
Setelah menemui satpam kompleks, satpam tersebut pun mengenali Ara. Dia mengantar Ara dan Azriel kerumah Ara.
"Nah, sekarang udah sampe cantik." Ucap Pak Satpam yang menghentikan motornya didepan rumah Ara.
"Wah iya Pak, ini rumah Ala." Ucap Ara bahagia.
"Lho, Rumah Ara disini? jadi Ara tetangga sebelah Kak Ziel dong." Ucap Azriel yang menunjukkan rumahnya.
"Jadi, Kak Ziel tinggal dilumah itu?" Tanya Ara.
"Iya." Jawab Azriel.
"Oh iya, telimakasih ya Pak." Ucap Ara berterimakasih kepada Pak satpam.
"Iya Cantik, kalo gitu Bapak balik dulu ya." Pamit Pak satpam yang memutar arah untuk kembali ke pos satpam.
"Ara, Kalo gitu Kak Ziel pulang kerumah dulu ya, kapan-kapan kalo Kak Ziel senggang Kakak main kerumah Kamu." Ucap Azriel berpamitan kepada Ara.
"Makasih ya Kak Ziel." Ara berterimakasih, Mereka pun berpisah. Azriel pulang kerumahnya sedangkan Ara memasuki gerbang rumah. Ia melihat Pak Wira tengah menyiram tanaman di halaman rumah.
"Kakekkkk" Panggil Ara berlari menghampiri Pak Wira.
"Loh Ara, kok Kamu sendirian, bukannya tadi Kamu sama Mama dan Ayah. Mereka kemana? kok bisa-bisanya Mereka biarin Kamu balik sendiri." Tanya Pak Wira.
"Ala gak tau Mama sama Ayah dimana Kakek. Tadi Ala ngejal kucing. telus ala hilang." Jawab Ara polos.
"Yaampun teledor banget si Mereka, yaudah kalo gitu Kamu bantuin Kakek tanam bunga aja ya Ara."Ucap Pak Wira.
"Siap Kek, tapi Ala mau dibayal pake bubul ayam." Jawab Ara.
"Oh gitu, jadi Cucu Kakek ini lagi pengen makan bubur ya? Siap deh kalo gitu." Jawab Pak Wira.
"Holeee Ala sayang Kakek." Ara merasa senang.
"Tonnnn, Tonii." Pak Wira memanggil Toni, tak berapa lama Toni pun datang.
"Iya Boss, ada apa?" Tanya Toni.
"Cucu kesayangan Saya ini lagi pengen bubur, tolong Kamu cariin bubur ya." Pinta Pak Wira.
"Siap Boss." Jawab Toni bergegas melaksanakan tugasnya.
"Terus aja dimanja, Pi Kita tu belum tahu pasti, Anak ini beneran Anak Raka atau bukan."Ucap Bu Lidya yang tiba-tiba muncul bersama Meyra.
"Mi, Mami itu ngomong apa si? jangan sembarangan ngomong Mi, apalagi didepan Ara ngomong kayak gitu. Papi percaya kok Ara dan Ari itu memang Cucu Kita. Anak dari Raka." Bisik Pak Wira.
__ADS_1
"Aduh Papi, bisa aja Mama mereka itu bohong, Dia ngaku-ngaku punya Anak dari Raka supaya Mereka bisa hidup enak." Bu Lidya masih tidak mau diam.
"Iya Om, zaman sekarang itu penipuan merajalela." Meyra mendukung argumen yang diungkapkan oleh Bu Lidya.
"Kalian berdua sama saja, sama-sama punya pemikiran yang selalu saja negatif." Ucap Pak Wira.
"Tau ah, ngomong sama Papi itu emang susah. Mending Mami ke salon, Mami jenuh dirumah ini ketemu sama Anak-anak itu terus." Bu Lidya menggandeng tangan Meyra dan mengajaknya pergi.
Di Mobil.
Toni telah datang ke tukang bubur langganannya, tetapi sial sekali, hari ini tukang bubur langganannya tidak berjualan.
"Duh, bubur Ayam langganan tutup lagi, harus cari kemana ini bubur buat Non Ara." Toni menoleh kekanan dan kiri jalan, berharap menemukan tukang bubur.
Setelah beberapa saat mencari, Ia melihat penjual bubur, Toni merasa gembira, Ia memarkirkan mobilnya kemudian bergegas menghampiri penjual bubur tersebut.
