
Sudah hampir 1 minggu icha dirumah sakit, adit juga sudah mulai bekerja seperti biasanya, ia sering mengunjungi istrinya saat IGD kondusif, orang tua icha pun juga sudah kembali ke desa karena harus mengurusi sawah.
Kondisi icha saat ini juga sudah jauh lebih baik, ia kini sedang bermain ponsel nya,
"Tok tok" Pintu ruangan nya diketuk, lalu seseorang muncul dari balik pintu tersebut. Icha terkejut melihat siapa yang datang menemuinya.
"Haii, hari ini kamu boleh pulang ya, selamaaaat" Ucapnya bersorak riang lalu duduk disebelah icha.
"Iya alhamdulilah" Ucap icha memperhatikan gerak gerik renata
"Kamu sendirian aja disini cha?" Ucap renata dengan sok akrab.
"Bukanya aku sekarang lagi sama kamu? Kamu nggak merasa manusia hidup gitu?" Ucap icha yang langsung membuat jleb dihati.
"Ha..ha.ha,,, keren ya kamu sekarang pinter jawab" Ucap renata. Sudah banyak perubahan dalam diri icha yang renata lihat, ia bukan wanita lemah yang mudah dibohongi seperti dulu.
"Kamu kesini ada apa sih sebenernya, nggak usah bertele tele" Ucap icha, ia tahu bahwa pasti renata memiliki maksud tertentu.
"Aku hanya ingin menjenguk sahabatku, itu saja cha. Kamu kenapa sih?" Ucap renata seolah ia adalah sahabat yang baik.
"Tapi kamu kasian sih, sepertinya kakimu nggak hanya butuh sehari dua hari sembuh deh, harus beberapa bulan buat sembuh" Ucapnya dengan tatapan prihatin
"Aku nggak butuh dikasihani sih, semua ini anugrah, aku yakin sih allah akan berikan anugrah yang indah kalau aku ikhlas jalani musibah ini" Ucap icha, ia tidak ingin terlihat menyedihkan di hadadapan mantan sahabatnya itu.
"Kasian mas adit tapi ya, kamu bisa jalan aja nggak bisa melayani suami dengan baik, apa lagi kamu nggak bisa jalan" Ucap renata dengan menyesal, ia menunjukkan ekspresi kasihan.
"Ap...apa maksud kamu?" Tanya icha yang kini mulai terpancing kata kata renata, melihat itu renatapun girang dan lebih semangat mengkompori icha.
"Ya gimana ya, aku tau sih kamu nggak bisa masak, jadi mas adit seneng banget kalau aku buatin sarapan. Lihat mas adit makan banyak aku bahagiaaa banget" Renata terlihat berbinar dengan kedua tangan saling menelungkup di depan dada, ia terlihat membayangkan sesuatu.
"Kamu? Masakin buat mas adit?" Tanya icha tidak percaya, otak nya berusaha menolak kata kata renata, namun hatinya tidak bisa.
"Iya, aku sering buatin mas adit sarapan, karna katanya masakan ku enak. Kamu kan tau cha kalau aku jago masak. Kamu tenang aja deh. Aku akan lebih rajin melayani perut mas adit" Icha mengepalkan tangannya, apakah selama ini suaminya membohonginya, memang ia tidak pernah memberikan bekal pada suaminya, namun saat ini apalagi akhir akhir ini icha sudah belajar memasak untuk suaminya.
"Mungkin mas adit hanya menganggap kamu sebagai warung ren. Jangan ke ge er an kamu. Hahaha, ia ingin istrinya fokus melayani nya hal yang lain. Nggak masalah sih aku. Kan cuma dianggap warung" Kata icha, ia tidak mau terlihat terprovokasi oleh kata kata renata, ia ingin terlihat biasa saja dan tidak menghawatirkan apa apa.
"Oh warung ya? Warung pun bisa kok lama lama buat nyaman, aku kan warung spesial, hanya melayani mas adit seorang. jangan salah ya kamu" Renata berdiri dan segera meninggalkan ruangan itu.
Icha merasa dadanya sesak, bagaimana pun ia tidak suka suaminya dilayanin oleh orang lain terlebih renata. Ia mengusap air mata yang tiba tiba mengalir di pipinya.
"Assalamualaikum" Ucap adit yang masih mengenakan pakaian dokternya itu, ia duduk di ranjang istrinya.
__ADS_1
"Kamu tidur? Sudah aku urus semua. Pulang nya nunggu aku lepas dinas ya sayang?" Ucap adit sambil membelai rambut istrinya.
"Loh kamu nggak tidur, kenapa nggak jawab salam aku" Tanya adit dengan suara yang lembut
"Sudah jawab" Ucap icha dengan singkat, ia memunggungi suaminya.
"Kok gitu jawab nya? Aku ada salah?" Tanya adit, ia berpindah posisi untuk melihat wajah istrinya.
"Nggak tau" Jawab icha singkat. Hatinya merasa bergejolak menahan banyak pertanyaan di fikiranya, namun ia susah untuk mengungkapkan.
"Cerita cerita sini, ada apa? Aku dokter umum. Tidak bisa mendiagnosa fikiran wanita. Kamu kenapa?" Ucap adit, ia menatap istrinya.
"Nggak papa" Kata icha. Jurus andalan wanita ketika mereka sedang ada apa apa.
