Anak Genius: Milikku Milikmu.

Anak Genius: Milikku Milikmu.
BAB 68 KEHILANGAN


__ADS_3

Di sungai


Bapak tua yang menemukan Ponsel milik Kesya menunjukkan sungai dimana Ia menemukan ponsel. Namanya adalah Pak Karyo.


Raka dan Fillia mengikutinya di belakang, sungai kala itu nampak gelap karena memang belum ada pencahayaan. Hanya ada pantulan sinar bulan yang membuat sekelilingnya nampak agak terang.


Pak Karyo berhenti, kemudian menunjuk tempat dimana Ia menemukan Ponsel Kesya.


"Disini Saya menemukan ponsel itu." Ungkap Pak Karyo sembari menunjuk rerumputan.


Mata Raka dan Fillia langsung tertuju ke tempat yang ditunjuk oleh Pak Karyo, tetapi tiba-tiba Raka berjalan mendekat ke tepi sungai.


"Raka, Kamu ngapain." Protes Fillia berhenti menghentikan Raka.


"Hati-hati Nak, sungai ini bahaya." Ucap Pak Karyo mencegah Raka yang mendekat ke arah sungai.


Raka berhenti kemudian mengambil sebuah sepatu yang sangat Ia kenali. Itu adalah sepatu Kesya.


"Ini sepatu Kesya, Kesyaaaaaa apa Kamu ada disini?" Teriak Raka memanggil-manggil Kesya.


"Raka, jangan teriak-teriak." Protes Fillia yang terkejut ketika Raka tiba-tiba berteriak.


"Fill, gimana Kalo Kesya ternyata masuk ke sungai ini? sepatunya menunjukkan arah ke dalam sungai." Ucap Raka yang mulai khawatir.


"Tapi sungai ini terlalu berbahaya, kemungkinan orang tenggelam yang selamat amatlah kecil. Apalagi di sungai ini kerap ada orang yang melihat buaya." Ucap Pak Karyo yang membuat Raka semakin khawatir.


"Byurrrrrrr" tanpa berpikir panjang, Raka pun berlari dan masuk ke dalam kolam tersebut.


"Raka, Kamu jangan nekad." Protes Fillia.


"Aku harus cari Kesya sampai ketemu Fill, Aku gak mau Dia kenapa-napa." Jawab Raka bersikeras tidak mau menepi.


"Raka, Kamu jangan berfikir pendek. Ini udah malam,hari udah semakin gelap. Kamu gak akan bisa cari Kesya kalo keadaan gelap kayak gini. Lebih baik sekarang Kita pulang, siapa tahu Kesya udah ada di rumah." Fillia berusaha menyadarkan Raka.


Raka terdiam sejenak, Ia berfikir mungkin benar apa yang dikatakan oleh Fillia.


"Benar Nak, jangan gegabah itu bahaya." Pak Karyo ikut menyadarkan Raka.

__ADS_1


Akhirnya Raka pun menepi, seluruh bajunya basah dan kotor.


"Yaudah, Kalo begitu mari Saya antar Bapak pulang." Ucap Raka, Akhirnya Merekapun memutuskan untuk pulang.


Di meja makan


waktunya makan malam, seperti biasanya keluarga Pak Wira akan berkumpul untuk menikmati makan malam bersama.


Tetapi malam ini berbeda, meja makan nampak sepi, Hanya ada Pak Wira, Bu Lidya, Meyra dan Ari yang mengisi ruang makan malam ini.


Pak Wira pun bertanya pada Bu Lidya dimana keberadaan Raka dan juga Kesya.


"Lho Mi, Raka sama Kesya kemana? kok gak ikut makan malam?" Tanya Pak Wira yang tidak tahu bahwa menantunya telah pergi sejak siang.


"Papi gak tau ya, Kalo si Kesya itu hilang dan sekarang Raka lagi cari Dia, bener-bener ngrepotin." Umpat Bu Lidya sembari menyendok makanannya.


"Mama memangnya kemana Nek? Mama gak ninggalin Ari kan?" Ari yang mendengar itupun meminta penjelasan Bu Lidya.


"Mama Kamu itu udah gak sayang sama Kamu, makannya Dia pergi." Meyra memperkeruh suasana, Ari pun merasa sedih.


"Bohong, Mama gak mungkin ninggalin Ari." Ucap Ari kemudian pergi meninggalkan meja makan dan kembali ke kamarnya.


"Mau kemana sih Pi? udah biarin aja." Bu Lidya menahan tangan Pak Wira. Pak Wira pun kembali duduk di kursinya.


