
Di Kamar Meyra.
Bu Lidya masuk kedalam kamar Meyra untuk membicarakan mengenai rencana membatalkan pernikahannya. Sebenarnya Bu Lidya merasa berat untuk memutuskan hal tersebut, tetapi karena telah berpikir panjang dan rasa simpatinya terhadap Ari yang masih belum menerima Meyra. Bu Lidya pun memutuskan untuk membatalkan atau menunda pernikahan Meyra dan Raka hingga Ari benar-benar bisa menerima Meyra sebagai Ibu sambungnya.
Meyra yang masih kesal dengan kejadian yang Ia lihat, dimana Bu Lidya justru mulai dekat dengan Ari pun hanya diam.
"Meyra, Kamu masih marah sama Tante?" Bu Lidya mencoba mencairkan suasana.
"Ya Tante ngapain si, malah dekat-dekat sama Anak itu." Protes Meyra menyampaikan kekesalannya.
"Ya mau bagaimanapun juga, Dia kan Cucu Tante." Jawab Bu Lidya yang membuat Meyra menghampiri Bu Lidya dan mencacinya.
"Oh jadi sekarang Tante udah mulai terhasut sama Anak kecil itu?" Protes Meyra.
"Kok Kamu jadi semakin berani sama Tante ya Mey, Tante ini udah bantuin Kamu lho. Tante jadi ragu, mau meneruskan rencana Kita atau nggak." Ucapan Bu Lidya tentunya membuat Meyra tak berkutik.
"Sial, sekarang Tante Lidya udah mulai susah untuk Aku kendalikan. Aku harus cari cara untuk buat Dia gak bisa berkutik dan menuruti perintahku." Batin Meyra.
"Meyra minta maaf Tante, Meyra salah." Meyra menggenggam tangan Bu Lidya untuk mencuci hati Bu Lidya. Bu Lidya pun hanya mengangguk.
"Oh iya, Tante ke kamar Meyra ada perlu apa?" Meyra benar-benar mahir dalam bersandiwara. Kini Ia terlihat ramah.
"Tante minta maaf. Sebenarnya Tante kesini mau minta sama Kamu, untuk mengundur pernikahan Kamu dengan Raka."Ucap Bu Lidya dengan ragu, Ia takut Meyra kecewa.
"Diundur? memangnya ada apa Tante? kenapa diundur?" Tanya Meyra dengan nada lemah lembut, padahal dalam hatinya saat ini benar-benar kesal dan ingin marah.
"Sabar Meyra, sabar." Meyra berkata dalam hatinya.
"Kasih waktu untuk Ari, supaya Dia bisa menerima Kamu." Jawab Bu Lidya.
Ari lagi, Ari lagi. Sepertinya Bu Lidya memang sudah terpengaruh oleh Ari. Itulah yang ada dipikiran Meyra saat ini.
"Meyra ikut kemauan Tante aja. Biar besok Kita bicarakan sama-sama ya."Jawab Meyra dengan senyum palsunya.
"Tante lega Kamu bisa terima semua ini."Ucap Bu Lidya menggenggam tangan Meyra penuh dengan kasih sayang.
__ADS_1
"Yaudah Tante balik ke kamar dulu." Ucap Bu Lidya kemudian meninggalkan kamar Meyra.
Begitu Bu Lidya pergi, Meyra meraih bantal dan melemparkannya karena kesal.
"Sekarang Wanita Tua itu udah berpihak ke musuh. Beraninya Dia bilang mau batalin rencana yang udah hampir sukses ini." Umpat Meyra.
"Dia bisa jadi ancaman buat Aku, Aku harus cari cara supaya Dia gak bisa hancurkan rencana Aku." Ungkap Meyra berjalan kesana dan kemari untuk mencari ide. Meyra terhenti kemudian tersenyum penuh makna.
"Aku tau, Aku harus ngapain. Siapapun yang berani hancurin rencana Aku, harus tanggung akibatnya." Ucap Meyra kemudian mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
Esok harinya.
Siang ini, Bu Lidya berencana untuk membicarakan tentang pernikahan yang akan ditunda bersama Raka dan juga Meyra.
Mereka telah membuat janji untuk bertemu di Restoran dekat tempat kerja Raka. Saat Bu Lidya dan Meyra akan pergi, tiba-tiba Meyra berkata bahwa Ia merasa perutnya sakit.
