
Dari kejauhan ada 1 pasang mata yang sedang mengikuti adit dan icha, ia menunjukkan tatapan kebencian pada pasangan tersebut. Ia tidak menyukai keharmonisan pasangan tersebut. Akhirnya ia memikirkan suatu rencana.
Ia tersenyum dengan memikirkan rencana yang akan dilakukan untuk adit dan icha. Ia mendekati pasangan tersebut sangatlah dekat hingga dapat mendengar percakapan mereka, saat itu suasana ramai pengunjung, sehingga icha dan adit tidak menyadari keberadaan orang tersebut.
"Aku bayar dulu ya, kata adit. Icha melihat lihat ke sisi berlawanan.
" Berapa mbak?" Tanya adit, ia meletakkan tas belanjaan di lantai, lalu mengeluarkan dompet kulit nya.
"Semua 865.000 pak" Kata pelayan tersebut.
Adit mengeluarkan ATM nya dan menyerahkan kepada kasir toko tersebut.
Disisi lain, penguntit tersebut keluar dari toko setelah berhasil memasukan sesuatu kedalam tas belanjaan adit yang lain.
Sebelum keluar toko, ia memanggil seorang pelayan toko tersebut.
"Mbak sini mbak" Ucap nya.
"Iya ada yang bisa saya bantu" Kata seorang pelayan dengan tubuh mungil berkulit putih.
"Tadi saya lihat bapak itu memasukan belanjaan di dalam tas yang sekarang dilantai, nggak tau itu sudah dibayar atau belum" Ucapnya. Ia kemudian pergi dari tempat itu
Pelayan tersebut memanggil teman nya yang lain.
"Ada belanjaan bapak itu yang langsung dimasukan kedalam kantong belanja lain, dia tidak membayarnya, gimana ini" Bisik pelayan toko itu pada teman nya.
"Nyuri dong. Harus kita cek, dari pada kita yang disuruh ganti sama si bos" Ucap pelayan toko lainya.
"Sudah mas? Yuk pulang. Aku capek banget rasanya" Kata icha, ia memegang lengan suaminya.
"Sudah kok, ayok" Kata adit. Mereka keluar Setelah membayar lingerie, namun sebelum mereka berhasil keluar dari toko tersebut ada pelayan yang menghentikan adit dan icha.
"Mohon maaf pak, boleh saya periksa dulu barang belanjaanya" Ucap salah seorang pelayan.
"Ini, silahkan. Saya beli 5 pcs lingerie sesuai nota. Apakah setiap mau keluar akan diperiksa begini?" Tanya adit, ia merasa tersinggung dengan sikap pelayan tersebut.
"Mohon maaf bukan yang ini, tapi belanjaan bapak lainya" Ucap pelayan toko.
"Maaf mbak, kenapa harus diperiksa, yang ini kami tidak belanja di toko anda" Ucap icha, ia juga merasa jadi tertuduh, kenapa harus membuka belanjaan yang lainya.
"Mohon maaf kami harus periksa, karena sepertinya bapak memasukan belanjaan kedalam tas yang bukan dari toko kami" Adit merasa geregetan. Dia tidak pernah sekalipun mencuri, bisa bisanya ia dituduh mencuri.
"Coba periksa saja" Ucap adit menyerahkan tas belanja sepatu icha, pelayan tersebut membuka tas sepatu icha dan ia menemukan sesuatu disana.
"Nah ini pak, bapak mengambil ini" Pelayan tersebut mengeluarkan 1 lusin ****** ***** dari kantong belanjaan adit.
"Haaa, mas" Icha memandang adit bertanya tanya.
__ADS_1
"Aku nggak ngambil ini yang, kamu ngambil CD ini?" Tanya adit ragu, jangan jangan istrinya tidak sengaja mengambilnya.
"Enggak lah mas, ngapain aku ambil CD anak kecil gini, buat apa?" Kata icha. Semua mata tertuju pada adit dan icha. Semua memandang sinis seolah menghakimi bahwa mereka adalah pencuri.
