
Keesokan harinya.
Wiliam berjalan dengan langkah lebar dan raut wajah yang menahan marah. Setelah menekan bel, pintu apartemen itu terbuka.
"Wil? Tumben pagi pagi kau ke sini_?"
"Aargh!"
Ucapnya terpotong karena Wiliam langsung mendorong kasar Veronica sampai terbentur dinding lalu menutup pintu apartemennya dengan keras
"Wil ada apa denganmu?" ucapnya dengan was was karena dirinya baru melihat wajah Wiliam yang menyeramkan seperti ini
"Aku sudah tau semuanya" ucapnya mencengkram kuat dagu Veronica dan menatapnya tajam
"A_aku tidak mengeri? L_lepaskan Wil ini sakit" ujarnya merintih kesakitan
"Jangan pura pura bodoh! Kalau kau tidak mengakuinya aku akan memaksamu untuk mengatakan yang sebenarnya? Tentunya dengan cara kasar" ancam Wiliam tersenyum smirk lalu melepaskan cengkeramannya secara kasar, membuat Veronica menelan ludah kasar.
Terdiam sesaat mencerna semuanya dia sekarang tau kemana arah tujuan pembicaraan Wiliam.
"Jadi kau sudah tau yang sebenarnya?" Vero mengangguk anggukan kepalanya "Apa mantan kekasihmu yang memberitahumu atau gadis penjual kue itu?" tanya Veronica terkekeh menatap wajah Wiliam yang terlihat sangat marah
Wiliam tidak berniat menjawab. Vero melanjutkan ucapannya dan berjalan pelan menghampirinya.
"Aku tidak akan mengelak, apa yang orang itu bicarakan kepadamu semuanya benar" ucap Veronica tenang.
Deg
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Wiliam dengan tatapan semakin tajam
"Sederhana saja. Aku melakukan itu karena aku tidak mau membagi kasih sayang dan perhatian kalian untuk orang lain" jawabnya tenang
"Kau egois!"
Veronica tertawa setelah Wiliam mengatakan hal tersebut.
"Ya, aku memang egois Wil. Kenapa kau menyesal berteman denganku selama ini? Asal kau tau Wil, aku tidak menyesal melakukan itu semua. Aku ikut senang hubungan kau dengannya akhirnya berakhir" ucapnya tersenyum sambil membelai wajah Wiliam yang mengeras
"Kau menjijikan!" ucapnya lalu mendorong Vero sampai tersungkur
"Kau bukan Vero yang aku kenal, kau tidak waras!" ucapnya lalu pergi meninggalkan apartemen Veronica tanpa menutup pintunya.
Sementara Vero yang masih duduk di lantai dia melihat kepergian Wiliam dengan senyum bak psikopat.
.
.
"Nona apa anda membuat kue seperti kemarin?" tanya Desi
"Iya, kue kemarin yang ku buat ternyata habis terjual jadi aku mau membuatnya lebih banyak"
"Bagaimana tidak habis terjual, kuenya enak"
Aqela hanya tersenyum lalu melanjutkan kembali membuat kuenya.
"Aku akan membuatkan untuk Kellan juga" gumamnya dalam hati.
.
Di lokasi pemotretan seorang perempuan cantik dengan rambut panjang tergerai indah dan pakaian yang modis itu tengah melakukan beberapa pose untuk menjadikan wajahnya menjadi halaman sampul majalah fashion.
"Oke cukup!" ucap sang photography menyudahinya setelah beberapa kali mengambil fotonya.
"Aku ingin lihat hasilnya" ucap Karina menghampiri photography tersebut.
__ADS_1
"Kau puas dengan hasilnya? Apa kau ingin mengambil beberapa gambar lagi?"
"Tidak, aku sudah cukup puas dengan hasilnya"
Photography itu mengangguk.
"Karin?" panggil seorang pria tampan.
Karin melihat orang yang memanggilnya, lalu melambai tidak lupa menunjukkan senyumnya dan menghampirinya.
"Ka? Tumben ke sini? Kakak tidak bekerja?" tanya Karina heran
"Aku libur"
Karina mengangguk. "Kita ngobrol di tempat gantiku saja jangan di sini" ajak Karina menarik tangan Aiden
Sebelum datang memang Aiden sempat menghubungi Karina terlebih dulu untuk menanyakan keberadaannya, dan tentu saja Karina memberitahukannya.
"Ada apa Kakak ke sini?" tanya Karina
Sementara Aiden entah kenapa dia menjadi gugup setelah bertemu dengannya.
"Ah, aku ingin mengajakmu makan siang" ajak Aiden sambil mengusap tengkuk belakangnya
"Oke. Aku ganti baju dulu" ucapnya lalu langsung bergegas menuju ruang ganti pakaian.
Sementara Aiden terbengong sebentar karena Karina langsung mengiyakannya tanpa banyak bertanya.
