
Kesya masih terus berusaha menghubungi Raka, tetapi ponsel Rak tidak aktif.
"Kenapa saat-saat kayak gini, Kamu malah susah dihubungi sih Mas." Kesya kebingungan, akhirnya Ia berpikir untuk menelepon Toni. Tak berapa lama, Toni menerima telepon dari Kesya.
"Halo Boss." Ucap Toni menyapa Kesya.
"Halo Ton, Kamu sekarang lagi dimana? Mas Raka lagi sama Kamu kan?" Tanya Kesya.
"Saya di hotel Boss, cuma Boss Raka kayaknya belum balik ke hotel deh." Jawab Toni.
"Duh, Mas Raka itu kemana sih? Aku hubungi berkali-kali tapi nggak aktif." Ucap Kesya dengan suara yang bergetar.
"Atau Boss Key, mau titip pesan? Semua baik-baik saja kan?" Tanya Toni panik.
"Nggak Ton, semua gak baik-baik aja. Sekarang Aku di rumah sakit." Kesya kini meneteskan air matanya.
"Bos Key di rumah sakit? Ada yang jahat sama Boss?" Tanya Toni panik.
"Ara Ton, Ara pingsan dan sekarang Dia lagi ditangani sama Dokter. Aku takut Dia kenapa-napa Ton." Jawab Kesya lirih.
"Astaghfirullah, Saya turut prihatin Boss, Boss tenang aja. Sekarang juga Saya cari Boss Raka." Toni berusaha menenangkan Kesya.
"Makasih ya Ton." Ucap Kesya sembari mengusap air matanya.
"Kalo gitu Saya tutup dulu panggilannya." Toni kemudian mengakhiri panggilannya dengan Kesya.
Kesya kembali duduk cemas menunggu kabar putrinya, kemudian Papi, Mami dan Meyra datang menghampiri Kesya.
"Nak, bagaimana keadaan Ara?" Tanya Pak Wira Kepada Kesya.
"Ara masih ditangani Dokter di dalam Pi." Jawab Kesya.
"Kamu yang sabar ya Nak, Kita berdoa yang terbaik untuk Ara." Pak Wira menenangkan Kesya.
Mereka pun kini menunggu di luar ruangan, hingga Dokter keluar dari ruangan tersebut. Kesya bergegas menghampiri dan bertanya tentang keadaan Putrinya.
"Dok, gimana keadaan Anak Saya? Dia baik-baik aja kan Dok?" Tanya Kesya cemas.
"Berdasarkan diagnosa Kami, sepertinya Anak Ibu keracunan makanan. Jenis racun yang masuk ke dalam tubuh Ara benar-benar kuat, Kami telah melakukan yang terbaik dan saat ini tubuh Ara tengah melawan racun tersebut." Jawab Dokter Dimas.
"Tapi Cucu Saya akan baik-baik aja kan Dok?" Tanya Pak Wira memastikan.
"Kami berharap seperti itu, tetapi ada hal yang perlu Kami sampaikan. Karena ini penting." Ucap Dokter Dimas yang tentunya membuat semua orang yang ada disana penasaran.
"Tapi apa Dok? Ada apa?" Tanya Kesya yang tidak sabar.
__ADS_1
"Kami harus menyampaikan bahwa Ara memiliki riwayat leukimia. Hal ini tentunya mempengaruhi imun tubuh Ara. Kita berdoa saja semoga Ara mampu melawan racun itu." Ucap Dokter Dimas yang membuat Kesya terkulai lemah dan terjatuh di lantai.
"Ara, Maafin Mama Nak." Tangis Kesya pecah, Ari memeluk Mamanya untuk memberikan kekuatan kepada Mamanya.
"Nak, sudah Nak. Kita berdoa saja agar Ara bisa sembuh." Pak Wira Menenangkan Kesya.
Di halaman hotel.
Raka keluar dari mobilnya dan berpapasan dengan Toni yang hendak mencarinya.
"Mau kemana Ton?" Tanya Raka.
"Mau cari Boss, Tadi Boss Key telepon Saya. Katanya Bisa Raka gak bisa dihubungi." Ujar Toni.
"Emang iya?" Raka merogoh sakunya tetapi tak menemukan ponselnya.
"Kayaknya ponsel Aku hilang deh." Ucap Raka.
"Ada berita buruk Boss, Ara masuk rumah sakit karena pingsan." Toni menyampaikan pesan dari Kesya.
"Apa? Ara pingsan? Toni, tolong Kamu atur penerbangan pulang untuk 4 orang ya. Aku harus segera lihat keadaan Ara." Titah Raka.
"Oke Boss langsung Saya cek." Toni menghubungi lihat penerbangan, tetapi hanya ada jadwal untuk besok pagi. Akhirnya Raka menyetujui.
