Assalamualaikum Lelaki Pilihan

Assalamualaikum Lelaki Pilihan
Bab 85


__ADS_3

Iya sayang, maaf belum sempat memberitahumu" Ucap adit, ia merasa tidak enak karena istrinya tahu dari orang lain terlebih dahulu. Icha menghela nafas berat, kini ia masih belum bisa percaya 100% dengan mira, mendengar kondisi renata seperti itu bukan tidak mungkin dia akan mengincar nya dan adit untuk saat ini.


Jika ia melepaskan renata justru akan bisa menjadi bahaya untuk icha dan adit, apakah benar mira bisa menjaga renata agar tidak kabur? Kalaupun renata harus dirawat di rumah sakit jiwa mungkin lebih baik dengan pengawalan polisi batin icha.


"Tante, icha paham bagaimana perasaan tante, tapi icha setuju dengan mas adit, kita tunggu dari kepolisian saja. Kalau nanti memang renata harus dirawat, biar polisi yang mengawal ke rumah sakit" Ucap icha sopan, ia juga paham bagaimana perasaan seorang ibu.


"Baiklah cha, tante menghargai keputusan kamu, maafkan anak tante ya" Mira memeluk icha dengan erat,


Icha masuk kedalam kamar nya setelah mira pulang, ia kecewa dengan suaminya yang lagi lagi menyimpan rahasia.


"Sayang, aku nggak mau aja kamu kepikiran, toh hari ini aku akan cerita, cuma keduluan sama tante mira" Ucap adit membujuk istrinya agar mau berdamai dengan nya.


"Kenapa sih mesti ditutupi, aku kan juga harus tau mas" Ucap icha, ia tidak suka saat adit menyimpan rahasia padanya.


"Oke aku minta maaf ya" Ucap adit sambil memeluk istrinya agar lebih lunak. Konon katanya saat wanita marah ia hanya butuh kata maaf dan pelukan hangat untuk dapat memaafkan.


Gina menunggu di ruang penerimaan tamu, ia tengah menunggu rangga, ia menekatkan niat untuk menemui rangga terakhir kalinya.


Polisi datang membawa rangga, gina memandangnya dengan tersenyum begitupum denggan rangga,


"Hai, apa kabar?" Tanya gina ramah


"Ya seperti yang kamu lihat sekarang" Ucap rangga, ia merasa bersalah dengan gina karena telah melukai perasaan gina, namun nasi sudah menjadi bubur, tidak ada yang bisa ia perbuat lagi untuk mengembalikan semua seperti sedia kala.


"Nih aku bawain kamu terangbulan kesukaanmu" Gina memberikan terangbulan coklat keju yang ia beli sebelum ke penjara pada rangga. Ia menerimanya dan terharu gina masih memperlakukannya dengan baik.


"Makasih ya gin, aku nggak nyangka kamu masih peduli sama aku. Dan maafkan aku sudah sangat menyakitimu" Ucap rangga menyesal, kini pandangannya pada gina telah berubah, ternyata gina adalah wanita yang sangat baik, wanita yang tulus menyayanginya dan tentunya cantik sekali.


"Sama sama. Aku sudah memaafkan mu. Aku kan harus berdamai dengan masa lalu agar aku bisa melanjutkan hidupku tanpa bayang bayang masa lalu" Ucap gina dengan santai, sudah tidak ada guratan kesedihan dari mimik wajah nya, ia juga ingin menunjukkan bahwa ia adalah wanita yang tangguh yang tidak lemah karena lelaki seperti rangga.

__ADS_1


"Makasih ya gin. Aku janji, setelah keluar dari sini, aku akan menjadi lelaki yang lebih baik, aku akan mencintai kamu sepenuh hati, aku janji tidak akan mengecewakanmu lagi" Ucap rangga bersemangat, ia merasa ada angin segar untuk dia bisa bersama gina lagi.


"Kalau menjadi lelaki yang lebih baik ya harus lah, tapi kalau mencintai aku enggak deh ngga. Aku harap ini pertemuan kita yang terakhir" Ucap gina tegas, bukan panggilan renggo seperti dulu lagi yang dia sebut, ia tidak mau mengingat lagi panggilan spesial itu, ia ingin move on.


"Gin, kasih aku kesempatan gin. Maaafin aku gin. Aku sekarang menyesal" Ucap rangga berusaha meraih tangan gina. Namun gina menghindarinya


"Ya jelas kalau kamu akhir nya menyesal ngga, karena nggak ada penyesalan di awal, kalau diawal namanya pendaftaran bukan penyesalan" Kata gina sambil tertawa kecil, sekarang ia merasa menyesal dan ingin memperbaiki hubungan dengan gina. Tidak, gina tidak ingin memberi kesempatan pada orang yang telah menghianatinya.