"Bapak mencuri ini. Ini buktinya pak" Kata pelayan toko tersebut
"Mbak maaaf, saya tidak tau kenapa ada ****** ***** di dalam kantong belanjaan saya. Saya dan istri saya tidak mengambilnya" Ucap adit menjelaskan.
"Nah tapi ini buktinya pak. Bapak telah mencuri" Kata pelayan toko tersebut.
"Mbak jaga ucapannya ya. Suami saya bukan pencuri, ini pasti kesalahpahaman, lagian buat apa kami mencuri ****** *****" Tutur icha, ia tidak tau kenapa CD tersebut masuk kedalam kantong belanjanya, namun ia tau betul adit tidak akan mencuri, terlebih hanya ****** *****.
"Nah ini sudah jelas mbak ada buktinya. Saya tidak asal menuduh lo ini" Kata pelayan toko dengan nada agak tinggi, mengetahui ribut ribut ditoko tersebut seorang satpam datang untuk menenangkan. Satpam tersebut membuyarkan kerumunan.
"Ada yang mencuri ditoko kami pak, sebaiknya dibawa ke kantor polisi" Ucap seorang pelayan toko.
"Ha..ha..haa. Ini jelas salah paham mbak. Lihat lah saya belanja di toko anda hampir 1 jt, lantas kenapa saya mencuri ****** ***** ini? Anak saja belum punya" Kata adit sambil tertawa, ia merasa sangat direndahkan hari ini. Icha memegang lengan suaminya menahan amarah adit.
"Ya mana saya tau. Tapi buktinya ada lo pak" Kata pelayan tersebut. Sebenarnya ia juga merasa aneh, pelanggannya berbelanja hampir 1 jt, seperti tidak mungkin kalau pelanggannya mencuri ****** *****.
"Gini saja, bapaknya bayar saja ****** ***** tersebut pak. Kita kekeluargaan saja" Ucap satpam tersebut berusaha menengahi
"Maaf ya pak, bukan harga ****** ***** ini. Kalau saya mau saya akan beli tanpa mencuri. Ini soal harga diri saya yang dituduh mencuri" Suara adit mulai meninggi. Icha menghela nafas panjang.
"Iya pak, lagian kami sedang tidak membutuhkan ****** ***** anak begini. Gini saja pak, kita cek saja cctv nya. Kalau benar suami saya mencuri ****** *****, silahkan bawa suami saya ke kantor polisi" Ucap icha menengahi
"Cha, aku nggak mencuri" Kata adit memandang serius kearah istrinya.
"Baik kita cek saja CCTV nya ya mbak" Kata satpam tersebut.
"Boleh. Bapak bantu ya, saya tidak bisa mengoperasikan nya pak. Silahkan masuk" Kata kasir toko tersebut, satpam akhirnya masuk ke tempat kasir, disisi komputer pembayaran ada komputer CCTV. Adit dan icha duduk di kursi di depan meja kasir tersebut.
"Duuh jatuh sudah harga diriku yang. Kamu bayangin akan ada berita seorang dokter telah ditangkap polisi akibat mencuri ****** ***** di mall" Ucap adit menggebu gebu.
"Yang dicuri ****** anak anak lagi, ha...ha..ha" Adit tertawa membayangkannya
"Mas adit, lagi serius malah bercanda" Kata icha
"Gimana dong, lucu kan. Kalau niat mencuri ya aku mencuri alat rumah sakit yang mahal, atau emas gitu. Nah ini nyuri kok nyuri ******. ****** anak anak lagi yang. Ha..ha..ha" Adit tertawa diikuti oleh icha, kalau benar suaminya pencuri memang harusnya ia mencuri barang yang mahal, yang bisa diuangkan bukan barang anak anak seperi ini.
"Iya, aku penasaran siapa yang menjahili kita" Ucap icha
"Kalau nih terpaksa aku mencuri ****** yah, aku mau curi ****** nya lady gaga lah yang. Lumayan kan" Kata adit berandai andai.
