
Gadis tersebut turut menuju ke ruang operasi, ia terhenti ketika melihat seorang dokter ada disana, ia mondar mandir dengan wajah yang sangat cemas, apakah itu salah satu keluarga dari korban yang sudah gadis itu tabrak. Gumam gadis itu.
Ia memberanikan diri untuk menemui adit. Gadis itu bertekad akan bertanggung jawab.
"Maaf dok" Ucap gadis itu, adit menoleh kesumber suara.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" Ucap adit menatap kearah gadis tersebut, matanya sayu karena saat ini yang ada di fikiranya hanya icha
"Dokter keluarga pasien yang sedang dioperasi?" Tanya gadis tersebut, ada rasa takut dihatinya, ia takut dokter itu mengamuk dikala mengetahui bahwa ia lah yang menabrak pasien tersebut.
"Iya, saya suaminya, kamu kok,,,,," Adit menunjuk tas icha yang dibawa oleh gadis tersebut. Gadis itu sangat terkejut dan ketakutan karena saat ini ia berhadapan dengan suami dari pasien
"Sa...saya mau mengembalikan tas pasien dok" Ucap gadis itu sambil menundukkan kepalanya. Adit menatap curiga kearah gadis itu lalu mengambil tas ransel icha.
"Kenapa tas nya ada di kamu?" Tanya adit, ia mencari jawaban dari bola mata gadis tersebut yang seakan enggan untuk menatapnya
"A...anu dok. Ta,, tadi sa...saya yang tidak se...sengaja menabrak istri dokter" Ucap gadis tersebut dengan terbata bata. Ia kemudian memejamkan mata, ia sadar setelah ini ia akan menerima makian dari suami korban.
"Apaaa? Jadi kamu yang membuat istri saya kecelakaan? Kurang aj*r kamu" Plaaaaakkkk. Gadis itu sampai tersungkur jatuh, ia memegang pipinya yang kesakitan sambil berteriak.
"Aaaaaa" Ucap gadis itu.
"Kenapa kamu yang malah berteriak seolah kesakitan? Istri saya lo yang sedang operasi" Ucap adit yang membuyarkan lamunan gadis itu, ia membayangkan telah ditampar oleh adit, ternyata dugaannya salah. Adit tidak semarah apa yang telah ia bayangkan.
"Iya dok maaf, saya sangat merasa bersalah, tapi benar saya tidak sengaja, istri dokter tiba tiba ada di jalur saya. Saya tidak bisa menghindarinya" Gadis tersebut mencoba menjelaskannya pada adit kalau semua ini tidak sepenuhnya salah gadia tersebut
"Biar polisi yang memeriksa kebenaranya. Maaf saya sedang fokus dengan istri saya. Mungkin lebih baik kamu pulang" Ucap adit lalu meninggalkan gadis itu. Ia marah sebenarnya, namun dilihat ia hanyalah gadis kecil yang adit pun juga tidak tau duduk perkaranya. Ia tidak ingin menguras energinya untuk marah marah, lebih baik ia berdoa untuk keselamatan istrinya. Adit duduk diruang tunggu.
Gadis tersebut gemetaran saat adit mengucapkan kata polisi, ia sungguh tidak ingin berurusan dengan polisi, apalagi jika sampai membuatnya dipenjara, ia sangat ketakutan. Saat ini yang terbaik adalah pulang dan berbicara dengan orang tuanya.
Adit menutup matanya seraya berdoa, sudah lebih dari 2 jam ia menunggu namun dokter hendra belum juga keluar dari ruang operasi.
Adit menyadari sesuatu. Ia belum memberi kabar kepada orang tua icha. Ia kemudian mengambil ponsel di saku celananya. Ia menghubungi bapak mertuanya.
"Halo assalamualaikum adit" Ucap pak rahmat dengan antusias.
"Waalaikuk salam pak" Ucap adit, ia masih binggung bagaimana cara menyampaikan kepada mertuanya.
"Gimana gimana, ada kabar apa dit. Bapak kangen banget sama kalian. Nggak tau rasanya pengen banget ke surabaya" Ucap pak rahmat.
"Begini pak, adit mau memberikan kabar kalau icha masuk rumah sakit" Ucap adit yang membuat pak rahmat sangat terkejut.
__ADS_1
"Haaa, apa? Icha kenapa?" Ucap pak rahmat yang terlihat kawatir dari nada suaranya.
"Tadi icha jatuh dari motor pak, sekarang sudah ditangani dokter" Ucap adit, ia tidak belum mau berbicara jujur kepada mertuanya karena tidak ingin mertuanya kawatir dan mempengaruhi perjalanan nya.
"Ya allah. Baik, bapak ke surabaya ya sama ibuk. Titip icha ya dit" Ucap pak rahmat.
Operasi belum kunjung selesai, adit sangat takut sekali terjadi hal hal yang tidak di inginkan. Ia kemudian mengirim pesan kepada adik nya, bagaimanapun ia butuh saudara disamping nya. Orang tua icha juga baru datang sekitar 2-3 jam lagi.
"Ta, kalau tidak repot temani mas di rumah sakit. Mbak icha masuk rumah sakit" Adit kemudian mengirim pesan tersebut.
Beberapa saat kemudian dr. Hendra keluar dari ruang operas. Dokter hendra menemui adit yang duduk dikursi tunggu.
"dr adit" Panggil dr hendra.
"Ah iya dok. Bagaimana keadaan istriku?" Tanya adit, perasaanya sungguh campur aduk.
