
"Hmmm" Jawab icha, ia tidak mau terlalu menanggapi wanita itu
"Aku sudah tidak memiliki harta yang paling berharga untuk hidupku, anakku sudah pergi. Kamu senang kan?" Renata tersenyum sinis
"Kenapa aku harus senang?" Tanya icha, ia menunduk sambil memainkan pasir dengan sepatunya. Rasanya malas sekali berbicara dengan dia.dulu renata adalah sahabat terbaiknya, bahkan ia lebih memilih bercerita dengan renata dari pada gina. Sejak SMA mereka selalu bersama hingga kuliah di tempat dan bidang yang sama, namun siapa sangka dia malah berhianat.
"Yaaa karena kamu berfikir aku mendapatkan karma" Renata mendekapkan tanganya, icha hanya tersenyum sambil menggeleng. Mungkin renata sadar dia pernah buat dosa sehimgga dia membahas tentang karma. Icha todak menjawabnya dan memilih diam
"Kamu ingat kan bagaimana aku berhasil merebut doni darimu. Lihatlah, aku akan melakukan hal yang sama. Merebut adit darimu" Ia tersenyum memberikan peringatan kepada icha. Icha memelototkan matanya memandang renata.
"Aku yakin kok mata mas adit masih sangat bagus dalam melihat, mana berlian dan mana comberan, aku nggak akan kawatir" Icha membalas dengan senyuman penuh ejekan, yang membuat renata menggenggamkan tangannya kesal
"Kurang ajar kamu, lihatlah. Aku akan mendapapatkan apa yang aku inginkan" Renata menekankan suaranya. Icha hanya tersenyum sambil manggut manggut seperti mengejek. Ia tidak mau terlihat lemah didepan renata, ia bukan icha yang lemah dan pasrah seperti dulu, sekarang icha ingin menjadi wanita yang kuat dan ia akan mempertahankan rumah tangganya sebisa mungkin
"Sayang, ayo pulang" Kata adit saat menghampiri istrinya. Icha mengangguk
Mereka masuk kedalam mobil, icha duduk di depan di samping adit sedangkan doni dan renata duduk dikursi penumpang.
"Sayang kamu kenapa?" Tanya adit sambil memegang tangan istrinya.
"Nggak ada apa apa kok mas, capek aja" Icha tersenyum memandang adit, melihat pemandangan itu renata merasa panas, ia tidak suka melihat icha bahagia seperti itu, renata memalingkan wajahnya dan memandang keluar kaca mobil adit.
Tidak sampai 10 menit mobil adit sudah berada di depan rumah doni
"Trimkasih ya dit, cha. Kalian mau mampir?" Ucap doni saat akan keluar dari mobil adit
"Enggak, kami pulang saja" Icha mengangguk membenarkan kata kata suaminya.
"Makasih ya mas adit, sudah diantar" Ucap renata, adit dan icha pun dibuat heran olehnya kenapa ia hanya berterimakasih pada adit, apakah keberadaan icha disana hanya dianggap pajangan?
"Sama sama" Kata adit, merekapun segera pulang kerumah.
Icha terlihat begitu lelah, adit melirik kearah istrinya ternyata ia sudah tertidur pulas. Merekapun sampai di rumah sekitar pukul 5 sore. Adit ragu mau membangunkan istrinya, ia nampak pulas. Namun 30 menit lagi sudah magrib akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan icha didalam mobil tentunya dengan mesin mobil yang menyala. Adit mengunci pagar rumahnya lalu ia masuk kedalan rumah untuk mandi.
Icha meregangkan tubuhnya dan ia membuka mata,
"Astagfirullah haladzim" Icha terkejud saat ia membuka mata semua terasa gelap, hanya ada pantulan cahaya dari layar monitor mobil adit, diluar mobil gelap sehingga icha tidak bisa melihat lingkungan diluar,
"Ya allah aku diculik ya" Ucapnya dengan tangan gemetar mencari ponsel nya, ia melirik kearah kursi kemudi, adit tidak ada disana.
