
Inge" Doni melihat inge berdiri di depannya.
"Sayang, kamu sudah sehat?" Doni mengusap air matanya. Inge nampak tersenyum dengan cantiknya, ia bersinar dan terlihat bahagia. Gadis kecil itu mengenakan pakaian serba putih. Ia melambaikan tangan pada papanya.
"Sayang, sini papa peluk" Ucap doni sambil setengah berdiri untuk meraih putrinya itu.
"Inge....inge" Namun inge menghilang sebelum doni berhasil memeluknya, doni kembali menangis sesenggukan.
"Inge kamu kemana sayang" Doni memutar mutar badannya mencari keberadaan anaknya, sampai ia tersadarkan sesuatu.
"Inge" Doni berlari menuju ruang NICU, hatinya kacau, ia menangis. Saat sampai di NICU ia tidak melihat istrinya lagi, ia dipersilahkan masuk kedalam NICU. Doni melihat renata yang sedang menangis sambil setengah berteriak,
"Ingeeee,aaaaaa" Ucap renata
doni terhenti lalu berjalan perlahan kearah putrinya
"Inge sudah damai" Ucap dokter sandy, doni tidak melihat dokter sandy, tatapannya terpaku pada anak kecil itu, air matanya pun menetes tanpa ia sadari. Ia semakin mendekat
"Inge, ini papa nak, inge kenapa?" Tanya doni. ia pun tidak kuasa menahan air matanya.
"Heeyy, inge bercanda ya sama papa" Ia mengelus kepala inge, anaknya sudah tidak bergerak. Doni mulai terisak disebelah anaknya
"Tidaaak, ingee, ini papa inge. Bangun naak" Ucap doni sambil sedikit mengguncangkan bahu anaknya. Kemudian ia memeluknya dengan erat. Tangisnya pecah, hari ini adalah hari terhancur dalam hidupnya. Tidak pernah ia merasakan hancur seperti ini, bahkan ini lebih sakit daripada kehilangan perusahaan dan kehilangan istrinya
"Sini anakku. Sayang, inge mama mau ajak inge main, kita main lagi ya. Bangun sayang" Ucap renata. Bagaimanapun ia adalah ibu kandungnya, ia memiliki ikatan batin yang kuat dengan anaknya, hatinya pun tidak kalah hancur.
Doni menarik nafasnya, ia teringat senyuman inge di masjid tadi, ia nampak begitu bahagia.
"Sudah, letakkan inge. Dia sudah bahagia, dia sudah tidak menderita" Ucap doni. Renata menangis tersedu sedu, setelah itu menyerahkan anaknya kepada perawat.
"Trimakasih sudah memberikan kebahagiaan untuk papa ya nak, sampai ketemu di surga" Ucap doni lalu mencium anaknya untuk yang terakhir kalinya.
Diruangan dokter, dr. Sandy tengah menelepon adit untuk memberikan kabar duka.
"Assalamualaikum. Iya dokter sandy, apa ada masalah?" Ucap adit.
"Waalaikum salam. Dokter adit, maaf, aku tidak berhasil menyelamatkan inge. Dia sudah meninggal" Ucap dokter sandy.
"Innalilahi wainnailahi rojiun. Dokter sandy sudah berusaha yang terbaik, terimakasih dok. Aku siap siap ke rumah sakit" Kata adit.
Icha yang mendengarnya langsung menghampiri suaminya.
"Ada musibah apa mas" Tanya icha
"Inge meninggal" Ucap adit
"Innalilahi wainnailahi rojiun, mas adit mau kerumah sakit ya. Aku ikut ya" Kata icha. Mereka bersiap siap untuk pergi kerumah sakit.
__ADS_1
Setelah bersiap mereka segera berangkat dengan menggunakan mobil adit.
Sesampainya di rumah sakit adit dan icha segera mencari doni dan renata, ternyata mereka ada di depan ruang jenazah.
