Assalamualaikum Lelaki Pilihan

Assalamualaikum Lelaki Pilihan
Bab 42


__ADS_3

"Ingeee" wajah doni seketika langsung pucat.


Terlihat perawat datang bersama dengan dokter anak.


"Anak saya pingsan dok, suhu tubuhnya panas sekali" kata renata, panik. Tangan nya bergetar, ia seorang perawat, namun ia tidak bisa melakukan apa apa saat melihat anak nya, fikiranya tak mampu berfikir jernih seperti ketika menolong pasien lainya.


"Ibu dan bapak tunggu dulu ya, biar kami periksa" kata dokter laki laki yang berbadan besar. Renata dan doni akhirnya mundur.


Dokter meminta perawat untuk memasang ventilator karena nafas inge yang tidak stabil.


"Saya masih belum bisa memastikan, tolong bapak atau ibu bisa ikut ke nurse station, akan kami jelaskan" ucap dokter andy. Kemudian dokter meninggalkan ruangan diikuti oleh doni.


"Kamu jaga inge" ucap doni sambil menunjuk kearah anaknya.


Doni mengikuti dokter andi dan menuju keruangan tertutup. Ia duduk dengan kaki bergetar, fikiranya tidak bisa tenang, ia takut akan terjadi sesuatu pada inge.


"Bagaimana dok" tanya doni hati hati. Ia meremas kedua tangan nya, inge adalah semangat hidup nya saat ini, saat ia sudah tidak bergelimang harta, saat ia ditinggalkan oleh wanita yang dicintainya, hanya inge alasan doni bertahan, alasan doni tetap semangat dan bangkit lagi. Ia tidak membayangkan bagaimana hidupnya tanpa buah hati yang sangat ia sayangi.


"Begini pak" kata dokter menggantungkan kalimatnya. Doni mendengarkan perkataan dokter dengan seksama lalu menandatangani formulir.


Langkahnya gontai dan pandangan nya kosong, ada sedikit air dipelupuk matanya. Yang doni fikirkan saat ini bagaimana ia bisa mendapatkan uang untuk pengobatan anaknya, ia akan berusaha agar inge segera pulih kembali. Ia berhenti, menyandarkan tubuhnya pada tembok depan ruang perawatan anak, air matanya mulai menetes deras.


Ia memandang kelangit langit sambil mulut nya sedikit menganga, donit menjambak rambut nya sendiri


"Aaaaargghh" ucap doni.


Ia duduk dan menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya.

__ADS_1


Andai dia masih berjaya, dia tidak akan pusing memikirkan biaya perawatan, andai perusahaan papa doni tidak bangkrut, mungkin renata akan masih sangat mencintainya dan inge tidak akan berada di rumah sakit ini. Namun semua sudah jalan yang allah berikan.


Semua cobaan ini harus ia lalui, doni mengusap air matanya. Ia masuk kedalam kamar inge.


"Apa kata dokter?" Tanya renata


Doni menghembuskan nafas kasar, ia berjalan kedekat tempat tidur inge lalu duduk sambil memegang tangan anaknya.


"Dokter bilang apa?" Tanya renata sedikit keras.


"Bisa nggak pelankan suara mu" ucap doni


"Makanya jawab pertanyaanku" jawab renata.


"Dokter bilang" doni menggantungkan ceritanya, ia mencoba mengatur nafas nya sejenak, menundukkan pandanganya. Renata menunggu cerita doni dengan tidak sabar.


"Apa? Duh ada ada saja sih, banyak banget dong biaya perawatan nya" ucap renata.


"Aku pasti bisa cari uang" kata doni.


"Hahaha, buat makan saja susah, mau cari uang dimana kamu?" Ledek renata sambil tertawa.


"Tutup mulut mu. Bagaimana pun aku masih berusaha, bukan pasrah dan tidak mau mengeluarkan uang sepertimu" kata doni memanas, matanya memerah seakan ingin menerkam renata.


"Pindahkan saja ke RS tempat ku kerja, biar aku bisa memantau" kata renata.


Suasana pun hening, renata yang kelelahan akirnya menopangkan kepalanya di kasur inge. Doni mengelus kepala anak nya sambil memikirkan apa yang harus ia perbuat. Apakah ia harus meminjam uang kepada paman nya? Atau seperti apa? Yang pasti doni harus bekerja dan ia berjanji pada inge akan berusaha keras dan yakin inge akan sehat kembali

__ADS_1


***


"Mas adit ayoo" kata icha sembari memakai sepatu olah raganya.


"Iya sayang sebentar" adit dengan malas nya memghampiri icha dan memakai sepatu olah raga yang telah disiapkan istrinya.


Hari ini adit berjanji menemani icha lari pagi, satu kegiatan yang tidak disukai adit. Ia lebih suka berenang dari pada berlari, apalagi harus sepagi ini.


"Ayo ayo semangat" ucap icha sambil melakukan pemanasan dan tersenyum riang kearah adit


Adit hanya tersenyum tipis seolah malas sekali.


"Kok begitu sih wajahnya mas, harus semangat dong" kata icha


"Iya iyaaah, lain kali kamu harus ikut aku renang yah tapi" ucap adit. Mereka memiliki perjanjian akan ikut serta dalam hobi pasangan. Adit hari ini menemani istrinya lari pagi dan minggu depan ia harus berenang bersama adit. Padahal icha tidak bisa berenang.


Icha menarik tangan adit dan mereka mulai berlari santai. Rute olah raga mereka saat ini juga tidak terlalu jauh. Hanya mengitari perumahan adit menuju ke taman perumahan.


"Masak dokter nggak kuat lari pagi" ledek icha lalu berlari lebih cepat dari adit.


"Bukan nggak kuat, kurang suka aja" jawab adit sambil mengejar istrinya.


Icha berlari lebih jauh lagi, lalu berhenti di bawah pohon sambil melirik ke belakang menunggu suaminya.


"Sinih" kata icha.


Adit dengan segera menghampiri istrinya, lalu tertunduk dan berjongkok di kaki icha. Icha menutup mulutnya melihat kelakuan suaminya. Apa yang hendak ia lakukan kali ini.

__ADS_1


__ADS_2