"Alhamdulilah operasi berjalan lancar, tinggal kita observasi ya, istrimu sangat kuat" Ucap dokter hendra.
"Alhamdulilah. Terimakasih dok" Ucap adit ia sangat bersyukur bahwa operasi istrinya berjalan lancar. Saat ini istrinya sedang berada di ruang pemulihan. Adit segera masuk kedalam sana.
"Dokter adit" Sapa perawat kamar operasi.
"Ia dok silahkan" Ucap diki.
Adit masuk dan melihat istrinya yang masih belum sadarkan diri. Ia mendekati icha lalu duduk di samping ranjang istrinya. Adit memegang tangan istrinya. Ia mencium tangan itu.
"Sayang, terimakasih sudah mau berjuang, terimakasih sudah selamat. Kamu wanitaku yang terhebat. Kamu harus lekas sembuh" Air mata adit menetes perlahan. Ia tidak suka melihat istri nya yang biasanya jail, ceria harus lemah diatas ranjang rumah sakit.
"Maafin aku karena belum baik sebagai suamimu. Kamu jelek banget kalau kayak gini, ini pertama dan terakhir ya aku lihat kamu begini" Ucap adit lirih sambil mengelus pipi istrinya. Ia memandang istrinya penuh cinta.
"Kangen banget di usilin sama kamu. Nanti kalau kamu sudah sembuh kita jalan jalan lagi ya kemanapun kamu ingin pergi." Adit mencium lama tangan istrinya.
"Ingat ya sayang, ini trakir kamu seperti ini. Awas ya kalau sampai terjadi lagi, aku strap kamu di tiang bendera" Ancam adit sambil menunjuk istrinya. Ia kembali lemas, kemudian ia memutuskan untuk keluar ruangan dan tidak berlama lama di ruang recovery.
Adit melihat ponsel nya, ternyata banyak sekali telepon dari adik nya. Dan beberapa pesan yang masuk. Ia akhirnya menghubungi adiknya.
"Halo assalamualaikum mas, mas adit dimana sih, di chat sama telp nggak ada yang dijawab" Ucap tita kesal, ia sangat kawatir dengan kakak ipar nya.
"Tita, maaf maaf. Kamu dimana?" Ucap adit, ia memijat kening nya
"Aku di lobby rumah sakit mas" Ucap tita.
__ADS_1
"Oke, mas kesana ya, tunggu" Ucap adit.
"Nggak usah, tita aja yang kesana mas. Mas adit dimana?" Tanya tita
"Mas di ruang tunggu kamar operasi" Ucap adit
"Oke tita kesana ya. Tunggu" Kata tita lalu berjalan menuju lift. Ia kemudian berhenti di lantai 5. Ia melihat adit yang sedang memainkan ponsel nya dengan raut wajah yang cemas.
"Mas adit" Panggil tita, adit kemudian berdiri dan tita langsung memeluk kakak nya itu
"Sabar ya mas, gimana kondisi mbak icha" Tanya tita, ia melepaskan pelukanya dari kakak nya
"Alhamdulilah operasinya berjalan lancar. Doakan ya semoga mbak icha cepat pulih" Ucap adit
"Pasti lah mas aku selalu mendoakan kalian. Alhamdulilah kalau operasinya berjalan lancar, insyaallah mbak icha akan lekas membaik" Ucap tita.
Mereka kemudian duduk dikursi tunggu, tita mengamati kakak nya yang saat ini terlihat berantakan.
"Mas adit sudah makan?" Tanya tita
"Belum, dari siang mas belum makan. Laper sih" Ucap adit yang tidak merasa sungkan dengan adiknya, ia kini mengelus perutnya yang terasa lapar
"Mas, hellow. Jangan kayak sinetron deh, istri sakit terus suaminya nggak makan. Mas dapat energi dari mana? Gimana bisa jagain mbak icha kalau mogok makan gitu? Nggak usah alayyy" Ceramah tita. Ia merasa kesal dengan kakak nya karena belum makan
"Apa sih ta, memang belum sempet, banyak pasien tadi, terus tiba tiba icha datang dengan kondisi seperti itu, syok dong" Kata adit.
"Inih, aku bawain makanan buat mas adit. Aku sudah bisa menebak mas adit pasti belum makan" Tita mengeluarkan bungkusan nasi untuk kakak nya.
"Waah, makasih ya adekku" Adit menerima bungkusan tersebut lalu memakan nya,
"Aku nggak bisa temenin mas lama yah, ada tugas yang harus aku selesaian malam ini soalnya mas" Tutur tita
"Iya nggak papa, kamu kesini aja aku sudah bahagia. Makasih ya dek" Ucap adit ia mengelus rambut adek nya itu.
Jam menunjukkan pukul 10 malam , seorang perawat mengabari adit bahwa icha akan dipindahkan ke ruang rawat inap karena kondisinya telah stabil, dr hendra sudah mengijinkan untuk dipindah ke rawat inap. Adit dan tita turut mengantar icha ke ruang rawat inap.
"Sampai seperti ini ya mas, semoga mbak icha lekas pulih ya" Ucap tita saat melihat kondisi kakak ipar nya yang menggunakan penyangga kepala dan kaki yang terbungkus juga lebam lebam dibanyak tempat.
"Makanya aku mau tau gimana kok bisa sampai begini" Ucap adit. Ia penasaran bagaimana bisa istrinya tertabrak seperti itu, jika memang benar yang dikatakan oleh gadis penabrak bahwa icha berganti jalur, lantas kenapa icha sampai dijalur yang tidak seharusnya.
"hai hai readers, like dan komen nya dong"
__ADS_1