Saya di kampung." Tantang Fillia.


"Kalau memang itu yang Kamu mau, Aku akan lakuin itu dan buktikan ke Kamu." Jawab Dimas dengan yakin.


Di Rumah Raka.


Raka keluar dari kamar mandi, Ia baru saja selesai mandi. Ia tersenyum ketika melihat Kesya duduk menghadap kaca sambil menyisir rambutnya.


Raka berjalan menghampiri Kesya dan memeluknya dari belakang.


"Mas, Kamu ngagetin Aku tau nggak." Protes Kesya yang terkejut karena tiba-tiba dipeluk dari belakang.


"Aku tuh masih gak percaya, akhirnya Kamu kembali lagi ke kamar ini. Aku kangen banget sama Kamu Key." Ucap Raka masih memeluk Kesya.


"Aku juga kangen sama Kamu, dan kamar ini Mas." Kesya mengelus pipi Suaminya dengan penuh kelembutan.


"Kita juga udah lama banget gak olahraga malam." Ucap Raka yang membuat Kesya terkejut.


"Olahraga malam apa sih Mas?" Kesya tersipu malu, kini pipinya memerah.

__ADS_1


"Gimana kalau malam ini, Kita habiskan waktu bersama."Ucap Raka melepaskan pelukannya.


Kesya berdiri dari tempat duduknya, kini Ia menghadap Raka dan menatap mata Raka.


Saat wajah Mereka semakin dekat, tiba-tiba saja pintu diketuk dengan keras.


"Tok....tok....tok......" Suara pintu yang diketuk.


"Siapa sih yang ganggu." Umpat Raka.


"Stttt Mas, jangan gitu. Kalo itu Papi atau Mami gimana?" Protes Kesya mendorong tubuh Raka agar menjauh.


"Yaudah deh, Kamu aja yang buka. Jangan lama-lama." Ucap Raka yang merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Kesya tersenyum melihat tingkah laku Suaminya, Ia kemudian membuka pintu kamar. Dilihatnya Ari tengah berdiri di luar kamar tengah menunggu pintu terbuka.


"Ari, kok Kamu belum tidur? apa ada masalah?" Tanya Kesya memegang pundak Putranya.


"Mama, apa Ari boleh tidur disini? Ari masih kangen sama Mama. Bolehkan Ari tidur sama Mama?" Ari meminta izin kepada Kesya. Kesya yang tidak tega melihat Ari pun mengizinkan Ari untuk tidur di kamarnya.


Ari berlari masuk dengan riang gembira.


"Horeee tidur sama Mamasa." Ucap Ari masuk ke kamar dan berlari menyusul Raka.


Raka yang melihat itupun merasa heran, Ia berkomunikasi dengan kode kepada Kesya.


"Kok Ari ke sini?"Tanya Raka yang merasa terganggu karena kedatangan Ari.


"Iya, kasihan dong Mas, kalo Dia tidur sendirian." Jawab Kesya. Raka bangun dari tidurnya Kemudian menghampiri Kesya.


"Terus rencana Kita tadi?" bisik Raka meminta penjelasan dari Kesya.


"Ya Aku gak tahu." Jawab Kesya santai kemudian menghampiri Ari yang sudah bersiap di tempatnya.


"Yah, gagal deh."Batin Raka kemudian tidur di sebelah Ari.


"Selamat tidur Ari." Ucap Kesya mengecup kening Ari.


"Selamat tidur Ma." Jawab Ari kemudian memejamkan matanya.


Setelah melihat bahwa Ari telah terlelap, Raka menggenggam tangan Kesya dan memainkan matanya.


"Ari udah tidur, gimana kalo Kita lanjutin yang tadi." Ucap Raka sumringah.


"Apaan sih Mas, nggak jelas banget Kamu." Kesya menolak permintaan Raka dan fokus kepada Ari.


"Yah,yaudah deh." Jawab Raka akhirnya mengalah. Ia menyelimuti tubuhnya dan memejamkan matanya. Kesya tersenyum melihat kedua lelaki terbaiknya ada di sampingnya.


"Kalian adalah Orang-orang yang sangat berarti buat Aku." Batin Kesya kemudian Ia tertidur.

__ADS_1


__ADS_2