"Tunggu ya, aku pinjem stetoskop di nurse station dulu" Adit pergi menjauhi icha, ekor mata icha mengamati kepergian suaminya.
"Suami nggak peka" Gerutu icha, ia saat ini sedang membutuhkan penjelasan, namun kenapa suaminya justru meninggalkannya. Hal itu membuatnya semakin kesal. Ia menelungkupkan kepalanya.
Adit kemudian datang lagi membawa stetoskop. Ia duduk kembali diranjang istrinya sambil memandangnya lekat lekat.
"Yaudah yuk kita dengar" Ucap adit seraya memasangkan stetoskop di telinganya.
"Mas adit ngapan?" Tanya icha saat adit meletakkan stetoskop itu di kepalanya.
"Nggak ada suara apa apa sih disini, tunggu mungkin disebelah sini" Ucap adit, kini stetoskopnya berpindah ke hati icha.
"Nggak ada suara juga nih" Kata adit dengan wajah serius.
"Mas adit meriksa apa sih?" Tanya icha lagi.
"Ini mau dengar suara yang ada di otak kamu sama suara hati kamu. Soalnya istriku nggak mau cerita" Ucap adit. Ia meletakkan stetoskop nya.
"Istriku kenapa? Kalau aku ada salah bilang" Adit memegang kedua tangan istrinya, menatapnya dengan penuh cinta, tatapan seperti itu membuat icha meleleh, wajahnya bersemu kemerahan.
"Aa..aaku nggak suka kamu bohongi" Ucap icha lalu memalingkan wajahnya.
"Bohongi yang mana sayang?" Tanya adit, ia sambil mengingat ingat kebohongan apa yang ia perbuat.
"Kenapa kamu minta dimasakin renata? Kamu tidak menjaga perasaan ku mas" Ucap icha, adit tidak berfikir hal ini akan terungkap. Namun bagaimana lagi, ia harus menjelaskan pada istrinya.
"Heyy, tunggu. Aku minta maaf soal itu, tapi beneran aku nggak meminta dia masakin aku, kamu ingat waktu aku cerita dikasih tester temenku, yang dia mau buka catering?" Ucap adit menjelaskan.
__ADS_1
"Ohh, jadi tempat makan itu punya renata" Ucap icha sambil manggut manggut.
"Dia bilang ke aku itu tester, dan besok nya dia juga bawain ke temen2 IGD sayang" Ucap adit.
"Tapi mas adit sering dimasakij kan sama dia. Enak ya? Suka?" Ucap icha, yang dia pendam pendam akhirnya tersalurkan.
"Enggak sayang. Beneran, aku makan cuma yang kotak makan itu, besok nya aku nggak ikut makan, sama kue 1, itupun makan bareng bareng. Beneran" Kata adit menjelaskan, ia tidak mau istrinya salah paham.
"Tadi renata kesini, dia bilangnya sering buatin sarapan mas adit tuh" Kata icha lagi menolak percaya.
"Duuh yaang, renata kok dipercaya. Kamu kan tau dia itu seperti apa. Aku sudah peringatkan lo padahal. Percaya deh sama aku" Ucap adit meyakinkan istrinya
"Aku hanya percaya sama Tuhan yang maha esa. " Ucap icha dengan wajah imut nya.
"Sini sini peluk dulu" Adit memeluk istrinya lalu mencium nya
"Gini, kamu harus percaya suamimu ini tidak akan tergoda sama si ulet bulu itu. Aku janji kok nggak akan bohong lagi. Maaf ya" Kata kata adit yang sontak membuat icha tertawa.
"Ulet bulu.ha...ha" Icha tidak habis fikir kenapa suaminya menyamakan renata dengan ulat bulu.
"Ya soalnya dia gat*3l sih, jadi pengen garuk garuk kan" Adit menggaruk tangan nya.
"Apa sih mas, ha...ha" Icha tertawa. Adit kemudian mengelus rambut istrinya.
"Nah gitu kan cantik sih, dari pada cemberut. Yauda aku kerja dulu ya. Nanti aku jemput. Kita pulang. Oke" Adit mengecup kening istrinya lalu pergi ke IGD untuk bekerja kembali.
***
"Alhamdulilah sudah sampai rumah" Ucap adit, ia membantu icha keluar dari mobil dan meletakkan nya di kursi roda, awalnya ia menginginkan menggunakan tongkat kaki, namun adit belum membolehkan, sementara icha harus menggunakan kursi roda.
"Makasih ya mas" Ucap icha, adit mendorong kursi roda istrinya masuk kedalam rumah.
"Sekarang istirahat ya, oya aku sudah menyewa perawat untuk membantu mengurus keperluanmu. Besok dia akan datang" Ucap adit.
"Loh nggak usah mas, aku bisa kok" Tawar icha.
"Harus nurut sama suami, dia hanya jaga ketika aku tidak dirumah saja kok sayang, aku nggak mungkin meninggalkan mu sendiri" Ucap adit, ia memindahkan istrinya ke kasur.
"Memang nya perawat itu tidak kerja? Kok bisa atur jadwal sesuai jadwal masuknya mas adit" Tanya icha.
"Aku ambil dari klinik temen ku, sementara dia kerja disini dulu untuk mengurus kamu" Ucap adit, hatinya tersentuh melihat suaminya yang begitu perhatian itu.
__ADS_1