
Icha beranjak dari duduk nya setengah berlari masuk kedalam rumah. Adit yang melihat tingkah istrinya yang malu itu lantas tertawa puas.
Adit menyusul icha masuk kedalam rumah. Ia membersihkan diri karena berkeringat. Setelah mandi adit keluar dari kamar dan menyiapkan sarapan.
Ia menyiapkan bahan bahan untuk membuat nasi goreng. Adit mengupas bawang putih dan bawang merah dan mencucinya bersama dengan cabe rawit. Adit memblender bahan bahan tersebut lalu menumis bumbu tersebut.
Icha yang mencium bau harum segera keluar kamar dan menuju dapur.
"Mas adit kok masak?" Tanya icha.
"Iya pengen nasi goreng" kata adit
"Kok nggak nyuruh aku masak?" Tanya icha
"Lagi pengen masak. Duduk aja kamu. Kan aku nggak suka diganggu kalau masak. Nanti rasanya nggak enak" ucap adit.
Icha duduk di meja makan sambil memandang suaminya yang lihai sekali dalam memasak. Ia merasa beruntung memiliki suami yang pandai memasak, karena memang icha tidak pandai memasak.
Tidak lama kemudian adit mengambil piring dan membagi nasi goreng kedalam 2 piring. Ia meletakkan piring itu didepan icha dan didepan nya.
"Makan" kata adit.
"Uuuuh kelihatan enak" kata icha senang.
"Hmmm beneran enak banget sih" ucap icha saat mencicipi 1 sendok nasi goreng buatan adit.
"Ngomong ngomong, kenapa kemarin kamu dan renata seakan terkejut saat bertemu? Kalau teman kan pasti tersenyum senang ketika bertemu" tanya adit. Icha meletakkan sendok nya lalu memandang adit.
__ADS_1
"Dia wanita yang dulu merebut calon suamiku" jawab icha. Adit yang mendengarnya langsung tersedak.
"Hah? Renata istri doni?" Tanya adit. Icha mengangguk.
"Iya. Dulu rena sahabatku dan gina. Sekarang lihat wajah nya saja aku malas sekali. Dan aku dengar mereka mau bercerai. Mungkin itu balasan atas kejahatanya" icha penuh amarah.
"Itu sudah masa lalu, saat ini yang terpenting masa sekarang dan masa depan"
"Mas adit sukakah sama renata? Aku nggak mau kalah kesekian kali sama dia. Mas adit sudah menikah. Jadi aku harap mas adit tidak dekat dengan wanita itu" ucap icha dengan penuh kemarahan.
"Aku tau batasan walau pernikahan kita karna perjodohan. Aku harap kamu juga bisa menjaga pernikahan kita" adit menjelaskan.
"Sudah nggak usah ditekuk gitu wajah mu. Makan tuh yang banyak biar makin berisi tuh" kata adit sambil melirik kearah yang tidak seharusnya.
"Mas adit" bentak icha sambil menutupi dadanya.
"Oke kalau liburan aku setuju" jawab icha.
"Kalau memulai rumah tangga yang sebenarnya?" Tanya adit lagi
"Eee.... mas adit icha sakit perut. Bentar ya" kata icha beralasan. Ia meninggalkan adit sendiri di meja makan. Icha sungguh binggung akan menjawab apa. Ia masih sangat takut namun ia tidak mau mengecewakan adit
***
1 minggu kemudian
Icha duduk di sofa ruang tamu menunggu kedatangan adit yang sedang menjemput ayah dan ibunya di stasiun gubeng.
__ADS_1
Suara mobil adit terdengar, icha segera membuka pagar rumah agar adit bisa masuk. Saat mobil adit sudah masuk icha segera mengunci kembali kemudian bergegas menghampiri mertuanya yang baru turun dari mobil.
"Assalamu'alaikum buk. Sehat?" Kata icha seraya mencium tangan mertuanya.
"Alhamdulilah sehat cha" ucap bu mirna
"Kamu sehat cha?" Tanya pak yunus.
"Alhamdulilah icha juga sehat yah" kata icha sambil mencium tangan pak yunus.
Kemudian mereka masuk kedalam rumah. Icha mempersilahkan pak yunus dan bu mirna untuk beristirahat dikamar sedangkan icha membuatkan minuman untuk mertuanya.
Setelah beres beres dikamar pak yunus dan bu mirna keluar kamar dan duduk di ruang televisi.
"Ayah, ibu diminum teh nya" kata icha.
"Makasih ya cha" kata bu mirna.
"Ayah ibu setelah ini langsung istirahat ya, sudah siang. Pasti juga capek kan" adit mempersilahkan.
"Ayah sama ibuk ini lo kangen. Kamu ini kok malah nyuruh ke kamar" bantah pak yunus, bu mirna hanya mengangguk membenarkan.
"Ya maksud adit kan agar ayah sama ibuk tidak kecapek an" adit menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Ibuk lo pengen ngobrol sama mantu ibuk. Kamu sudah periksa ke dokter cha?" Tanya bu mirna seraya memegang paha icha.
"Periksa kenapa buk? Icha kan tidak sakit" ia kebingungan sambil melirik kearah adit.
__ADS_1
"Kamu kan kapan hari pusing, mungkin kamu hamil nak" kata bu mirna tersenyum bahagia. Icha yang mendengarnya terkejut dan binggung hendak mengatakan apa. ia melirik kearah adit namun adit malah membuang muka sambil sekali kali melirik icha sambil tersenyum nakal.