Adit dan icha melihat doni dan renata dari kejauhan. Renata nampak duduk melamun dan doni berdiri menyandarkan tubuhnya di tembok.
"Don, turut berduka cita ya. Yang sabar. Insyaallah inge sudah tenang" Kata adit, ia menepuk pundak doni
"Iya trimkasih ya dit, trimaksih sudah banyak membantuku" Ucap doni. Adit kemudian menghampiri renata.
"Ren" Panggil adit, mengetahui adit datang, renata langsung berdiri dan menghampiri adit.
"Mas adiiit" Renata memeluk adit dengan eratnya sambil menangis, seketika adit menoleh kearah icha yang juga kaget akan aksi renata yang tiba tiba memeluk suaminya.
"Ren, jangan begini" Kata adit, ia berusaha melepaskan pelukan renata.
"Sebentar saja mas, hanya mas adit yang bisa menguatkan aku" Renata menangis histeris dipelukan adit, icha ingin sekali memisahkan mereka namun ia paham ini rumah sakit, terlebih renata sedang berduka. Ia tidak mau ribut, akhirnya icha mengubah pandangannya.
"Aku turut berduka cita ya don. Insyaallah ini sudah jalan yang terbaik, inge sudah tidak merasakan sakit" Ucap icha.
"Makasih ya, dan maafkan semua kesalahan ku. Gara gara aku, anakku yang terkena batunya" Ucap doni
"Hey, jangan bicara begitu. Anakmu suci, jangan membawa kesalahan mu pada anak itu. Dia tidak bersalah. Lagian aku sudah memaafkanmu don" Ucap icha.
"Terimaksih, kamu wanita yang sangat hebat" Kata doni, icha mengangguk sambil tersenyum
"Aku kesana dulu ya" Ucap icha.
"Ren, benar kata mas adit. Inge sudah bahagia. Jangan seperti itu" Ucap icha yang berada di dekat mereka.
Adit berusaha melepaskan pelukan renata, lalu ia mundur dan menggapai tangan icha.
"Ohh enak sekali kamu bilang, kamu pasti bahagia kan anakku meninggal. Kamu pasti menertawakan ku kan?" Teriak renata.
"Aku bukan kamu renata, aku bukan manusia yang menertawakan orang yang sedang ditimpa musibah seperti kamu" Tutur icha dengan lembut, ia sebenarnya tidak mau membuat masalah hari itu.
"Ren. Kendalikan dirimu. Kami datang untuk berbela sungkawa. Kami peduli dengan inge" Ucap adit. Renata masih saja menangis
"Terimakasih dit, cha sudah peduli. Sudahlah, dia memang seperti itu" Ucap doni yang menghampiri mereka.
"Mas adit temani aku plis" Renata memegangi tangan adit sambil terisak. Adit menepiskan pelan tangan renata dan tersenyum ramah
"Aku bantu kalian urus administrasi ya. Aku permisi" Ucap adit dengan sopan. Mereka kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
Adit menggenggam erat tangan istrinya sambil berlalu pergi.
"Kamu jangan marah ya" Kata adit. Ia takut sekali istrinya marah karena renata telah memeluknya
__ADS_1
"Enggak, aku paham situasinya. Dan aku melihat mas adit sudah berusaha menolak. Jadi aku tidak marah" Ucap icha dengan senyuman
"Trimakasih sayang" Kata adit senang
"Mas adit yang bayar semua tagihan rumah sakit? Kok ngurusin administrasi nya?" Tanya icha
"Enggak, hanya mengurus saja administrasi kepulangannya, dia menggunakan asuransi dari yayasan kanker. Aku bantu mengurusnya" Ucap adit.
"Kamu tunggu disini ya, biar aku urus dulu" Kata adit, adit mengurusi segala administrasi rumah sakit termasuk menghampiri doni untuk meminta tanda tangan nya. Adit melakukan itu karena peduli dengan inge.
