
"Jadi gini cha......" Rangga menatap tajam kearah icha.
"Aku akan mencoba membuka hatiku untuk gina" Ucap rangga.
"Haaa, kamu serius?" Iya sumringah mendengarnya.
"Aku coba, ya aku ingin mengajaknya kencan beberapa kali mungkin. Tapi misalkan aku merasa tidak bisa, aku akan lepas" Ucap rangga.
"Jangan buat harapan palsu ya tapi ngga. Kasian gina, dia sekarang jauh lebih kurus loh, demi dilirik kamu" Kata icha menjelaskan.
"Iya, makanya aku akan coba mengenal dia lebih baik. Aku akan bilang ke dia kalau kita sama sama saling mengenal, setelah itu kita berdua bisa memilih untuk lanjut atau tidak. Bagaimana menurutmu?" Tanya rangga
"Ya nggak apa klo gina bersedia. Aku bahagia kalau kamu mau memberi kesempatan dia ngga, aku berdoa yang terbaik untuk kalian" Ucap icha senang.
Triiiiiing
Handphone icha berdering. Ia meraih ponselnya dimeja
"Halo assalamualaikum mas" Kata icha
"Sudah kok mas, yaudah aku keluar sekarang ya" Tutur icha. Ia memasukan ponselnya kedalam tas.
"Ngga, mas adit sudah datang, aku pulang duluan ya" Kata icha.
"Iya cha, salam buat dr.adit ya. Sampaikan ucapan maafku untuknya. Atau aku perlu minta maaf langsung cha" Ucap rangga dengan tatapan serius kearah icha.
"Nggak usah ngga. Aman kok. Oya makasih ya sudah dianter dan di traktir. Semoga lancar urusanmu ya, aku duluan" Ucap icha sambil berdiri, kemudian ia melambaikan tanganya pada rangga.
Di luar cafe, adit tengah cemas menantikan istrinya, sebab icha tidak mau ditemani bertemu dengan rangga.
"Asaalamualaikum mas" Ucap icha ketika ia masuk kedalam mobil suaminya.
"Waalaikum salam. Gimana? Sudah beres?" Tanya adit, icha menatapnya tajam sambil mengenakan sabuk pengaman.
"Sudah, rangga adalah orang yang baik, mudah memberi dia pengertian mas" Ucap icha
"Bagus lah, biar tidak mengganggu istri cantikku" Kata adit, ia mengemudikan mobil nya. Cafe tersebut tidak jauh dari rumah icha, hanya sekitar 10 menit.
"Oya mas, boleh nggak kita mampir apotek dulu" Tanya icha ragu ragu
"Kamu sakit ya? Kita ke dokter aja yuk" Ucap adit kawatir, memang sedari pagi istrinya terlihat kurang sehat.
"Kan aku sudah punya dokter ngapain ke dokter lagi. Aku juga g sakit kok. Lagi ada yang mau di beli aja sih mas" Ucap icha.
"Iya ya aku dokter. Sering lupa kalau lagi panik" Adit tertawa.
Mereka berhenti di apotek dekat rumah adit yang jaraknya kira kira hanya 200 meter. Icha masuk kedalam apotek tersebut, saat itu suasana sedang tidak begitu ramai sehingga icha cepat dilayani.
"Mau beli apa ibu" Tanya seorang pegawai apotek.
"Emmm itu mbak buat tes kehamilan" Kata icha ragu ragu, ia pun memelankan suaranya karena malu.
"Buat tes apa ibu?" Tanya pegawai tersebut karena tidak mendengar jelas suara icha.
__ADS_1
"Tespack mbak" Katanya.
"Mau yang merk apa bu?"
"Terserah mbak, yang bagus" Kata icha ia berharap segera mendapatkannya dan pergi dari apotek itu, ia merasa malu membeli tespack
"3, beda beda merk, yang menurut mbak nya bagus saja" Ucap icha, ia tidak menyangka mendapatkan banyak pertanyaan padahal ia ingin segera kabur, namun kenapa ia harus kabur, ia memiliki suami yang sah jika ia tengah berbadan dua. Entahlah ia hanya merasa malu membelinya
"Maaf bu ternyata tingal 2 merk saja. Bagaimana bu?" Tanya pelayan tersebut.