"Hiiih otaknya mulai deh" Icha menjewer telinga suaminya.
"Aduh sakit" Kata adit sambil melepaskan tangan icha dari telinganya.
__ADS_1
"Pak, bu ini kami sudah menemukan" Kata satpam tersebut. Icha dan adit segera bangun dan melihat cctv yang ad dikomputer tersebut.
"Nah kan bukan suami saya mbak" Ucap icha, ia dan adit lega melihatnya. Ternyata ada seseorang yang memang sengaja memasukan CD tersebut di dalam kantong belanja adit.
"Iya, maaf ya pak bu, kami sudah menuduh kalian" Ucap pelayan toko merasa menyesal. Icha mengangguk.
"Bodoh, harusnya dia kan masukin emas atau berlian kan yang ke tas kita. Malah ****** ***** anak anak. Nggak pinter dia" Ucap adit sambil menunjuk nunjuk CCTV tersebut
"Mas adiiit, udah bercandanya" Icha memelototi suaminya, mereka mengamati siapa orang yang sengaja menjebak nya. Orang tersebut mengenakan celana jins biru, sepatu putih dan jaket bewarna hitam dengan menutup kepalanya dengan hoodi jaketnya.
"Siapa ya dia?" Kata adit. Ia mengamati orang tersebut, ia melihat ada simbol merah dan putih di lengan jaket nya.
"Sepertinya aku tau mas. Yasudah tidak usah diperpanjang ya mas. Kami boleh pergi kan mbak" Tanya icha setelah ia yakin dengan apa yang dilihatnya.
"Iya pak bu, kami mohon maaf ya" Ucap pelayan toko tersebut. Icha mengangguk , sebelum pergi, icha mempotret dahulu foto orang di CCTV tersebut
"Ini ya sempaknya, aku nggak bawa lo" Ucap adit sambil menunjuk kearah ****** ***** tersebut lalu dia mengangkat tangannya tanda ia tidak membawanya. Icha menarik tangan suaminya agar segera pergi dari toko itu.
"Sayang, siapa orang yang kamu curigai" Tanya adit.
"Nanti saja kita bahas dirumah ya mas. Aku lelah sekali hari ini" Ucap icha.
Sebetulnya icha antara yakin dan tidak yakin dia adalah pelaku nya. Tapi besok ia akan membuatnya nampak yakin dan clear.
***
"Sayang wajahmu terlihat pucat, kamu tidak usah masuk kerja" Ucap adit.
"Aku nggak apa kok mas, sepertinya aku masuk angin sih, agak mual aja. Tapi aku kuat kerja kok" Ucap icha.
"Oke. Tapi aku antar ya" Icha mengangguk. Pagi ini mereka sarapan roti dioles dengan selai nanas dan juga susu sebagai minumannya.
"Kamu yakin dia orang yang sudah menjebak kita?" Tanya adit.
"Insyaallah aku yakin mas. Mas adit lupa ya dulu aku juga pernah menebak dengan benar saat renata membajak instagram kamu. Itu virtual loh nggak ada wujudnya. Sedangkan ini terlihat wujudnya, mas adit juga lihat kan" Kata icha menjelaskan panjang lebar.
"Oke oke. Sepertinya wanita memang selalu benar" Ucap adit
"Bukan selalu benar, kan harus berdasarkan bukti. Ini ada buktinya" Tutur icha membela dirinya.
"Iya sayang" Kata adit.
Setelah selesai sarapan, adit mengantarkan istrinya bekerja, hari ini adit tidak ada jadwal dirumah sakit, sehingga ia bisa mengantar jemput istrinya.
"Nanti aku jemput, kita ngomong sama dia bersama ya, aku nggak mau kamu pergi sendiri" Ucap adit.
"Biar aku saja yang berbicara 4 mata sama dia mas" Kata icha
__ADS_1
"Enggak sayang, aku kawatir" Adit meremas tangan istrinya.
"Yasudah kita berangkat yuk" Ajak adit.