"Aduh Tante, perut Meyra kok tiba-tiba mules ya. Kayaknya Meyra diare deh. Tante tunggu sebentar ya." Ucap Meyra kemudian meninggalkan Bu Lidya.
Setelah menunggu lama, Meyra akhirnya kembali. Tapi lagi-lagi Ia berkata bahwa perutnya sakit. Hal itu terjadi hingga yang ketiga kalinya.
"Yaudah kalo gitu biar Tante aja yang bilang sama Raka. Sebelum Dia siapin semuanya." Ucap Bu Lidya yang merasa kasihan dengan Meyra.
"Tante benar-benar gak papa?" Tanya Meyra.
"Iya, kan ada Pak supir yang temenin Tante." Jawab Bu Lidya meyakinkan Meyra.
Akhirnya Bu Lidya pun berangkat ditemani oleh Pak supir. Meyra memperhatikan kepergian Bu Lidya kemudian tersenyum penuh arti.
"Bagus, sekarang Kamu udah masuk jebakan Aku. Semalam Aku udah suruh orang untuk rusakin kabel rem mobil yang biasa Kamu pakai dan Aku yakin Dia gak akan tertangkap kamera CCTV." Batin Meyra Kemudian masuk kedalam rumah.
Di Perjalanan.
Perjalanan awalnya biasa saja, tetapi saat melewati jembatan yang menikung dan terjal. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Pak supir terus mencoba menginjak rem, tetapi tidak juga berfungsi. Bu Lidya yang melihat kepanikan yang terpancar dari wajah Pak supir pun bertanya.
"Loh Pak, ini ada apa? Kok cepet banget si, didepan ada tikungan lho Pak." Protes Bu Lidya.
__ADS_1
"Ibu pegangan yang erat ya Bu, Saya udah berusaha menginjak rem, tapi sepertinya remnya rusak." Pak supir mengatakan hal tersebut dengan panik.
"Apa? Remnya rusak? terus ini gimana Pak?" Tanya Bu Lidya yang merasa takut karena jalan yang begitu menakutkan.
Dengan segenap tenaga Pak supir mencoba mengendalikan mobil tersebut, mesin pun Ia matikan. Tetapi karena jalan yang menurun dan tiba-tiba muncul mobil dari arah yang berlawanan, membuat mobil tersebut kehilangan kendali.
"Pak Supirrr Awaaaassssss." Teriak Bu Lidya menutup matanya.
"Duaaaaarrrrrrrr" Supir tersebut membanting setir menabrak pagar jembatan dan mobil itupun terjatuh masuk kedalam jurang.
Mobil yang ada dibelakangnya pun menepi dan seorang wanita dengan kacamata hitam dan memakai masker hitam turun dan bergegas mencari jalan untuk menuju kedalam jurang tersebut.
Dengan susah payah, Wanita itu turun ke jurang yang curam. Benar-benar Wanita pemberani.
Ia bergegas menghampiri mobil tersebut dan saat ini yang ada dipikirannya hanya menyelamatkan orang yang ada di dalam mobil tersebut.
Ia pertama menolong Pak Supir dan menepikan Pak Supir agar menjauh dari mobil tersebut. Kemudian Ia membuka pintu sebelah yang merupakan tempat duduk Bu Lidya.
"Tolongggg" Ucap Bu Lidya lirih.
Wanita tersebut terdiam sejenak ketika melihat Bu Lidya, begitupun Bu Lidya. Kini mata mereka saling bertatap.
"Kamu.... Kamu masih hidup?" Ucap Bu Lidya yang terkejut melihat orang yang menolongnya.
"Bu, bertahan ya. Ayo Kita harus keluar sekarang sebelum mobil ini kebakar." Ucap Wanita tersebut memapah Bu Lidya Keluar.
Kini Bu Lidya telah berada di tepi mobil, mobil meledak setelah Mereka berhasil menepi.
Mereka pun merasa lega, Bu Lidya menangis kemudian memegang pipi wanita itu dengan kedua tangannya.
"Kamu masih hidup? ini beneran Kamu?" Ucap Bu Lidya.
"Iya Mi, Aku masih hidup." Jawab Wanita tersebut menangis.
Bu Lidya memeluk wanita itu erat.
__ADS_1