"Iya nggak apa" Kemudian pegawai apotek tersebut mengemas tespack, setelah membayarnya icha segera berlalu menuju mobil suaminya.
"Sudah sayang? Kamu beli apa sih?" Tanya adit, ia lalu mengemudikan mobil ketika icha sudah duduk dengan benar.
"Oh, ini , anu mas" Kata icha, ia ragu untuk menjelaskan pada suaminya.
"Apa sih, kok seperti ditutupi gitu? Kamu sakit panu? Atau kutuan?" Ucap adit tanpa menoleh ke istrinya, ia fokus melihat jalan didepan nya.
"Ya enggak lah mas, nanti aja dirumah aku kasih taunya" Ucap icha, ia selalu menjaga kebersihan nya jadi tidak mungkin ia panuan atau kutuan fikirnya.
Mereka sampai dirumah, setelah memarkirkan mobil mereka masuk kedalam rumah
"Hey,, heyy tunggu" Adit meraih tangan istrinya yang berjalan dengan cepatnya
"Mau Kabur kemana sih buru buru sekali. Kamu beli apa?" Tanya adit, ia sangat penasaran dengan apa yang dibeli istrinya.
"Oh ini mas, aku beli ini" Katanya sambil menunjukkan kantong kecil bewarna pink yang berisi tespack.
"Apa ini?" Adit meraih kantong itu lalu membukanya.
"Aku dari kemarin kan lemes banget rasanya, pucat dan perutku agak sakit. Kata temenku siapa tau aku hamil" Icha duduk di sofa ruang keluarga. Adit mengekor dibelakangnya.
"Oooh, kamu sudah telat berapa hari?" Ucap adit lembut sekali.
"3 hari sih mas, makanya beli tespack, siapa tau aku hamil kan" Ucap icha senang, ia nampak berandai andai sambil tersenyum riang.
"Okey, besok pagi setelah bangun tidur kita tes ya, aku senang kalau kamu hamil, aku ingin segera memiliki anak" Kata adit, ada suatu perasaan merinding bagi adit, dia seperti tidak menyangka jika istrinya hamil. Ia sangat ingin punya anak dari icha.
"Ooh, nggak bisa sekarang saja mas?" Tanya icha
"Saat pagi, hormon HCG tinggi, jadi tespack lebih akurat dan mendeteksi lebih baik saat pagi hari. Sabar yah" Ucap adit sambil mengelus kepala istrinya.
"Yaudah aku mandi dulu ya" Ucap icha.
Selesai mandi icha memilih milih baju yang ada di lemarinya, ia teringat kata kata sahabatnya bahwa ia harus cantik saat dirumah nya. Akhirnya dia mengambil baju yang baru dibelikan adit kemarin di keranjang baju, baju baju itu telah dicuci namun belum di setrika dan dilipat.
Icha memilih milih baju. Lalu ia mengambil satu yang menurutnya layak untuk digunakan saat ini. Lingerie dengan panjang diatas lutut bewarna merah maroon, tidak terlalu tembus pandang, terdapat rumbai di bagian bawah dan bagian atas membentuk huruf V dengan tali di pundak. Sehingga terlihat belahan dari gunung yang menjulang.
Icha mengenakan lip balm agar bibirnya nampak basah mengkilap, rambutnya panjang nya ia sisir rapi, kemudian ia mengenakan parfum yang baunya segar dan tidak berlebihan.
Adit keluar dari kamar mandi, ia mendapati istrinya masih sibuk di depan meja rias.
"Sayang, kamu kenapa dandan cantik begitu?" Ucap adit sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
__ADS_1
"Aku lagi ingin coba baju dari mas adit. Cantik nggak?" Icha mendekati adit, berputar putar di depannya membuat adit menelan ludah nya dengan susah payah.