Kesya berjalan di taman yang luas serta indah, bermacam macam bunga menghiasi taman tersebut, Kesya terus menyusuri taman tersebut hingga Ia melihat Ara tengah bermain di taman itu dengan mengenakan gaun putih, wajah Ara terlihat berseri.
"Araaaa" Kesya memanggil Ara dan menghampirinya.
"Mama." Jawab Ara yang melihat Kesya berlari ke arahnya.
"Sayang, Mama lega Kamu gak kenapa-napa." Kesya memeluk erat Ara.
"Ara sayang sama Mama, Ara juga sayang Papa dan Kak Ari. Tapi Ara gak bisa sama Kalian lagi " ucap Ara yang membuat Kesya terkejut, hatinya seperti tersambar petir.
"Kenapa Ara ngomong gitu. Ara gak boleh ngomong gitu." Kesya tak mampu lagi membendung air matanya.
"Ara sekarang akan bersama Ibu, Nak. Ibu akan menjaga Ara." Ucap seorang wanita mengenakan gaun putih. Wanita yang sangat Kesya sayangi. Itu adalah Ibunya.
"Ibuuuu" Kesya memeluk Ibunya erat.
"Sekarang Ara sama Nenek Ma, terimakasih untuk semuanya. Ara sayang Mama." Ucap Ara yang kini digandeng oleh Ibu Kesya.
"Nggak Ara, Kamu gak boleh pergi." Kesya menahan tangan Ara, tetapi Ara semakin jauh, sosoknya semakin lama semakin menghilang. Kesya ingin menahannya tetapi Ia bahkan tak bisa bergerak, Ia hanya mampu berteriak.
"Araaaaaaa" teriaknya histeris seiring menghilangnya Ara.
__ADS_1
Kesya terbangun dari tidurnya, ternyata itu hanyalah mimpi. Kesya benar-benar merasa takut kehilangan Ara. Ia mengambil Air wudhu kemudian melaksanakan sholat tahajud.
Ia juga meminta pertolongan agar Ara diberikan kesembuhan.
"Ya Allah, jangan ambil Ara. Sembuhkan lah Dia." Kesya terus menangis.
Di Ruangan Ara.
Jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari, Pak Wira terbangun ketika tiba-tiba Ara mengalami kejang. Karena panik, Ia pun segera memanggil Dokter. Dokter meminta Mereka semua untuk keluar ruangan karena Ara kini kritis, fungsi jantungnya melemah.
Mereka pun keluar dari ruangan.
"Nak, cepat Kamu panggil Mama Kamu di Masjid." Titah Pak Wira pada Ari.
"Iya Kek." Jawab Ari yang bergegas menyusul Kesya ke Masjid Rumah sakit. Ia memberitahukan bahwa Ara mengalami kritis. Ari dan Kesya bergegas menuju ruangan Ara.
"Pi, gimana keadaan Ara?" Tanya Kesya.
"Masih ditangani sama Dokter." Jawab Pak Wira
"Salah sendiri, jadi Ibu gak becus, gak bisa jagain Anak. Masak anaknya bisa sampe keracunan. Anak punya riwayat leukemia pun gak tahu." Maki Bu Lidya.
"Mi, udah Mi jangan disalahin Kesyanya. Kasihan." Pak Wira mencoba menenangkan Bu Lidya
"Kesya, lebih baik sekarang Kamu telepon Raka." Titah Pak Wira.
"Iya Pi." Jawab Kesya kemudian mencoba menghubungi Raka.
Di Rumah Prisa
Prisa membersihkan ruang tamunya, tiba-tiba Ia melihat ponsel milik Raka. Prisa pun mengeceknya dan ternyata baterai ponsel habis.
"Ya ampun ini pasti ponsel Raka, kayaknya baterai habis. Aku isi data dulu aja deh." Ucap Prisa kemudian mengisi daya.
"Aku hubungi nomor yang ada disini kali ya, untuk kasih tahu kalo hp Raka ketinggalan." Ucap Prisa membuka ponsel Raka dan ternyata tidak menggunakan kata sandi.
Tiba-tiba ponsel tersebut berdering. Terdapat panggilan atas nama Kesya. Prisa pun mengangkatnya.
"Halo Mohon maaf, pemilik ponsel sedang gak ada, kebetulan ponselnya ketinggalan ada yang bisa dibantu?" Tanya Prisa memberikan penjelasan. Tetapi tidak ada jawaban dari seberang.
Di Rumah Sakit
Ponsel Raka berdering, Kesya merasa lega ketika panggilannya akhirnya terjawab, tetapi bukan suara Raka yang terdengar, melainkan suara Wanita, lantas mengapa ponsel Raka bisa tertinggal di rumah wanita tersebut. Apa yang sebenarnya terjadi?
Kesya benar-benar Tak bisa berkata, Ia pun memilih mengakhiri panggilannya.
__ADS_1