"Mas adit kemana ya, apa dia sudah dibunuh, apa yang sedang terjadi.. Hiksss" Icha menangis, sebelumnya ia bermimpi tentang penculikan, ia dan adit diserang oleh seseorang dan mereka dibawa ke sebuah markas. Icha sampai berfikir mungkinkah yang dialami itu bukan mimpi. Dengan tangan masih bergetar dan menangis ia mencari ponselnya yang ada didalam tas. Ia sempat melihat jam diponselnya saat itu pukul 17.49. Ia segera menghubungi adit.
Adit yang selesai shalat mendengar ponselnya berdering, ia meraih ponselnya yang ditaruh diatas kasur.
"Icha" Kata adit, ia heran kenapa istrinya meneleponnya.
__ADS_1
"Halo asalamualaikum cha. Kamu kenapa?" Tanya adit sambil melipat sajadah nya
"Waalaikum salam. Mas adit dimana? Icha diculik mas. Hikksss....." Icha menangis tersedu sedu
"Apa? Kamu sekarang dimana?" Adit syok mendengar istrinya sedang diculik, ia segera berlari keluar kamar dan hendak menuju ke garasi nya untuk mengambil motor. Adit mengambil dulu kunci motor yang ada di meja ruang tengah
"Aku nggak tau mas. Semua gelap, ini seperti di ruangan sempit,tolong aku masss" Ucap icha memelas. Ia sangat ketakutan saat itu.
"Yang jelas dong cha, mana aku bisa tau dimana itu. Kamu sharelock ke aku" Ucap adit panik
"Ia mas" Kata icha dengan tangan gemetarnya. adit berfikir keras, ruangan sempit dan gelap. Gumam nya. Sebelum icha mengirimkan lokasi, adit sudah menyadari sesuatu
"Astagfirullah" Kata adit lalu menuju garasi nya. Ia menyalakan lampu.
"Mas, sudah terang mas, sepertinya penculiknya datang" Kata icha berteriak dalam telepon. Ia menundukkan kepalanya dan bersembunyi dibawah dasboard mobil adit
Adit mengelus dadanya, bisa bisanya ia lupa sudah meninggalkan istrinya di dalam mobil dan tidak menyalakan lampu.
Adit membuka pintu mobilnya. Icha pun berteriak
"Aaaa, tolong mas tolong" Kata icha yang sedang meringkuk ketakutan dibawah dasboard. Adit tersenyum melihatnya, kasihan sekali istrinya itu
"Sayang, keluarlah, kamu sudah aman. Pahlawan mu sudah datang" Ucap adit dengan yakin. Icha kemudian mendongakkan wajahnya keatas,
"Mas adit" Kata icha lirih. Ia melihat suaminya sedang mengenakan baju koko peci dan sarung. Icha bangun dari duduknya dan keluar dari mobil. Air matanya pun tidak lagi menetes. Ia memandang kesekitar. Ini adalah rumah suaminya batin nya,
"Jangan triak triak nanti tetangga pada datang, ha...ha... Haaaa" Kata adit sambil tertawa. Ia masuk kedalam rumah dengan masih tertawa.
"Tega banget sih kamu mas ninggalin aku di mobil sendirian. Nggak nyalain lampu. Nggak lucu tau" Icha mengomel sambil mengekor adit.
"Kamu tadi tidur pules banget sayang. Aku nggak tega mau bangunin kamu" Kata adit sambil meraih tangan istrinya.
"Tapi bisa kan mas nyalain lampu dulu" Protes icha.
"Iya maaf, tadi kan masih terang soalnya. Dan aku lupa kalau meninggalkanmu dimobil makanya tadi aku juga panik" Sanggah adit
"Ya allah mas, lupaa? Parah sih ini" Ucap icha. Ia berlalu meninggalkan suaminya. Icha masuk kedalam kamar
"Sayang, kamu marah?" Tanpa ditanyapun adit juga sudah tau kalau istrinya sedang marah. Padahal niat adit tadi kan agar istrinya dapat istirahat sehingga ia tidak membangunkan icha, ternyata malah saat ini istrinya marah padanya.