"Cha, kamu sudah shalat?" Tanya adit
"Sudah kok mas. Mas adit shalat magrib dulu, setelah ini kita makan ya" Ucap nya
"Iya, kamu tunggu di ruang makan ya, aku shalat dulu" Kata adit. Ia takut khilaf sebelum menunaikan shalat magrib, kenapa bisa istrinya berdandan seperti itu membuat jantung nya meletup letup. Ia berusaha berkonsentrasi, menarik nafas berulang kali baru ia bisa melaksanakan shalat magrib.
"Hai mas, udah kusiapin makan malam nya, yuk makan dulu" Kata icha yang sudah duduk manis di meja makan.
"Hmmm" Ucap adit, matanya menatap istrinya lekat lekat. Bagaimana bisa ia memiliki istri yang sangat cantik batin nya.
"Mau makan sama apa?" Ica berdiri mengambilkan piring dan menuangkan nasi kedalam piring, adit masih memandangnya tanpa terputus.
"Mas adit, heeey, mau makan sama apa?" Tanya icha, adit tersadar
"Ooh, ini saja sama telur dan oseng tempe" Jawab adit.
"Mas kenapa sih? Aku aneh ya?" Ucap icha yang merasa adit jadi sering salah tingkah.
"Nggak apa, kamu cantik sekali" Kata adit, icha menyerahkan piring dengan tersenyum puas, ia bahagia melihat tatapan suaminya yang mengaguminya.
"Kita makan dulu ya" Kata icha. Mereka makan bersama dengan keheningan, sesekali adit melirik kearah istrinya disambut dengan senyuman icha.
"Sudah selesai makan? Sini piring nya mas" Icha mengambil piring kotor adit ditumpuk dengan punya icha.
"Sayang, kenapa kamu berpakaian seperti itu?" Tanya adit.
"Bukanya mas adit membelikanku ini untuk ku pakai ya?" Ucap icha dengan tatapan menggoda.
"Tapi tidak dipakai dari sore gini juga kan yang. Pakai kalau mau bobok aja" Ucap adit menjelaskan.
"Mas adit nggak suka?" Tanya icha dengan tatapan yang sedih. Kemudian adit mendekat disamping istrinya. Ia merangkul pundak istrinya.
"Suka sekali lah. Terlalu suka. Sangat sangat menggoda. Tapi kalau dari sore dan setiap hari, aku takut jadi khilaf terus sayang" Ucapnya sambil mengecup rambut istrinya yang harum, icha tersenyum puas
"Hehe, aku kan ingin tampil yang terbaik untuk suamiku biar senang" Kata icha.
"Aku suka apa adanya kamu. Kenapa tiba tiba ingin tampil begini?" Tanya adit
"Karna banyak wanita caktik dan seksi diluar sana. Aku harus bisa lebih cantik dirumah" Ucao icha.
"Kamu cantik apa adanya, aku suka bagaimanapun kamu. Tidak perlu kawatir. Aku sangat bersyukur punya istri yang cantik. Ganti baju ya sekarang, aku takut berbuat sesuatu padamu, kalau misal kamu saat ini sedang hamil, kita tidak boleh berbuat dulu" Ucap adit lalu menciumi pundak icha, ia mencium baru harum yang menggoda.
"Okey aku ganti baju ya" Ia berdiri dan mengganti baju nya dengan short dress biasa.
***
"Sayang, ayo keluar, gimana hasilnya" Tanya adit, ia sedang menunggu icha keluar dari kamar mandi.
Icha menampung air seninya pada wadah kecil lalu mencelupkan 2 tespack dalam air seni tersebut. Jantung nya senam menunggu hasil, tangan icha gemetar saat mencelupkan tespack.
Ia menutup matanya sambil berdoa, setelah dirasa cukup ia membuka matanya.
__ADS_1
Ia mengambil tespect tersebut dan melihat nya, icha mengerjap beberapa kali saat melihat hasilnya. Ia sampai menutup mukutnya seolah tidak percaya.