"Aku janji nggak akan pernah menyakiti kamu gin, sekarang aku menyadari kalau aku sayang sama kamu" Gina tersenyum kecut mendengarnya, menyadari jika sayang sama gina, itu terdengar seperti sebuah paksaan. Gina tidak ingin mempercayai semua yang keluar dari mulut pecundang seperti rangga.


"Ada yang lebih sayang sama gina dari pada kamu, terimakasih ya, karena kamu tidak bisa melihat berlian, akirnya aku yang mendapatkannya" Ucap ari yang tiba tiba muncul diantar seorang polisi.


"Rasyad" Ucap gina lirih


"Maksud kamu?" Tanya rangga


"Gin, itu bohong kan? Tidak secepat itu kan kamu melupakan aku?" Kata rangga, ia meraih tangan gina yang kemudian ditarik oleh gina.


"Buat apa butuh waktu lama untuk melupakan lelaki seperti mu rangga. Aku kisini hanya ingin berterima kasih atas semua rasa sakit yang kamu berikan, sehingga aku bisa dipertemukan dengan orang yang tepat" Gina meraih tangan ari dan menggenggamnya, terlihat ekspresi ari yang bahagia dan tersenyum puas, sedangkan rangga kini menyesal dan membenci dirinya sendiri


Gina berjalan cepat keluar dari kantor kepolisian, ari mengikuti langkahnya dari belakang ari melihat gina nampak mengusap matanya, ia mencekal lengan gina.


"Tunggu disini" Ucap ari yang dituruti oleh gina.


" Masuk" Ucap ari saat mobil nya sudah berada di hadapan gina, ari membiarkan wanita itu menangis sesukanya di mobil nya, 15 menit berlalu ari kini memulai obrolan


"Nih tissu, nggak pantes nangisin cowok cupu itu" Ucap ari sambil memberikan tisu. Gina mengelap ingusnyabdan menyeka air matanya.


" Kamu ngapain bisa datang ke kantor polisi tadi" Tanya gina, bukan suatu kebetulan ia menjenguk rangga secara bersamaan.

__ADS_1


"Tadi aku ngikuti kamu, karena lama makanya aku bilang sama pak polisinya mau jenguk rangga juga" Ucap ari yang jujur,


"Kenapa ngikuti aku?" Tanya gina yang penasaran.


"Ya nggak tau, lagi pengen aja sih" Kata ari dengan tatapan fokus ke jalanan, gina memandang dengan heran pada laki laki yang ada di sampingnya ini.


"Manusia aneh" Kata gina. Tapi diam diam ia tersenyum.


Di penjara, renata membuat keributan, ia berteriak histeris memanggil manggil adit. Sampai polisi binggung untuk menenangkanya,


"Mas adit, maaaas, aku sayang kamu" Teriak renata


"Aku akan merebut adit dari kamu cha, lihat saja, hahaha" Renata tertawa sambil menggoncangkan jeruji besi.


"Tenang bu renata tenang" Ucap seorang polisi tersebut berusaha menenangkan renata yang histeris, namun usahanya sia sia, renata malah mengamuk hingga akhirnya ia pingsan.


Polisi tersebut memanggil petugas medis, renata dilarikan ke rumah sakit jiwa menur untuk ditangani secara eklusif.


Ia diberikan obat penenang, tangan nya di ikat di bed nya, menghindari ia mengamuk.


Icha dan adit datang ke rumah sakit jiwa, ia sebelumnya di telepon oleh pihak kepolisian. Disana dokter menjelaskan keadaan renata


"Ibu renata mengalami stress berat, dari hasil tes memang dia ada gangguan kejiwaan, sehingga ibu renata butuh perawatan" Ucap dokter jiwa tersebut.


"Sesuai dengan hasil, artinya saudari renata juga sudah gugur dari hukuman penjara pak adit" Ucap seorang polisi.


"Baik, kami mengikuti arahan saja. Jika memang dia harus dirawat disini silahkan. Tolong pastikan agar dia tidak kabur dari rumah sakit" Ucap adit yang merasa ngeri


"Rumah sakit kami insyaallah aman pak adit, penjagaan kami ketat" Ucap dokter jiwa tersebut, adit takut jika renata kabur dan bisa saja ia menyerang icha atau berbuat aneh aneh pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2