"Duh, serba salah banget jadi laki laki" Ucap adit lalu duduk di sofa ruang tengah.
Malam itu suasana rumah hening, icha tidak mau bicara pada suaminya, ia masih kesal. Adit merasa binggung harus berbuat apa agar istrinya mau memaafkannya. Ia pergi ke dapur lalu membuatkan icha coklat panas.
"Yang, ini kubuatin coklat panas, diminum dulu" Kata adit, ia meletakkan minuman itu di meja
__ADS_1
"Trimakasih" Kata icha tanpa menoleh kearah suaminya. Kemudian icha mengambil minuman itu.
"Enak kan? Manis? Sama kayak kamu" Ucap adit, icha menyembunyikan senyumannya agar tidak terlihat oleh suaminya.
"Maaf ya. Aku benaran nggak bermaksud. Aku lihat kamu lelap sekali boboknya. Mana tega aku bangunin kamu" Adit berbicara pelan pelan sambil mengusap kepala icha.
"Iya" Jawab icha singkat.
"Sini peluk dulu" Kata adit sambil mendekatkan badannya pada icha. Ia memeluk erat istrinya.
"Kamu cantik banget kalau lagi senyum" Kata adit lalu mencium puncak kepala istrinya
"Ooh jadi aku sekarang jelek karena nggak senyum gitu?" Tanya icha
Adit merasa ia salah lagi dalam berucap.
"Bukan sayang, kamu cantik, maksudku jauh lebih cantik kalau kamu tersenyum. Cemberut gini aja sudah cantik kok. Beneran" Icha lagi lagi tersenyum
"Akhir minggu ini gimana kalau kita shopping" Adit teringat suatu kalimat di instagram nya. Jika istrimu marah, minta maaf lah, jika masih marah, peluklah, namun jika masih marah ajaklah dia shopping.
"Shopping apa" Tanya icha sambil memainkan jari jemarinya sendiri.
"Apa saja yang kamu mau. Aku temenin kamu belanja yaa" Ucap adit kemudian.
"Waah beneran. Mau. Mas adit kan nggak pernah nggajak aku shopping." Wajahnya berbinar, icha terlihat sangat senang. Ternyata benar apa yang sudah adit baca, shopping adalah cara ampun untuk memperbaiki mood seseorang.
"Iya. Akhir pekan kita shopping ya. Aku temenin" Kata adit.
"Mas adit tadi nyium rambut aku emang nya wangi?" Tanya icha. Mereka saling berhadapan.
"Hee gimana ya ngomong nya, sebenarnya sih nggak tercium harum sih" Adit menggaruk kepalanya.
"Iya, aku kan sudah 3 hari nggak keramas" Ucap icha sambil meneguk coklat panasnya.
"Ya ampun sayang, jorok banget sih kamu. Makanya baunya sedep sedep gimana gitu. Aku tahan tahan in" Tuturnya
"Ha..ha...ha. Tadinya mau keramas, tapi keburu dikejar shalat magrib terus nggak jadi"
"Aku punya ide biar kamu keramas" Tatapan adit mulai tidak enak. Sepertinya ia punya suatu rencana.
"Ide apa?" Tanya icha sambil melirik kearah saminya yang terus menatapnya tajam dengan senyuman yang sulit diartikan.
Tatapan maut itu akhirnya bisa diprediksi oleh icha.
"Aku keramas besok saja" Ucap icha kemudian bangkit dari duduk nya, ia hendak ke kamar mandi. Namun tiba tiba adit menarik tangannya hingga ia jatuh kedalam pelukanya.
__ADS_1
..."hallo readers. Semoga hari kalian menyenangkan ya, boleh dong kasi like dan komennya biar aku makin semangat lagi"...