Kemudian Raka masuk dengan kemeja yang kotor dan basah kuyup, wajahnya nampak lesu.


Bu Lidya menghampiri Raka dan bertanya apa yang telah terjadi.


"Ya ampun Raka, kenapa baju Kamu kotor banget. Kamu itu dari mana sih?" Tanya Bu Lidya yang kesal melihat Raka dengan penampilan yang berantakan.


"Nak, gimana? apa Kesya udah ketemu?"Tanya Pak Wira dengan penuh perhatian.


"Belum Ayah, Raka belum berhasil menemukan Kesya." Jawab Raka menundukkan kepalanya, Ia kecewa kepada dirinya sendiri.


"Terus kenapa baju Kamu bisa kotor dan basah gitu?" Tanya Pak Wira menepuk-nepuk pelan pundak Raka.


"Raka menemukan sepatu punya Kesya ada di tepi sungai Pi, Raka khawatir dan akhirnya Raka mencoba mencari Kesya di sana." Jawab Raka.

__ADS_1


Meyra tentu terkejut mendengar itu, Ia takut jika rencana buruknya akan diketahui oleh Raka. Meyra pun mencoba menenangkan dirinya sendiri.


"Tenang Meyra, tenang. Semuanya gak akan terbongkar. Aku harus pura-pura khawatir." Batin Meyra.


"Apa? sungai Ka? Kesya Kasian Kamu, Dia pasti benar-benar merasa bersalah atas meninggalnya Ara. Jadi Dia memutuskan untuk...." Meyra sengaja menghentikan pembicaraannya.


"Meyra, jangan bicara seperti itu. Seharusnya Kamu berdoa yang terbaik untuk Kesya, bukannya malah berfikir seperti itu." Pak Wira benar-benar geram mendengar perkataan Meyra.


Meyra pun akhirnya bungkam, Pak Wira kemudian meminta Raka agar segera berganti pakaian dan menemui Ari yang tengah bersedih.


"Yasudah Raka, lebih baik sekarang Kamu mandi dan ganti baju. Kasihan Ari, Kamu kasih Pengertian ke Dia ya." Pinta Pak Wira dengan penuh pengertian.


"Makasih Pi, Kalo gitu Raka permisi ke kamar dulu." Raka meninggalkan ruang makan dan bergegas pergi ke kamar.


Ia membuka pintu kamar, menghampiri tempat tidur Kesya dan menarik nafas panjang. Baru sebentar saja tidak bertemu dengan Kesya, Raka sudah merindukan kehadiran Kesya.


"Sebenarnya Kamu dimana Kesya. Semoga Kamu baik-baik aja dan segera kembali ke sini." Batin Raka kemudian segera masuk ke kamar mandi.


Setelah membersihkan diri, Raka pun masuk ke dalam kamar Ari, dilihatnya Ari tengah melihat sebuah lukisan. Raka pun menghampiri Ari dan merangkulnya. Terlihat sebuah lukisan sebuah keluarga bahagia. Seorang Ayah, Ibu dan kedua Anaknya.


Ya, lukisan itu adalah lukisan yang dibuat Ara, yang melukis keluarga kecilnya. Hal itu tentunya menyayat hati Raka.


"Bagus ya lukisannya." Puji Raka mengelus lukisan tersebut.


"Ayah, Mama pergi kemana? Ari rindu dengan Mama. Ari juga rindu sama Ara." Ucap Ari menatap mata Raka.


"Mama sedang pergi sebentar, Ari jangan bersedih ya. Ayah janji Mama pasti kembali sama Kita lagi." Raka memeluk Ari dengan penuh kasih sayang.


"Mama gak akan ninggalin Ari seperti Ara kan Yah?" Tanya Ari yang takut kehilangan orang yang disayanginya lagi.


"Iya Ari, Mama gak akan ninggalin Kita." Jawab Raka mencoba membuat Ari tenang.


"Ayah janji akan cari Mama sampai ketemu, dan Kita akan bersama lagi. Hidup bahagia bersama." Batin Raka sembari memperhatikan lukisan tersebut.


"Sekarang udah malam, Kamu tidur ya." Ucap Raka melepaskan pelukannya.


"Iya Ayah, selamat malam." Ucap Ari, Raka mencium kening Ari kemudian menyelimuti tubuh Ari dengan selimut.

__ADS_1


"Selamat malam Ari." Jawab Raka kemudian mematikan lampu kamar Ari.


__ADS_2