Saat semua administrasi beres, akhirnya inge dipulangkan ke rumah doni. Semua yang ada disana menangis termasuk ayah dan ibu doni. Mereka nampak syok dengan kejadian yang menimpa inge. Inge adalah cucu pertama di keluarga doni, doni adalah anak tunggal, sehingga ayah dan ibunya sangat menyayangi inge.
Icha sungguh prihatin, kini ini melihat seorang anak sedang terbujur kaku dihadapan nya, ia merasa kasihan padanya. Anak sekecil itu hafus merasakan penderitaan sebelumnya, namun kini ia sudah bahagia, icha yakin itu, inge pasti sudah bahagia disurga.
Doni menggendong inge menuju peristirahatan terakhirnya ketika semua proses memandikan jenazah, mengkafani dan mensholati sudah selesai. Doni berusaha tegar namun sesekali ia tampak lemas. Adit dan ayah doni menemani di samping doni untuk sesekali menopang tubuh nya.
Sedangkan renata berjalan dibelakang doni bersama orang tuanya.
Icha menggandeng ibu doni yang nampak bercucuran air mata. Bagaimana pun inge adalah cucu pertamanya, beliau sangat menyayangi cucunya.
"Tante, sabar ya. Inge sedih kalau omanya menangis terus" Ucap icha sambil memegangi tangan mantan calon mertuanya itu. Dulu mereka begitu akrab, icha dan ibu doni sering pergi bersama, namun semua keakraban itu sirna saat doni mengumumkan kehamilannya di hari pernikahan nya dengan icha, ibu doni sudah tidak punya muka untuk bertemu dengan icha, begitupun icha yang menutup diri dari keluarga doni
"Ini karma ca dari perbuatan orang tua inge sama kamu. Kasian inge yang menanggung semuanya, hiks" Ucap ibu doni.
"Tidak tante. Inge tidak menanggung kesalahan orang tuanya. Allah lebih sayang inge dari pada kita semua. Inge sudah bahagia" Kata icha mencoba menguatkan.
"Kamu memang wanita yang baik cha, doni salah memilih istri" Kata ibu doni lagi.
"Sudah tante, yang lalu biar berlalu, sekarang tante harus kuat agar doni juga lebih kuat" Ibu doni mengangguk.
Prosesi pemakaman pun dimulai, doni dan ayahnya turun di liang kubur sedangkan adit mengangkat inge dan menyerahkan pada doni, doni nampak menahan air matanya, ia berusaha untuk tidak menangis, sedangkan renata mengusap air matanya yang jatuh. Ia memegang tangan ibunya erat erat.
Icha nampak menahan air matanya saat makam inge mulai ditutup dengan tanah, icha turut merasakan kesedihan itu. Kesedihan kehilangan buah hati yang sangat dicintai. Ia berdoa agar dia tidak merasakan nya.
Pemakaman berjalan dengan khitmad, setelah mendoakan inge para pelayatpun juga pergi. Disana tinggallah adit, icha, renata dan doni. Icha berpamitan pada suaminya untuk menunggu di mobil.
"Sayang, papa sama mama pulang ya, kami akan sering main kesini" Kata doni sambil memegang batu nisan anaknya
" Ayo don, biar aku antar pulang sama renata juga" Ucap doni
"Iya, dit aku mau ngomong sesuatu sebentar" Ucap doni
"Aku tunggu disana" Kata renata, ia berlalu pergi.
icha bersandar pada mobil adit, ia tengah menunggu suaminya yang masih mengobrol dengan doni.
"Cha" Panggil renata yang tiba tiba muncul. Ia kemudian juga ikut bersandar di mobil suami icha. Icha menoleh kearah suara itu. Kenapa renata menghampiri nya fikirnya.
__ADS_1
"Hmmm" Jawab icha, ia tidak mau terlalu menanggapi wanita itu
"jangan lupa ya tinggalkan like nya. Oya biar author juga minta komennya dong biar jadi masukan. Trimkasih ya"