"Bang, Saya pesen Buburnya seratus ribu ya Bang." Ucap Toni.
"Maaf Mas, buburnya tinggal satu porsi dan udah dibeli sama Mbak-nya." Jawab Penjual tersebut.
"Mbaknya? Mbak mana Mas? gak ada orang kok." Toni celingak-celinguk mencari orang yang dimaksud.
"Nah itu orangnya Mas." Penjual tersebut menunjuk Wanita yang baru saja datang.
"Kamu." Ucap Toni yang mengenali wajah tersebut, Wanita yang Ia temui di supermarket.
"Eh Kamu gak lihat, ini penjual bubur. Berarti Aku disini beli bubur." Jawab Toni.
"Ih yaudah kali, biasa aja. Gak usah nyolot." Protes Senja.
"Siapa yang nyolot, biasa aja ini." Jawab Toni.
"Bang Pesenan Aku udah jadi?" Tanya Senja.
"Oh iya Neng Senja, ini udah Saya bungkusin." Penjual tersebut memberikan bubur itu kepada Senja, namun direbut oleh Toni.
"Eh apa-apaan nih? itu kan bubur Saya." Protes Senja.
"Enak aja, orang yang sampe duluan kesini itu Aku, berarti ini buat Aku." Protes Toni.
"Ye orang Aku pesen duluan, ini punya Aku kan Bang?" Senja mencari pembelaan.
"Iya, Neng Senja dulu yang pesen." Jawab penjual bubur tersebut.
"Kalo gitu Saya beli seratus ribu deh Bang, satu porsi ini. Gimana?" Tanya Toni.
__ADS_1
"Waduh, kalo gitu maaf ya Neng Senja. Ini buat Mas ini aja." Penjual itu memberikan bungkusan itu kepada Toni.
"Emang dasar orang kaya, selalu bergantung sama uang, mentang-mentang uang Kamu banyak." Umpat Senja.
"Iya itulah enaknya orang kaya." Jawab Toni acuh.
"Ih awas aja ya, Aku gak terima sama kecurangan Kamu ini." Ucap Senja kemudian meninggalkan Toni.
"Hahahaaaa jangan nangis ya kalo sampai rumah." ledek Toni.
Di Rumah Raka.
Keysa terus menangis sepanjang perjalanan pulang karena tak juga menemukan Ara, Raka terus menenangkannya.
"Udah dong nangisnya, jangan nangis terus. Ara pasti baik-baik aja kok. Kan satpam komplek tau Ara." Raka menenangkan Kesya.
"Iya kalo Ara ketemu sama satpam komplek, kalo Ara ketemu sama orang jahat gimana Mas? kenapa Kita teledor banget si Mas." Sesal Kesya.
"Kamu jangan berfikir gitu dong, Kita harus berfikir positif." Ucap Raka.
"Kamu itu gak tau gimana perasaan seorang Ibu Mas." Protes Kesya.
Ara yang tengah bermain dengan Pak Wira melihat kedatangan Mama dan Ayahnya.
"Mama, Ayah." Ara berteriak kemudian berlari menyusul Mama dan Ayahnya.
"Ara......" Kesya memeluk Putri kecilnya yang sedari tadi Ia cari.
"Mama, Ayah maaf ya, Ala tadi malah pelgi gak bilang Mama sama Ayah." Ara menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.
"Iya gak apa-apa Sayang, tapi lain kali jangan gitu lagi ya, Mama sama Ayah khawatir cariin Kamu. Kalau Kamu mau pergi, harus ijin dulu." Pinta Kesya.
"Iya Mama, Ala janji gak akan ulangi lagi." Ara menunjukkan jari kelingkingnya.
"Loh Ara, kaki Kamu kenapa diplester?" Tanya Raka yang melihat plester di kaki Ara.
"Tadi Ala jatuh, telus dibantu sama Kak Ziel. Luka Ala diobati." Jawab Ara.
"Ya ampun sayang, sakit nggak? nanti Mama obati lagi ya." Kesya melihat luka di kaki Ara.
"Nggak sakit kok Ma." Jawab Ara tersenyum.
Kemudian Pak Wira menghampiri Mereka bertiga.
"Kalian gimana sih? kok bisa Ara pisah sama Kalian." Protes Pak Wira.
__ADS_1
"Iya Pi, maaf ini emang salah Kita, Kita udah teledor jagain Ara karna ego Kita." Raka menyesali perbuatannya.