Beberapa menit menunggu, Karina keluar dengan pakaian casual nya membuatnya semakin memancarkan aura kecantikannya.
"Ayo Ka" Karina menyadarkan Aiden yang terpesona dengan kecantikan sahabat Adiknya itu.
"Ayo" tanpa di sadarinya Aiden menarik lembut tangan Karina lalu menggenggam tangannya, sementara Karina tidak berniat melepaskannya. Entah kenapa saat berada di dekat Aiden, Karina merasa lebih nyaman.
.
.
Dia keluar dari mobil lalu memasuki gedung tidak lupa dirinya mampir ke meja resepsionis untuk memberikan beberapa kue untuk mereka agar lebih semangat dalam bekerja.
Setelah mereka mengambil kuenya dan berterimakasih kepada Aqela, mereka tidak banyak bertanya tentang kedatangannya karena akhir akhir ini gosip yang beredar perempuan yang memberinya kue barusan itu kekasih bos nya.
Mereka tahu diri untuk tidak mencari masalah dengannya.
Aqela keluar dari lift dan sangat kebetulan sekali Eliot keluar dari ruangannya.
"El" panggil Aqela
Eliot menengok "Nona Aqela" gumamnya lalu menghampirinya.
"Ada yang bisa saya bantu Nona?"
Aqela menggelengkan kepalanya lalu mengambil sesuatu dari paper bag yang di bawanya. "Ini untukmu" Aqela memberikan beberapa kuenya
"Terimakasih Nona" ucapnya tersenyum ramah
"Sama sama, oh iya apa Kellan ada di ruangannya?"
"Ada Nona, karena hari ini tidak ada jadwal meeting atau bertemu dengan klien diluar. Kalau begitu mari saya antar"
Aqela mengangguk anggukan kepalanya. "Terimakasih El"
Aqela mengikuti langkah Eliot, setelah Eliot mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam ruangan Kellan, Aqela pun ikut masuk di belakangnya.
"Saya tinggal Nona. Mari" pamitnya.
__ADS_1
Kellan mendongak ketika Eliot memanggil kata Nona.
"Aqela" gumamnya
Aqela tersenyum melihat Kellan yang terlihat tampan seperti biasanya. Kellan berjalan menghampiri kekasihnya lalu memeluknya dan mencium puncak kepalanya.
"Kenapa tidak memberitahuku kau akan kemari?" tanya Kellan menundukkan kepalanya untuk melihat wajah kekasihnya yang masih dia peluk
"Apa orang suruhanmu tidak memberitahu mu kemana aku pergi?"
"Aku belum melihat ponselku"
Aqela melepaskan pelukannya lalu menyerahkan paper bag yang dia bawa untuk Kellan. "Oh iya ini untukmu, aku membuat resep baru."
"Kue?"
"Hm. Itu resep baruku, cobalah"
Kellan mengangguk lalu membawa Aqela untuk duduk di sofa.
"Bagaimana?"
Kellan diam sejenak untuk membuat kekasihnya penasaran.
"Apa enak?" tanyanya lagi tidak sabaran
Kellan tidak bisa untuk tidak tersenyum ketika melihat wajah kekasihnya seperti anak kucing yang meminta makan, menggemaskan.
"Kell katakan sesuatu"
"Ini enak honey, sangat enak. Tanganmu sangat ajaib bisa menciptakan makanan seenak ini"
Pujian yang Kellan lontarkan membuat pipi Aqela merah merona.
"Terimakasih" ucapnya tersenyum
Cup
"Pipimu membuatku tidak tahan untuk tidak menciumnya"
"Ck! Alasan" decaknya. Kellan terkekeh mendengar gerutuan kekasihnya.
.
.
Di restauran tempat Karina dan Aiden berada mereka telah menyelesaikan makannya. Entah kenapa Aiden mendadak menjadi canggung seperti ini terhadap Karina.
Aiden menatap lamat wajah Karina yang terlihat sangat cantik walaupun tanpa make up yang berlebihan. Dirinya berdehem sebelum mengajak ngobrol kembali Karina.
"Apa jadwal mu setelah ini?"
"Tidak ada"
"Mau nonton bersama?"
"Mau mau" jawabnya antusias
Aiden terkekeh mendengar jawaban Karina yang begitu semangat.
"Tapi apa kau tidak lelah?"
"Kalau sudah urusannya bersenang senang aku menjadi semangat kembali ka, tidak perlu khawatir" ucapnya tertawa kecil. Sementara Aiden menggelengkan kepalnya "Tidak beda jauh dengan Adiknya" pikirnya.
"Ayo"
__ADS_1
Mereka meninggalkan restauran tersebut dan melanjutkan acara selanjutnya. Bilang saja Aiden ini tengah mengajak Karina kencan secara tidak langsung.
To be continued🍃